Notification

×

Iklan

Iklan

๐— ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐˜€๐˜„๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ก๐—ž๐—ฅ๐—œ

10 Januari 2022 | 11.37 WIB Last Updated 2022-01-12T02:44:25Z
Oleh : Indra Gusnady



Pasbana | Untuk Kabar Sumbar -- Hari ini 56 tahun yang lalu, mahasiswa yang tergabung dalam Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), mengadakan unjuk rasa, terkait dengan ketidakstabilan situasi politik yang berdampak pada kesulitan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Halaman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menjadi saksi bisu, untuk pertama kalinya Tritura atau tri tuntutan rakyat dikumandangkan, yaitu;
1.Bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI)
2.Bersihkan Kabinet Dwikora
3.Turunkan harga

Pada hari itu juga terjadi aksi-aksi dan pendudukan tempat-tempat strategis di Jakarta. Sementara wakil mahasiswa diterima oleh Wakil Perdana Menteri III, Chairul Saleh yang berujung pada penyerahan keputusan kepada Presiden.

Protes dan unjuk rasa ini bukan tanpa sebab. Tragedi berdarah Gerakan 30 September (G30S) 1965 menyisakan keguncangan yang tak kunjung reda lantaran pemerintahan Sukarno teramat lambat bertindak.

Dua hari setelah Trikora dikumandangkan pada 12 Januari 1966, wakil mahasiswa diundang Presiden Soekarno di lstana Bogor untuk menghadiri sidang kabinet.

Beberapa tuntutan mahasiswa dijawab dengan penurunan harga minyak sebesar 50 persen serta upaya untuk mencari jalan keluar untuk menurunkan harga barang secara keseluruhan.

Namun kemudian presiden Soekarno merasa janjinya sulit direalisasikan dan menuduh gerakan mahasiswa dimanipulasi dan ditunggangi oleh kekuatan neokolonialisme dan imperialisme.

Mahasiswa kembali bergerak agar Tritura dipenuhi dan melakukan aksi sabotase pelantikan Kabinet Baru yang memaksa para calon menteri harus mencapai istana dengan menggunakan helikopter.

Sejak 10 Januari dan 13 Januari itu, aksi-aksi mahasiswa lalu marak dan berlangsung terus menerus di kedua kota itu yang kemudian disusul oleh mahasiswa di kota-kota besar lainnya.

Dalam Buku Gerakan Mahasiswa 1966 dan 1998 (2011) yang diterbitkan Kemenparekraf, tertulis bahwa kondisi politik di Indonesia dari tahun 1960 sampai dengan 1965 diwarnai oleh konstelasi tiga kekuatan politik.

Pada masa itu tiga kekuatan besar yang berkembang berpusat pada Soekarno, ABRI (Angkatan Darat) dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketidakstabilan politik membuat kepercayaan menurunnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan.

Puncaknya adalah pada malam gerakan 30 September (G30S) dimana PKI diminta bertanggung jawab atas penculikan dan pembunuhan tujuh jenderal. 
-----

Pergerakan yang panjang dan berkesinambungan terus dilakukan oleh mahasiswa di berbagai kota untuk mendesak Pemerintah melaksanakan Tritura.

Puncaknya, pada 10 Maret 2066 berlangsung sidang Kabinet Dwikora yang disempurnakan. Sejak pagi-pagi, mahasiswa dan pelajar turun ke jalan dan sekali lagi melakukan aksi pengempesan ban mobil untuk memacetkan jalan.

Presiden Soekarno tiba pada suatu posisi psikologis dan mencapai titik nadir dalam semangat dan keberaniannya. Soekarno dengan tergesa-gesa meninggalkan istana menggunakan helikopter menuju Istana Bogor.

Pada akhirnya Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret yang memberikan tugas kepada Jenderal Soeharto selaku Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban.

Melalui surat perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) inilah yang menjadi awal bagi Soeharto mendapat wewenang untuk mengambil segala tindakan untuk menjamin keamanan, ketenangan dan stabilitas politik.
------------

Usaha para mahasiswa untuk memperbaiki kondisi politik dan memperjuangkan hak rakyat menjadi catatan sejarah bangsa. Untuk mengingat kejadian tersebut, tiap tanggal 10 Januari juga ditetapkan sebagai Hari Tritura

Dibalik rangkaian peristiwa tersebut diatas, dan beberapa peristiwa besar lainnya seperti; menjelang 17 Agustus 1945 disaat proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dikumandangkan serta peristiwa  demonstrasi mahasiswa 12 Maret 1988 sebagai cikal bakal Era reformasi, terdapat benang merah yang bisa kita tarik lurus.

Bahwa, ketika kondisi perpolitikan bangsa ini dalam kondisi 'chaos', dan disaat kondisi ekonomi masyarakat terpuruk. Maka nurani mahasiswa sebagai generasi penerus perjuangan bangsa terpanggil untuk menyelamatkan bangsa ini dalam bingkai NKRI. 

Perasaan sebagai anak bangsa yang ikut bertanggung jawab terhadap kelangsungan sebuah bangsa mengental di berbagai daerah. Mereka bergerak dengan satu tujuan yang sama.

Pertanyaannya, kenapa bisa dilakukan oleh mahasiswa?

Jawabannya sederhana, karena mahasiswa terlepas dari berbagai kepentingan politik. Sedangkan organisasi masyarakat dan organisasi sosial masyarakat lainnya terafiliasi dengan berbagai organisasi politik  yang menaunginya. Kepentingan dan jerat politik membelenggu gerak organisasi-organisasi semacam ini.

Masyarakatpun akan respek terhadap gerakan mahasiswa yang spontan dan membela kepentingan rakyat tanpa dilatarbelakangi kepentingan politik dari aktor dan organisasi politik.

Ada semacam 'the silent force' pada bangsa ini yang akan bergerak menjalankan fungsinya ketika keutuhan NKRI terancam dan itu adalah gerakan mahasiswa.

Jadi, jika ada yang meragukan integritas generasi muda dan mahasiswa dalam memahami nilai-nilai Pancasila dan keutuhan NKRI dewasa ini, maka dia perlu 'menengok' kebelakang sejarah perjalanan bangsa ini. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. (*IG)
×
Berita Terbaru Update