Notification

×

Iklan

Iklan

Kala Fotocopy Sepi Dimasa Pandemi

22 November 2021 | 16:14 WIB Last Updated 2021-11-22T09:14:47Z

Oleh : Regy Artamevia *) 


Pasbana | Untuk Kabar Sumbar --  Pandemi telah memberikan dampak pada berbagai sektor. Termasuk sektor ekonomi. Dampak penurunan omzet juga dirasakan oleh "Biaro FotoCopy" yang dikelola oleh Ibu Liana (37 th). 

Fotocopy yang terletak di Simpang Biaro, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam ini mengalami penurunan omset dimasa pandemi.

Hal ini dikarenakan proses belajar mengajar (PBM) dilakukan melalui  daring, terutama pelajar dan tidak banyak kebutuhan akan fotocopy, juga lainnya seperti mem-print, cetak foto, laminating, jilid, scan dan alat tulis lainnya.

Demi menaati peraturan pemerintah akan adanya prokes ,seluruh sekolah diliburkan, dan mengikuti pembelajaran secara online atau daring seperti yang sudah kita ketahui sejak maret 2020 lalu. Hal ini sangat berdampak kepada usaha yang berada di sekitar sekolah, salah satu nya yaitu fotocopy.

Sebelum pandemi, fotocopy ini banyak menerima orderan mayoritas dari guru dan murid dari SMA terdekat, karna tinggi nya kebutuhan terhadap fotocopy. Namun karena pandemi, para pengajar dan para pelajar tidak ke sekolah lagi. Fotocopy menjadi salah satu usaha yang terkena dampaknya.

Dengan dilakukan sekolah daring, para pengajar biasanya mengirimkan file materi yang sudah mudah tersimpan di gadget masing-masing siswa. Dengan begitu para siswa dapat lebih mudah lagi mengaksesnya.

“ Sepi nya pelanggan sangat terasa, pendapatan kami menurun begitu drastis sejak pandemi melanda”, ucap Dea (21 th) salah seorang pegawai fotocopy ini.

Selain itu, untuk mem-prin beberapa helai, kini mesin printer tidak jarang kita temui di banyak rumah. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab sepi nya pelanggan fotocopy, karna tidak perlu lagi jauh-jauh keluar pergi ke fotocopy.

Dampak virus corona inilah yang dirasakan oleh Ibu Liana dengan fotocopy nya. Menurutnya sebelum pandemi bisa mendapatkan omset Rp 2.000.000 atau lebih dalam seminggu, namun selama pandemi ini untuk dapat Rp 200.000 – Rp 400.000 saja sangat susah. 

Biasanya sebelum pandemi, fotocopy ini dipadati oleh pelajar maupun guru, dan warga yang mengurus berkas keperluannya. Dimana pelajar adalah target pasar utamanya.

“ Poin inspiratif yang bisa dipetik adalah kesabaran dan keyakinan, untuk tetap bertahan berharap pandemi segera berlalu dan kondisi segera normal. Jalanin, sabar, nikmatin “. Ucap Bu Liana pemilik Biaro Fotocopy ini.

Kini banyak pekerjaan yang beralih ke digital seiring penerapan kerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Sehingga belanja seperti mesin fotocopy sudah tidak relevan lagi sekarang.

“ Walalupun demikian, kegiatan online ini terbatas, jadi lambat laun akan tetap tatap muka”. Tambah Aldi (24 th )  pegawai fotocopy ini.

Begitu harapan bagi kita semua, berharap agar keadaan normal seperti dulu lagi, pandemi segera usai dan usaha bisa berjalan normal kembali.

Bu Liana mengatakan ,para pelanggan yang datang hanya segelintir, atau warga yang belakangan banyak memerlukan dokumen terkait bantuan sosial pemerintah.

Tetapi, Bu Liana memilih tetap bertahan menjalankan usahanya, meskipun belum ada waktu sekolah akan berjalan normal kembali dalam waktu dekat ini. Dan juga ke dua karyawan Bu Liana pun tetap bertahan walaupun di tengah keadaan yang seperti ini dan kesulitan pelanggan, karna mereka percaya, badai akan berlalu.

“ Semoga musibah ini bisa berlalu dengan cepat agar ekonomi normal kembali. Dan diharapkan pemerintah dapat mengatasi masalah ini.” Ucapan Bu Liana dengan penuh harapan.

Menurut Bu Liana , bukan dia saja yang mengalami dampak dari pandemi ini, tetapi para pedagang di kantin sekolah pun mengalami dampak besar pandemi. (*) 


*) Universitas Andalas