Notification

×

Iklan

Iklan

Sastrawan Nusantara: Gelar Mustika Raya Nusantara

15 Mei 2021 | 21:11 WIB Last Updated 2021-05-15T14:12:04Z
Sastrawan Nusantara: Gelar Mustika Raya Nusantara



Padang Panjang -- Sastrawan Nusantara menggelar Mustika Raya Nusantara yang ditaja Persatuan Penyair Malaysia yang bekerja sama dengan persatuan atau Komunitas Seni di seluruh penjuru nusantara melalui Aplikasi Zoom Meeting (15/05/2021) di lebaran ketiga, 3 Syawal 1442 Hijriah.

Wacana Minda, Pengarah Program Mustika Raya Nusantara, mengatakan Mustika atau mestika bermaksud seseorang yang dikasihi.

Dalam konteks acara Mustika Raya Nusantara, konsep berkasih-kasihan, diterjemahkan saling merapatkan tali persaudaraan antara pegiat kesenian dalam hal ini penyair nusantara.

Pandemi yang melanda dunia tidak menjadi alasan untuk memutuskan silaturrahim.

 
" Alhamdulillah acara ini didukung oleh berbagai Komunitas Seni bukan hanya dari Malaysia tetapi juga dari Indonesia, Thailand, Singapura dan Brunai Darussalam. Terima kasih juga kepada Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang yang sering bersama Persatuan Penyair Malaysia melaksanakan acara rentas Nusantara dan dunia. Moga puisi mampu menyatukan kita dibawah rumpun cinta," paparnya.

Ihsan Ali, seorang Penyair Singapura mengatakan Mustika Raya cukup menarik. 

" Cukup memukau saya utnuk bersama-sama lagi untuk mengenali berbagai gaya berpuisi, berpantun, berdendang syair dari tokoh-tokoh sasterawan dan penyair di setiap pelosok Nusantara. Meskipun ini dilakukan melalui Zoom Meeting tetapi keakraban benar-benar seperti bersua muka, " tuturnya. 

Zulkifli Ibrahim mengatakan bahwa acara ini dapat merapatkan lagi ikatan persaudaraan antara kita, meskipun melalui maya pada hari raya Aidil Fitri yang mulia pada tahun ini.

" Disamping itu, kami di Patani dapat menyatakan kepada rakan se Nusantara bahawa walaupun kami berada di dalam Negara Thailand, namun kami tidak lupa kepada asal usul kami sebagai orang  berbangsa Melayu, " ungkap Penyair Thailand tersebut.


Sastrawan Nusantara: Gelar Mustika Raya Nusantara



Sulaiman Juned, Pendiri Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, Sumatera Barat mengatakan rekan-rekan sastrawan di Nusantara dan bahkan Dunia walau dalam kondisi pandemi tetap saja dapat melakukan silaturahmi. 

" Baik melalui baca puisi virtual atau dialog tentang menghidupi kesenian dimusim pandemi lewat Aplikasi Zoom Meeting atau media Facebook. Hal seperti ini tentu dapat mempererat silaturrahim sesama sastrawan. Sementara Mustika Raya Nusantara hendak dapat dilaksanakan setiap tahun, setiap hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha, karena ini sangat baik untuk mengeratkan persaudaraan antar bangsa-bangsa Melayu, " tutur Penyair yang juga Sutradara Teater Indonesia.

Sulaiman Juned dalam kegiatan ini membacakan puisi berjudul Idul Fitri: 

Taen  Masih Mengurung Rumah //seperti/isyarat gerimis. Hati/ 
jatuh dalam kabut pada gegap gempta kemeriahan/ 
yang renyuh ditinggal ramadhan/ 
orang-orang menanggalkan permusuhan separah apapun bentuk luka/ 
yang pernah tergores jahiti saja dengan silaturrahim/biar bulan menari/ 
atas perahu//

//: Taen belum juga  pergi dari gampong/ seperti/ isyarat  gerimis.Teguhkan/ 
jiwa berlebaran juga melawan Taen/ 
Cahaya mata harus bergembira dalam menajamkan pikir/ 
di hari nan fitri, menemui Tuhan dengan senyum  mengembang di jiwa//. 

//: berdoa agar Taen di telan laut/ seperti/ isyarat gerimis. Meletakkan/ bulan dan matahari di meja perjamuan/ 
Maafkan lahir, Maafkan batin/ dari rumah mengirimkan sayap-sayap kerinduan bersihkan salah dan khilaf//. 

//: Mari selamatkan hati agar ada tempat berbagi//. 

Itulah puisi yang yang dibacakan Ketua Jurusan Seni Teater ISI Padangpanjang tersebut.

Dato Prof. Rahman Shaari, Presiden Persatuan Penyair Malaysia mengatakan Mustika Raya Nusantara diharapkan menjadi wadah hubungan baik antara penyair Nusantara.

" Sebelum ini hubungannya karena Setiausaha Agung Penyair Wacana Minda. Hubungan antara penyair secara simbolik ialah hubungan rakyat antar Negara. Suara dan cita-cita kebersamaan antara rakyat diwakili oleh para penyair, " Paparnya (***)