Notification

×

Iklan

Iklan

Mengajar Seni: SiTuTi Kolaborasi antar Sekolah di Dumai dan Sekolah Berbasis Internasional

18 September 2021 | 21:53 WIB Last Updated 2021-09-18T17:56:09Z

Oleh: Zulkarnaen, M.Sn *)


Pasbana.com -- Penulis mengajarkan seni kepada siswa dengan cara baru, belum pernah dibuat orang. Mengajar bersama guru tamu. Penulis menyebutnya metode mengajar SiTuTi (Colaboration Teacher to Teacher). Dua orang guru diskusi pada bidangnya, seperti penulis bidang seni, diskusi mendalam tentang satu materi seni.

SiTuTi terbentuk karena tiap guru pasti ada kelemahan dan tiap guru pasti ada kelebihan. Selaku guru seni musik, penulis tidak mendalami seni rupa. Melakukan komunikasi bagaimana cara mengajarkan seni rupa kepada siswa.

Selaku guru seni budaya di Kota Dumai mendapatkan peluang baik, karena dapat berdiskusi dengan guru yang mengajar basis kurikulumnya internasional yaitu kurikulum Cambridge dari London,Inggris. Hasilnya adalah SiTuTi lewat online.

Sekolahnya di Indonesia, di Jakarta. Semua siswanya berbahasa inggris, semua yang ada disekolah itu berbahasa inggris, guru, staf dan siswa. Kurikulumnya berbasis pada bakat siswa dan pada kemampuan guru,  dengan fasilitas lengkap. Di sekolahnya ruangan mengajar seni seluas 6 kali ruangan kelas, kelas yang ada ditiap sekolah Indonesia pada umumnya. Kelengkapan belajar seni budaya di sekolah itu dipenuhi, tentu membuatnya nyaman dan memudahkan guru mengajar seni budaya.

Waktu itu, 19 Agustus 2021, penulis mengajar seni budaya di kelas 9, menggunakan googlemeet, siswa dikumpulkan melalui persiapan sehari sebelumnya. Tentu begitu karena besoknya ada guru tamu dari sekolah international bernama TzuChi dari Jakarta.
Adalah Auriga seorang guru seni budaya dari TzuChi yang memberikan materi pembelajaran, di layar HP dan di layar laptop terlihat guru muda berumur 30-an, sesekali berbahasa inggris, terutama bahan ajarnya semuanya berbahasa inggris yang kemudian diterjemahkannya dalam presentasinya.
Auriga, memperlihatkan karyanya yang luar biasa, menggabungkan seni rupa, seni tari dan seni musik. Untuk sebuah karyanya mengundang temannya dari London. Saat presentasi,  Auriga, guru berbasis internasional ini, memulai dengan pertanyaaan melalui aplikasi chating yang menarik, baru buat kalangan banyak guru di Indonesia. Dalam aplikasi itu siswa diberikan pertanyaan lalu siswa menjawab dengan memoto sesuatu di dekatnya misal di dekatnya ada pena, ada gelas, lalu di foto, sebagai apa saya.

Konsep Who Am I, merupakan konsep penciptaan karya seni, begitu selalu diajarkan Auriga kepada siswanya. Dalam pembelajaran kepada siswa SMPN Binsus ditularkan juga konsep yang sama.

Setelah konsep Who Am I, dilanjutkan dengan materi pembelajaran seni patung, menariknya selama dua jam siswa tertarik belajar dengan guru tamu yang berbasis kurikulum Internasional. Diakhir pembelajaran Auriga memberikan tugas, membuat jadi apapun dari benda di sebelah siswa. Akhirnya mengajar seni hari ini selesai.

Ada siswa SMPN Binsus Kota Dumai bilang, dia akan mendalami ilmu seni setelah tamat SMP. Begitu tanda kesukaan siswa menggunakan metode SiTuTi. Metode begini, mendatangkan guru tamu pada kelas, merupakan cara ampuh membuat kesukaan belajar bagi siswa.



*). Penulis adalah, Guru Seni Budaya SMPN Binsus Kota Dumai, Anggota Dewan Kesenian  Daerah Kota Dumai, penulis buku, dan  penulis diberbagai media online nasional.