Notification

×

Iklan

Iklan

Survei Optimisme 2022: Anak Muda Optimis Penuhi Kebutuhan Dasar, Tapi Sangat Pesimis Pada Kondisi Politik dan Hukum

11 Agustus 2022 | 15:02 WIB Last Updated 2024-06-17T14:09:44Z


pasbana -- Good News From Indonesia (GNFI) kembali merilis dan mendiskusikan “Peluncuran Hasil Survei Optimisme Generasi Muda 2022” bekerja sama dengan dengan Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), pada Rabu (10/8) secara online
Usai melalui situasi pelik akibat pandemi selama dua tahun terakhir, kini kasus positif COVID-19 kian menurun. Melihat perkembangan yang berangsur pulih dan membaik, GNFI melalui survei ini mencoba mengulik pemikiran terkini para pemuda bangsa dan pengaruh pandemi terhadap dinamika kehidupan masyarakat, khususnya dalam hal pandangan akan masa depan Indonesia di berbagai sektor kehidupan. 
Jika melihat kilas balik pada tahun sebelumnya, dalam survei yang sama, sebanyak 72 persen responden menjawab optimis dengan keadaan Indonesia di masa mendatang. Meski berada di tengah pandemi yang penuh ketidakpastian, justru ada kenaikan tingkat optimisme dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Di tengah percepatan pembangunan infrastruktur ini, untuk pertama kalinya, Indonesia menerima kepercayaan untuk memegang Presidensi Group of 20 (G20) yang akan berpengaruh pada tingkat optimisme generasi muda. 
Terlebih menurut prediksi, Indonesia pada 2030 hingga 2040 mendatang akan mengalami masa bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif lebih banyak.

Peluncuran Hasil Survei Indeks Optimisme 2022




Founder GNFI Akhyari Hananto mengutarakan, “Survei ini termasuk bagian kecil dari usaha Good News From Indonesia untuk mengetahui pendapat kawan-kawan akan hal yang sudah bagus dan hal yang perlu kita perbaiki atau tingkatkan. Kemudian, bersama dengan elemen bangsa yang lain, bergerak ke depan mengajak yang masih tertinggal dan menyambut Indonesia yang terus lebih baik di masa yang akan datang. 



Senada dengan itu, CEO GNFI Wahyu Aji sebagai moderator acara pun merasa survei ini merupakan strategi pemetaan atau mapping sehingga masyarakat Indonesia lebih memahami memahami bagian yang perlu ditingkatkan sebagai kekuatan. Lalu, jika ada hasil yang pesimis, nantinya akan mengetahui upaya yang perlu dilakukan untuk memperbaikinya.  

Turut hadir, Jenderal TNI (Purn) Dr. Moeldoko selaku Kepala Staf Kepresidenan RI, “Indonesia 2045 harus menuju ke negara maju. Jangan sampai terjebak dalam middle income trap. Jika kita masih terjebak, akan sulit melompat lagi.” 

Moeldoko selalu mengingatkan bahwa generasi muda punya ruang yang sangat luas. Entah di mana dan dari mana mereka berasal, tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam meraih mimpinya. Indonesia sebagai negara hukum harus memperlakukan sama.  

Menurut penyaji hasil survei, Kunto Adi Wibowo sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI sekaligus Peneliti Komunikasi dan Media, survei berhasil mengumpulkan 906 responden. Komposisinya terbagi atas perempuan 58,9 persen dan laki-laki 41,1 persen, dengan generasi Y (25-40 tahun) 58,4 persen dan generasi Z (17-24 tahun) 41,6 persen.  

Dari sisi demografi tertinggi pendidikan tamat SLTA sederajat (52,3 persen), pekerjaan sebagai karyawan swasta (30,7 persen), hingga socio-economic status (SES) AB dengan pendapatan di atas Rp3.000.000 (36,5 persen). 

Adapun Survei Optimisme Generasi Muda Indonesia 2022 terbagi ke dalam 5 isu utama, yakni Kebutuhan Dasar, Pendidikan dan Kebudayaan, Ekonomi dan Kesehatan, Kehidupan Sosial, serta Politik dan Hukum.


