Notification

×

Iklan

Iklan

Galodo dan Kita yang Terlalu Sering Lupa pada Bukit

28 November 2025 | 10:20 WIB Last Updated 2025-11-28T03:20:59Z



Pasbana - Di banyak kampung di Sumatera Barat, orang tua dulu punya nasihat sederhana bila hujan turun lebat-lebatnya: Awak hati-hati jo galodo.” 

Mereka memang tak memakai istilah teknis, tak bicara soal debit air atau tekanan hidrolik. Tapi mereka tahu, banjir bandang tidak pernah terjadi tanpa tanda-tanda. Selalu ada yang jebol, rusak, atau diabaikan jauh sebelum air mengamuk.

Galodo, pada dasarnya, bukan sekadar hujan yang berlebihan. Ia adalah hasil dari akumulasi kelalaian

Kadang berasal dari bendungan buatan yang tak rutin diperiksa. Kadang dari bendungan yang bahkan tak kita sadari keberadaannya—yang terbentuk diam-diam oleh tumpukan dahan, batang kayu lapuk, sisa-sisa tebangan yang lupa dibersihkan, tertumpuk di lekukan bukit seperti jebakan yang menunggu momentum.

Air yang menggenang perlahan itu sejenis telaga kecil yang tampak tak berbahaya.

Sampai suatu hari, ketika beratnya tak mampu lagi ditahan oleh “bendungan alam” yang rapuh, ia menyerah. Lalu yang turun bukan lagi air hujan, melainkan massa air yang meluncur bebas oleh gravitasi—menghantam apa saja, siapa saja, di bawahnya. Selebihnya, kita menyebutnya bencana.

Masalahnya, bencana sering kita perlakukan seperti peristiwa tiba-tiba, seolah galodo punya jadwal rahasia sendiri untuk membuat kejutan. 

Padahal yang luput kita lihat adalah proses panjang yang sering dimulai dari satu kebiasaan buruk: membiarkan bukit kehilangan hijaunya.

Bukit yang gundul adalah bukit yang sedang sakit. Hulu sungai yang tak terjaga adalah undangan terbuka bagi malapetaka.

Sementara bendungan—baik yang dibuat dengan rekayasa sipil atau yang “dibuat” secara tidak sengaja oleh semak dan sampah kayu—adalah struktur yang menuntut perhatian. Mengabaikannya sama saja dengan menabung risiko.

Mitigasi sebenarnya tidak rumit. Pemeriksaan berkala pada bendungan buatan. Pemantauan kontur dan hulu sungai, memastikan tak ada tumpukan yang berubah menjadi penahan air tak resmi. 

Dan yang paling penting: memulihkan dan menjaga kehijauan bukit. Pepohonan adalah pagar hidup yang menahan air agar tetap menjadi sahabat, bukan musuh.

Di era ketika kita semakin lihai membaca statistik bencana, mungkin kita justru perlu kembali pada kebijaksanaan lama: menjaga alam sebelum ia menagih balas. 

Galodo bukan sekadar fenomena alam—ia adalah pengingat keras bahwa kita terlalu sering lupa pada bukit, hulu, dan akar-akar pohon yang semestinya kita jaga.

Karena, seperti kata orang tua dulu, “air itu jinak hanya bila kita bersahabat dengannya.” Dan persahabatan, sebagaimana kita tahu, butuh dirawat.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update