Pasbana - Pernah menasihati anak agar tidak mudah marah, tapi tanpa sadar kita sendiri meninggikan suara? Atau meminta anak jujur, sementara mereka melihat orang dewasa “berkompromi” dengan kebenaran demi alasan praktis?
Di situlah letak persoalannya.
Anak-anak bukan hanya pendengar yang baik. Mereka adalah pengamat ulung. Apa yang mereka lihat setiap hari—di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar—lebih cepat membekas ketimbang nasihat panjang yang diulang-ulang.
Anak Belajar dari Apa yang Dilihat
Dalam dunia psikologi perkembangan, hal ini bukan sekadar asumsi. Teori social learning yang diperkenalkan oleh Albert Bandura menjelaskan bahwa anak belajar terutama melalui observasi dan peniruan.
Mereka mencontoh perilaku figur yang dianggap penting: orang tua, guru, atau orang dewasa di sekitarnya.
Artinya sederhana:
👉 Cara kita bersikap adalah pelajaran hidup bagi anak.
Nada bicara saat menghadapi masalah, cara merespons emosi, hingga bagaimana menyelesaikan konflik—semuanya direkam tanpa tombol pause.
Nasihat Perlu, Tapi Teladan Lebih Bicara
Nasihat tetap penting. Namun tanpa contoh nyata, kata-kata mudah kehilangan makna. Anak akan lebih percaya pada apa yang mereka lihat ketimbang apa yang mereka dengar.
Hal ini sejalan dengan pandangan American Psychological Association yang menekankan bahwa perilaku orang tua berperan besar dalam membentuk regulasi emosi dan keterampilan sosial anak.
Anak yang tumbuh dengan contoh pengelolaan emosi yang sehat cenderung lebih mampu menghadapi tekanan dan konflik saat dewasa.
Singkatnya:
🧩 Anak meniru cara, bukan hanya pesan.
Koneksi Emosional: Jembatan Nilai dan Karakter
Teladan akan bekerja lebih kuat jika disertai hubungan emosional yang hangat. Anak yang merasa aman secara emosional lebih terbuka menyerap nilai, bukan karena takut, tetapi karena percaya.
World Health Organization dalam berbagai publikasinya menekankan pentingnya nurturing care—pola pengasuhan yang responsif, penuh kelekatan, dan konsisten—untuk mendukung kesehatan mental dan perkembangan karakter anak.
Pelukan, perhatian, mendengar tanpa menghakimi—hal-hal sederhana ini ternyata fondasi besar bagi pembentukan perilaku positif.
Konsistensi: Pelajaran yang Diam-diam Kuat
Anak juga belajar dari konsistensi. Ketika aturan berubah-ubah atau emosi orang dewasa tak terkelola, anak belajar satu hal: ketidakpastian.
Sebaliknya, konsistensi sikap dan kontrol emosi mengajarkan anak bahwa masalah bisa dihadapi dengan tenang dan rasional. Ini bukan pelajaran instan, tetapi bekal jangka panjang menghadapi kehidupan nyata.
Pendidikan Sejati Dimulai dari Rumah
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya urusan sekolah atau buku pelajaran. Ia hidup dalam kebiasaan sehari-hari:
cara kita berbicara, meminta maaf, bersikap adil, dan memperlakukan orang lain.
Anak mungkin lupa apa yang kita ucapkan, tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita bertindak.
Karena itu, jika ingin anak tumbuh dengan karakter kuat, langkah pertamanya bukan memperbanyak nasihat—melainkan memperbaiki teladan.
Sebab, tanpa kita sadari,
apa yang kita lakukan hari ini sedang membentuk siapa mereka di masa depan.
(*)