Generasi Muda Sangat Optimis pada Sektor Kebutuhan Dasar




Hasil survei mengungkapkan bahwa tingkat optimisme generasi muda yang paling tinggi berada pada sektor kebutuhan dasar, mencakup aspek pemenuhan gizi seimbang untuk diri sendiri, pasangan, dan anak serta pembelian pakaian dan rumah yang layak di masa depan. Tepatnya, 81,5 persen responden mengaku optimis, 17,7 persen netral, dan 0,9 persen pesimis.


Persentasenya sedikit berbeda dengan survei pada 2021 lalu yang justru tidak ada tingkat pesimis. Di tengah kondisi perekonomian yang belum stabil, bahkan menyebabkan harga kebutuhan pokok naik, generasi muda meyakini mampu memenuhi gizi seimbang untuk anaknya dan membeli pakaian yang layak.

Posisi kedua, sektor pendidikan dan kebudayaanyang pada tahun sebelumnya berada di posisi pertamaterdapat 77,8 persen responden optimis, 21,4 persen netral, dan 0,8 persen pesimis. 


Kemudian, sektor ekonomi dan kesehatan, sebesar 74,3 persen optimis, 24,4 persen netral, dan 1,3 persen pesimis. Sektor kehidupan sosial, 52,9 persen optimis, 44,5 persen netral, dan 2,6 persen pesimis. Terakhir, sektor politik dan hukum hanya 16,0 persen generasi muda yang optimis, 57,8 persen netral, dan 26,2 persen pesimis. 

Dari hasil tersebut, generasi muda terlihat optimis dalam 4 (empat) sektor, yakni kebutuhan dasar, pendidikan dan kebudayaan, ekonomi dan kesehatan, serta kehidupan sosial karena hasil net indeks melampaui di atas 50 persen. Namun, generasi muda cenderung pesimis pada sektor hukum dan politik. 



Menurut Indra Dwi Prasetyo selaku Co Chair Y20 Indonesia 2022, generasi muda Indonesia masih memiliki optimisme di tengah bombardir berita akan ketidakpastian global. “Saya berpikir tentang bagaimana menangkap optimisme ini. Pada akhirnya, ini adalah mesin yang siap untuk berlari kencang, entah kendala apapun di depan jalan. Teman muda di daerah pun menangkap semangat G20 yang luar biasa masif. Fokus pada penyediaan isu skill, kami percaya bahwa isu skill di masa depan harus disiapkan. Jika tidak, kita tidak bisa berlari dan beralih dari teknologi sederhana ke teknologi lebih advance.”


Rendahnya Tingkat Optimisme Generasi Muda pada Politik dan Hukum




Menurut pemaparan sebelumnya, sektor politik dan hukum masih menduduki tingkat terendah. Artinya, hanya 16,0 persen generasi muda yang optimis bahwa Indonesia mampu menegakan hukum secara tidak diskriminatif serta menerapkan sistem pemerintahan yang bersih, baik, dan transparan di masa depan. Sisanya, 57,8 persen netral dan 26,2 persen pesimis. Generasi muda cenderung pesimis pada sektor tersebut karena berdasarkan hasil net indeks, tingkat optimisme ini mengalami penurunan angka yang terbilang drastis, hanya sebesar -10,2 persen dari 28,1 persen. 


Tingginya praktek korupsi di Indonesia termasuk alasan utama penguat sektor politik dan hukum memiliki tingkat optimisme rendah daripada sektor lainnya. Namun, Hendri Satrio selaku Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI memandang, “Pada saat indeks optimisme hukum dan politik menurun, bukan berarti semuanya negatif. Mungkin saja ada keberanian melaporkan yang akhirnya menguak berbagai hal. Saat keberanian berpendapat muncul, maka akan ada gerakan perubahan yang terlihat. Itu nampaknya dibaca oleh generasi muda sebagai hal yang optimis.” 
“Kita harus melakukan penggalian data dari beberapa hal yang ada di sini, bukan hanya tentang politik dan hukum, tetapi bisa pula keberadaban di media sosial. Generasi muda kita pun menyoroti hal tersebut, sangat dibutuhkan kedewasaan dalam mengungkapkan apapun yang ada di dalam pikiran,” tandasnya.

