Notification

×

Iklan

Iklan

Lebaran itu Permulaan, Bukan Bubaran

15 Mei 2021 | 18:54 WIB Last Updated 2021-05-24T01:24:34Z
Lebaran itu Permulaan, Bukan Bubaran

Oleh : Budi Rajobujang



Pasbana.com -- Setelah sebulan lamanya berpuasa, kaum muslimin akan tiba diHari Kemenangan. Hari Raya Idul Fitri.


Kebahagiaan dan semangat kemenangan setelah sebulan berpuasa dirasakan oleh sebagian besar umat Islam di berbagai belahan dunia. Terkecuali saudara kita di Palestina, yang sedang dirundung kemalangan akibat penjajahan Zionis Israel. 

Sejatinya, Idul Fitri atau lebaran adalah hari perayaan bagi mereka yang berpuasa. Karena arti kemenangan memang erat hubungannya dengan perjuangan berpuasa selama sebulan sebelumnya. Yang tidak berpuasa akan semu dan hambar saat menikmatinya. 


Lebaran di Indonesia ditandai dengan silaturahmi dan saling mengunjungi saudara, handai taulan, dan sahabat. 


Paling penting adalah mengunjungi orang tua, bapak, ibu, nenek, kakek, dan seterusnya. Ini yang menjadikan mudik lebaran menjadi begitu sakral dan "wajib" bagi masyarakat Indonesia. 


Sebenarnya silaturahmi dan saling mengunjungi bisa dilakukan kapan saja, namun bagi orang Indonesia, Idul Fitri adalah kesempatan terbaik.


Mudik lebaran yang sebenarnya adalah “kembali ke asal”, ke kampung halaman, “kembali ke fitrah”. Tujuan mudik sama sekali jauh di atas kepentingan material, tetapi didorong kecenderungan spiritual, yaitu hasrat berkumpul dengan sanak saudara sekaligus untuk saling memaafkan.


Ramadhan Bulan Pendidikan

Berakhirnya momen puasa Ramadhan meninggalkan banyak hikmah dan pelajaran. Namun tidak semua orang mau meraih dan mempertahankan hikmah tersebut pasca puasa.  


Puasa sebulan penuh yang begitu kaya dengan makna kerendahan hati, kesalehan sosial, dan ibadah yang meningkat. Disamping puasa di siang hari, di Bulan Puasa setiap orang tersemangati untuk beribadah dan berbuat baik. 


Banyak yang secara kesadaran diri, semangat sholat malamnya, rajin baca Al Qur'an nya, tidak ketinggalan sholat dhuha nya. Yang namanya zakat dan sedekah juga tak lupa ditunaikan. 


Benar-benar sebuah peningkatan kualitas dan kuantitas kebaikan. 


Namun semua itu akan luntur dan memudar seiring hadirnya lebaran. Sebulan penuh berpuasa tak lagi berjejak dan membekas. Dan tragisnya, ini terjadi berulang-ulang setiap tahunnya. 


Tragis juga ironis... 


Inilah pentingnya kita memperbaiki kondisi ini. Jangan sampai usia kita ini, kita habiskan untuk hal yang mubadzir seperti ini. 


Kita harus  mampu menjadi cerminan dan istiqamah. Yang mampu mempertahankan amalan dan kebaikan bagi pribadi dan karakter orang beriman di luar Ramadhan.


Namun, kenapa hal itu tidak terjadi, bahkan intensitasnya tidak mengalami penurunan? Jawabnya kembali kepada kita semua : sejauh mana kita mampu memandang ibadah kita –yang ikhlas karena Allah– memiliki dimensi kemanusiaan dan perubahan sosial.


Jangan sampai Hari Idul Fitri yang sering pula disebut lebaran menjadi hari bubaran. Bubar puasanya, bubar pula ke masjidnya, bubar juga baca Al Quran-nya, dan seterusnya. Pun apakah bubar Ramadhan berarti bubar pula ketaatannya?


Kita mau sukses? Sudah pasti. Ternyata belajar karakter yang baik erat kaitannya dengan kesuksesan. 


Para psikolog telah lama mencoba mencari benang merah antara jenis kepribadian Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) dengan kesuksesan. Hasilnya, ada beberapa karakter yang berkaitan erat dengan kesuksesan.Meski demikian, kadarnya harus optimal. 


Ramadhan Bulan Kesehatan

Seorang teman menyampaikan bahwa selama bulan Ramadhan, penyakit asam uratnya tidak pernah kambuh. Bahkan ia merasa lebih baikan badannya selama menjalani puasa . 


"Alhamdulillah, tidak terasa sakit kaki saya selama menjalankan ibadah puasa... "


Tiba lebaran, menu makanan begitu sangat menggoda. Lebaran hari pertama, belum begitu diumbar nafsu makannya. Baru di lebaran hari kedua, lepas kontrol nafsu makannya. 


"Sudah enam kali saya makan hari ini... "


Dan apa yang terjadi? Keesokan harinya, saat ia bangun dari tidur, begitu kakinya menjejakkan lantai. Rasa nyeri bak ditusuk puluhan jarum langsung mendera. 


Tak dipungkiri lagi, puasa itu menyehatkan. Pola diet berupa puasa yang dilakukan secara bergantian dari satu hari ke hari berikutnya terbukti mampu meningkatkan fungsi kognitif pada otak. Hal itu berdasarkan riset yang dilakukan National Institute of Aging, Amerika Serikat.


Puasa ternyata sudah dikaitkan dengan kondisi kesehatan organ jantung. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang berpuasa sebulan sekali memiliki risiko 58 persen lebih rendah terkena penyakit jantung. Orang yang berpuasa disebut memiliki jantung yang lebih sehat dibanding yang tidak berpuasa.


Selain itu, puasa juga disebut mampu mengurangi resistensi insulin. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko penyakit diabetes menyerang. Namun demikian, masih perlu dilakukan penelitian lebih menyeluruh terkait hal ini.


Jika diiringi dengan pola makan sehat, puasa bisa membantu menjauhkan berbagai penyakit. Rutin berpuasa dengan benar dapat membantu memperbaiki kondisi radang sendi, radang usus besar, dan penyakit kulit, seperti eksim dan psoriasis.


Nah, dengan seabreg manfaat dari puasa dan kegiatan ibadah selama Ramadhan, apakah akan bubaran semua itu saat tiba lebaran? 

Mari kita renungkan.... 


 
Image
Budi Rajobujang
Aktif dalam dunia jurnalistik, menyukai travelling, dan praktisi pengobatan herbal