Notification

×

Iklan

Iklan

KLHK: Harimau Sumatra Tinggal 604 Ekor

14 Februari 2022 | 19.52 WIB Last Updated 2022-02-15T04:05:06Z


pasbana | Untuk Kabar Sumbar
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI mencatat jumlah populasi harimau sumatra yang hidup di habitat aslinya tinggal 604 ekor. Pemerintah juga terus meningkatkan upaya untuk menjaga kelestarian harimau.


Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian LHK, Wiratno menjelaskan, saat ini pihaknya mencatat populasi harimau sumatra di alam habitatnya mencapai sebanyak 604 ekor.

“Sedangkan yang ada di lembaga konservasi berjumlah 370 ekor, dan 258 diantaranya berada di lembaga konservasi di luar negeri,” katanya dalam acara seminar Masa Depan Harimau Sumatera di Universitas Andalas (Unand) Padang yang disiarkan lewat zoom meeting, Senin (14/2/2022).


Menurutnya, upaya perlindungan terhadap hewan langka menjadi penting untuk dilakukan semua pihak.


Dia berharap, mulai saat ini, satwa liar dilindungi termasuk harimau sumatra yang berada di luar kawasan konservasi dapat terlindungi seperti halnya satwa liar lainnya di dalam kawasan konservasi.


“Semangat kerja sama menjadi kunci untuk sinergi selanjutnya, penyelamatan masa depan harimau sumatra sama dengan penyelamatan masa depan hutan,” katanya.


Dijelaskannya, dalam usaha penyelamatan hewan dengan nama latin phantera tigris sumatrae itu juga seiring dengan penyelamatan hutan sebagai habitatnya.


Dalam hal ini,  ada tiga pilar konservasi penyelamatan hutan yaitu perlindungan sistem kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistem, dan pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan.


“KLHK bersama para pihak terus berupaya mencegah dan menanggulangi konflik yang terjadi antara manusia dan satwa liar. Ketika konflik terjadi, sering satwa liar menjadi korban sehingga diperlukan kesadaran masyarakat yang berada di sekitar habitat harimau,” ujarnya.


Apabila daerahnya merupakan area rawan konflik maka segera laporkan ke Balai Konservasi Daya Alam (BKSDA) terdekat agar mendapatkan arahan terkait upaya mitigasi dan penanganan konflik satwa liar.


Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik mencatat sepanjang tahun 2020 terdapat 23 konflik yang terjadi antara manusia dan harimau. Kasus terbanyak terdapat di BKSDA aceh yaitu sebanyak 8 konflik.


Pihaknya menilai upaya konservasi harimau berupa mitigasi konflik akan membantu membangun kemandirian masyarakat. Masa depan harimau berarti juga masa depan manusia generasi selanjutnya.(rilis) 


×
Berita Terbaru Update