Notification

×

Iklan

Iklan

Media dan Bahasa Daerah

31 Oktober 2021 | 11:58 WIB Last Updated 2021-10-31T04:58:07Z


Pasbana.com -- Kebulatan tekad menjadikan bahasa Indonesia sebagai pintu masuk pemersatu kemajemukan bangsa, adalah sebuah keberhasilan dari Momen Sumpah Pemuda 1928.

Disisi lain,  penggunaan bahasa daerah oleh masyarakat lokal, dari hari ke hari semakin berkurang dan terkikis dalam keseharian. 

Entahlah, fenomena ini patut disyukuri atau justru menjadi keprihatinan. 

Kekayaan akan ragamnya bahasa daerah yang ada di Indonesia adalah aset yang perlu dilestarikan. Dan kekayaan itu kini keberadaannya terancam punah. Bahasa daerah adalah corak identitas kemajemukan negeri ini. Dan itu selayaknya tetap terawat dan dilestarikan. 

Dari 300an etnis di Indonesia terdapat 749 bahasa daerah. Indonesia merupakan negara kedua di dunia dengan bahasa daerah terbanyak setelah Papua Nugini . 

Dan pasca 93 tahun Sumpah Pemuda, Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan berkembang amat pesat dan diterima dengan baik di berbagai daerah.

Satu sisi, bahasa Indonesia sukses dikuasai cukup merata oleh penduduk RI, namun di sisi lain bahasa daerah di negeri ini kini jadi terancam punah. 

Menurut ahli bahasa dari LIPI Fanny Henry Tondo, bahasa-bahasa daerah di Indonesia terancam punah akibat dari jumlah penuturnya yang terus menyusut drastis. 



Bahasa daerah dianggap tidak se-bergengsi bahasa nasional. Salah satu penyebab yang menonjol adalah transfer bahasa antargenerasi tidak maksimal. Misalnya, para orangtua yang menguasai suatu bahasa daerah memilih menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan anak-anak mereka. 

Selain dipraktikkan secara lisan dalam kehidupan sehari-hari, pelestarian bahasa daerah tampak pada produk media cetak dan karya sastra. Akan tetapi, produk-produk tersebut tak bertahan lama karena sedikit peminat dan kehabisan modal.

Tak banyak media yang bertahan menggunakan bahasa daerah dalam konten publikasinya. 

Dalam catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika, ada lima media massa berbahasa daerah yang sampai saat ini masih eksis kendati kembang kempis.Kelima media lokal itu berada di Batak, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.

Jumlah penerbitan berbahasa daerah makin menyusut karena kalah bersaing dan putusnya regenerasi pembaca tradisional mereka. 

Di Bandung tinggal satu media berbahasa Sunda yang masih eksis, yakni Mangle. Adapun di Yogyakarta ada majalah berbahasa Jawa Djaka Lodang, serta Panjebar Semangat dan Jaya Baya di Surabaya. Tiga majalah berbahasa Jawa lainnya, yakni Mekarsari di Semarang, Jawa Anyar di Solo dan Damarjati di Jakarta telah gulung tikar.

Dengan jumlah oplah dan pembaca yang terbatas dan tidak berkembang, praktis biaya operasional media pun tidak tertutupi tiap bulannya. 

Dari pengalaman sendiri, saat dicoba untuk  membuat Rubrik Berbahasa Minangkabau dengan " Cerito Lapau" ternyata jumlah page views nya pun tergolong rendah. Kalah sama berita tentang Bola, Olahraga, Hukum dan Kriminal, serta Selebriti. 

Dan saat tulisan "Cerito Lapau" ini dipublikasikan oleh penulisnya Saudara Ampera Patimarajo dalam bentuk buku cetak, menemukan hal dan kendala yang sama. Peminat dan penikmatnya tidak banyak. 

Namun demikian, ada satu pelajaran sukses dalam mengemas publikasi bahasa daerah Minangkabau yang dilakukan oleh 
Yusbir "YusDatuak Parpatiah. Melalui kanal media sosial Instagram dan YouTube, Channel Pitaruah yang diproduksi oleh Datuk Yus cukup sukses dan memiliki puluhan ribu pengikut dan Subscriber. 

Artinya penggunaan platform Audio Visual bisa mendorong penggunaan bahasa daerah dalam publikasi dan penyebaran informasi di masyarakat. 

Semoga ini mampu mendorong para konten kreator dan jurnalis untuk semakin banyak memproduksi konten dan publikasi dalam bentuk bahasa daerah. (Budi Rajobujang)