Notification

×

Iklan

Iklan

Bukit Barisan: Ketika Tulang Punggung Sumatra Diuji

29 November 2025 | 16:25 WIB Last Updated 2025-11-29T09:25:32Z


Pasbana - Ada masa ketika Bukit Barisan bukan sekadar rangkaian pegunungan di peta; ia adalah “toren raksasa” yang membuat Sumatra hidup. 

Hutan-hutannya menahan air seperti spons alami, lereng-lerengnya menjaga ribuan sungai tetap jinak, dan hujan deras hanyalah bagian dari kisah sehari-hari yang tak perlu ditakuti.

Namun, dua dekade terakhir memberikan bab baru yang jauh lebih gelap. Cerita duka yang kini menyapu Aceh Selatan, Sibolga–Tapteng, Tapanuli Selatan, Pasaman, Padang, Padang Panjang, hingga Bengkulu bukanlah kejutan alam. 

Ini buku laporan panjang yang selama 20 tahun kita biarkan kosong… hingga hari ini halaman-halamannya dibasahi banjir bandang, lumpur, dan air mata.

Pertanyaannya sederhana:
Apakah ini bencana alam?
Atau alam sedang menagih utang yang kita cicil dengan penebangan, tambang, dan konsesi tanpa kontrol?

Jawabannya: bukti ilmiahnya terlalu telanjang untuk disangkal.

Bukit Barisan yang Terkoyak: Ketika “Mesin Air” Sumatra Mati Pelan-Pelan


Para peneliti, baik lokal maupun internasional, sudah lama memberi peringatan. Hutan pegunungan Sumatra adalah penyimpan air terbesar di Asia Tenggara. Tapi sejak awal 2000, jalur panjang Bukit Barisan berubah menjadi “koridor industri”:
  • sawit yang merangsek sampai punggung bukit,
  • HTI yang meratakan hutan primer,
  • tambang emas dan batu yang mengunyah lereng,
  • proyek panas bumi yang membuka hulu DAS,
  • jalan tambang dan perambahan yang dibiarkan tanpa pengawasan.

Akibatnya?
Kemampuan Bukit Barisan menahan dan meresapkan air merosot hingga 50–80%.
Sponnya hilang. Rumah airnya hancur. Sungai kehilangan rem.

Kalau diibaratkan tubuh, Sumatra kehilangan ginjalnya — dan kita kaget ketika tubuhnya kolaps.

Aceh – Sibolga – Tapteng – Tapsel: Ketika Hulu Gundul, Hilir Tenggelam


Di kawasan curam Aceh Barat, Nagan Raya, hingga Gayo Lues, hilangnya tutupan hutan membuat sungai-sungai pendek menjadi amukan seketika.

Dua jam hujan cukup untuk membuat aliran kecil berubah menjadi palu godam air yang menghantam pemukiman.

Pola ini persis diulang di Tapteng, Sibolga, hingga Tapsel. Hulu yang gundul adalah “mesin bencana instan”.

Tak perlu teori rumit: kalau bukitnya botak, kampungnya basah—dengan cara yang mematikan.

Sumatera Barat: Negeri Seribu Sungai Gunung yang Kini Tak Terkendali


Sumbar mungkin salah satu contoh paling tragis. Penelitian hidrologi terbaru menunjukkan:
  • run-off meningkat 3–6 kali lipat,
  • sedimentasi sungai makin parah,
  • resapan air nyaris tak ada.

Itulah mengapa Padang, Agam, Bukittinggi, Tanah Datar, Padang Panjang hingga Padang Pariaman seperti langganan bencana. Air turun dari hulu dengan kecepatan yang tak lagi bisa ditahan. Sungai-sungai yang dulu ramah kini berubah menjadi jalur ekspres air bah.

Bengkulu: Lereng Runtuh, Kota Tanpa Napas


Bengkulu berdiri di antara gunung dan laut—posisi ideal untuk panorama, buruk untuk tata air yang porak-poranda.

Tambang menggerus hulu. Kebun besar menggantikan rimba. Curah hujan ekstrem datang tanpa jeda.

Ketika air datang dari pegunungan, kota pesisir ini tak punya ruang retensi, tak punya kantong limpahan.

Akhirnya, air memilih jalannya sendiri: masuk ke jalan raya, rumah, masjid, sekolah — seakan ingin berkata, “Kalau ruang aku hilang, ruangmu aku pinjam.”

Perubahan Iklim: Badai yang Mempercepat Keruntuhan


Data BMKG dan jaringan ilmiah global menunjukkan hujan ekstrem kini lebih sering, lebih pendek, tapi jauh lebih brutal.

Di hutan utuh, air ini bisa ditangkap.
Di Bukit Barisan yang terkoyak?
Ia turun seperti gempa air.
Ini kombinasi berbahaya: iklim memukul gas, kita memotong rem.

Akar Masalah: Negara Absen, Konsesi Hadir Berlapis-lapis


Mari bicara terus terang.
Kerusakan ini bukan “takdir”.
Ini hasil dari 20 tahun kebijakan yang membiarkan konsesi besar merambah hulu DAS:
  • penegakan hukum yang lemah,
  • pembangunan jalan tanpa studi geologi,
  • perizinan yang tak melihat kondisi lokal,
  • hilangnya kapasitas daerah menjaga pegunungan.
Ringkasnya:
yang jebol bukan gunungnya; tata kelolanya.

Konsekuensi Nyata: Kita Menghadapi Krisis Hidrologis Skala Pulau


Dari Aceh hingga Bengkulu, gejalanya kini sama persis:
  • Sungai kecil berubah jadi monster dalam menit.
  • Lereng runtuh tanpa aba-aba.
  • Kota pesisir tenggelam lumpur.
  • Infrastruktur putus.
  • Warga terjebak dalam sistem alam yang kehilangan fungsi dasarnya.
  • Ini bukan bencana lokal.
Ini krisis tata air satu pulau, dan kita hidup di dalamnya. 

Saatnya Mengakui Luka, Sebelum Sumatra Masuk Era Bencana Permanen


Bukit Barisan bukan sekadar gunung. Ia adalah urat nadi air pulau ini.
Dan selama 20 tahun, nadi itu kita potong perlahan dengan tangan kita sendiri — melalui konsesi, pembiaran, dan arogansi pembangunan.

Banjir bandang yang merata dari Aceh hingga Bengkulu bukan bencana alam.
Ini bencana tata kelola.
Bencana perizinan.
Bencana ketidakpedulian.

Jika hulu DAS tidak direstorasi total, jika hutan pegunungan tidak dilindungi tanpa kompromi, Sumatra akan memasuki masa “bencana tanpa musim”.

Air akan turun kapan saja, dari mana saja, dengan cara apa saja.
Dan kita hanya akan bisa bertanya-tanya:
Kapan giliran kota kita?
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update