Isu Perhatian dan Rencana Prioritas Masa Depan 

Survei pun berusaha mengulik permasalahan utama yang tengah Indonesia hadapi. Menurut pengungkapan generasi muda, jawaban teratasnya adalah kasus korupsi (19,8%),  kenaikan harga kebutuhan pokok (14,1%) serta kondisi ekonomi belum yang stabil (11,6%). 


Generasi muda pada 2022 memerhatikan 3 (tiga) isu utama, yaitu pelecehan seksual, penyebaran  berita hoax atau konten yang tidak memberikan manfaat, serta lapangan pekerjaan yang sulit. 

Menanggapi hal tersebut, Rahayu Saraswati selaku Founder dan Chairwoman Parinama Astha Foundation berusaha fokus hal positif terlebih dahulu yang akan menguatkan Indonesia sehingga tidak patah semangat. Baginya, optimisme berarti generasi muda mau melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan.


“Saat ini, isu top of mind atau paling memprihatinkan bagi generasi muda adalah pelecehan seksual. Berarti sudah banyak yang sadar. Kita sebagai aktivis telah menjalankan tugas untuk mengedukasi masyarakat tentang permasalahan kekerasan seksual di Indonesia, fenomena gunung es yang akan berdampak pada perdagangan dan eksploitasi seksual. Optimismenya, lebih banyak kasus terungkap merupakan hal baik. Masyarakat memiliki perasaan berani untuk melaporkan, tidak ada lagi ketakutan, menahan diri, dan malu,” ungkap Rahayu. 


Sementara itu, rencana prioritas pada tahun yang akan datang, generasi muda ingin sukses mendapatkan pekerjaan atau membangun karier, memiliki atau meneruskan usaha, hingga  melanjutkan atau menyelesaikan pendidikan.

Tentang Survei Optimisme 2022

Survei menggunakan metode telesurvei atau survei melalui telepon dalam rentang waktu 7 hingga 22 juli 2022 mencakup 11 kota besar di Indonesia, yakni Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Banjarmasin, dan Makassar. 
Dalam penyajian survei optimisme yang telah berjalan sejak 2008 silam ini, GNFI dan KedaiKOPI mengutamakan kredibilitas metodologi dan operasional agar memberikan data yang sahih untuk dimanfaatkan sebagai rujukan atau referensi dalam pengambilan kebijakan dalam jangka panjang. 
Lebih dari itu, harapannya hasil survei pun dapat berperan sebagai rujukan dalam pengembangan kebijakan pemerintah, perusahaan, dan lembaga masyarakat. Selain itu, mampu menginspirasi dan menghidupkan semangat optimisme terhadap Indonesia.


Tentang GNFI

Good News From Indonesia (GNFI) adalah platform media untuk berbagi informasi yang bersifat independen untuk menyebarkan semua berita positif dan kabar baik dari seluruh Indonesia. 

GNFI bersifat non-partisan dan menjunjung tinggi jurnalisme positif, guna meningkatkan optimisme dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap masa depan negeri ini. Kunjungi situs www.goodnewsfromindonesia.id, email gnfi@goodnews.id, dan media sosial kami di Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube.


Tentang KedaiKOPI

Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) adalah lembaga riset independen yang mengkaji opini publik untuk kebutuhan pengambilan keputusan dan penyusunan strategi komunikasi berlandaskan pada metode ilmiah. Lembaga survei KedaiKOPI dibentuk pada 28 Oktober 2014, dan terus berkembang hingga kini. Sejak 2014, Lembaga Survei KedaiKOPI telah melakukan berbagai riset pada berbagai bidang, mulai dari politik, ekonomi, sosial, komersial, dan kesehatan, serta dipercaya untuk turut berperan di berbagai sektor usaha. Kunjungi KedaiKOPI di kedaikopi.co dan email info@kedaikopi.co.
×
Kaba Nan Baru Update