Pasbana - Di dunia saham dan investasi, ada satu istilah yang sering terdengar pintar, terdengar aman, bahkan terdengar “kelas atas”: circle of competence. Prinsip ini kerap dijadikan tameng saat investor menolak suatu saham atau sektor.
“Wah, itu di luar circle of competence saya.”
Kalimatnya halus. Nadanya bijak. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah ini benar-benar batasan diri yang sehat, atau justru alasan halus untuk berhenti belajar?
Artikel ini akan mengajak Anda melihat circle of competence dari sudut yang lebih jujur dan relevan dengan kondisi pasar saat ini—tanpa jargon rumit, tanpa menggurui, tapi tetap berbasis data dan pengalaman nyata.
Apa Itu Circle of Competence? (Versi Sederhana)
Circle of competence adalah wilayah pemahaman kita. Area di mana kita benar-benar mengerti bagaimana sebuah bisnis menghasilkan uang, menghadapi risiko, dan bertumbuh.
Konsep ini dipopulerkan oleh dua legenda investasi dunia: Warren Buffett dan Charlie Munger.
Pesan dasarnya sederhana:
Jangan berinvestasi pada sesuatu yang tidak kamu pahami.
Tujuannya mulia: menghindari kesalahan fatal akibat ketidaktahuan.
Masalah muncul ketika prinsip ini berubah fungsi.
Dari Filter Bijak Menjadi Rem Kemajuan
Awalnya, circle of competence adalah pagar pengaman.
Namun dalam praktik, ia sering berubah menjadi tembok pembatas mental.
Coba jujur pada diri sendiri.
Pernahkah Anda:
Malas membaca laporan tahunan perusahaan baru?
Enggan mempelajari model bisnis sektor yang sedang naik daun?
Menolak saham tertentu hanya karena “belum familiar”?
Kalau iya, bisa jadi masalahnya bukan di circle of competence, tapi di kemauan belajar.
Padahal, Buffett dan Munger tidak pernah mengajarkan untuk berhenti belajar. Justru sebaliknya. Mereka menggunakan lingkaran itu sebagai alarm risiko, bukan tombol “skip”.
Lingkaran Itu Harus Meluas, Bukan Membeku
Bayangkan circle of competence seperti lingkaran cahaya senter di ruangan gelap.
Semakin banyak kita belajar, cahayanya makin lebar.
Kalau kita berhenti belajar, cahayanya tetap segitu-gitu saja.
Kalau 1–2 tahun lalu Anda hanya paham perbankan atau consumer goods, itu wajar.
Tapi jika hari ini masih memakai alasan yang sama tanpa upaya memperluas wawasan, itu bukan kehati-hatian.
Itu stagnasi.
Data pasar menunjukkan satu hal penting:
pemenang pasar selalu berganti dari dekade ke dekade.
Dulu sektor komoditas dominan
Lalu perbankan dan consumer
Kini teknologi, energi terbarukan, dan kesehatan mulai mencuri panggung
Kalau kita terus bertahan di sektor lama karena “itu saja yang dipahami”, peluang masa depan bisa lewat begitu saja.
Paradoks Investasi: Risiko Justru Datang dari Zona Nyaman
Ini bagian yang sering luput disadari.
Ironisnya, kerugian besar justru sering terjadi di dalam circle of competence.
Kenapa?
Karena:
Terlalu percaya diri
Terlalu nyaman
Jarang mempertanyakan asumsi lama
Sebaliknya, saat masuk wilayah baru, kita biasanya:
Lebih banyak bertanya
Lebih hati-hati
Lebih rajin belajar
Lebih banyak bertanya
Lebih hati-hati
Lebih rajin belajar
Masalahnya, banyak investor menghindari fase “menjadi pemula lagi” karena ego. Padahal, semua investor hebat pernah berada di fase itu.
Sekarang Bukan Zaman Alasan Kekurangan Informasi
Dulu, belajar sektor baru memang sulit.
Sekarang? Hampir tidak ada alasan.
Hari ini kita punya:
Laporan keuangan terbuka
Media ekonomi dan pasar modal
Podcast, YouTube, forum saham
Diskusi investor ritel yang aktif
Maka kalimat ini perlu dibedakan dengan jelas:
“Saya belum paham”
vs
“Saya tidak mau paham”
Yang pertama jujur.
Yang kedua berbahaya.
Cara Sehat Menggunakan Circle of Competence
Agar prinsip ini tetap relevan dan produktif, gunakan dengan cara berikut:
1. Jadikan Filter Awal, Bukan Penolakan Buta
Gunakan untuk menyaring risiko awal, bukan langsung menutup pintu.
2. Jadikan Alarm Risiko, Bukan Alasan Pasif
Kalau belum paham, itu sinyal untuk belajar—bukan berhenti.
3. Jadikan Peta Diri, Bukan Mental Block
Kenali batas hari ini, lalu rancang perluasannya besok.
4. Luaskan Secara Bertahap
Tidak perlu lompat jauh. Pelajari satu sektor baru, satu model bisnis baru, satu laporan keuangan baru.
Dalam investasi, mengakui “saya belum paham” memang tidak nyaman.
Namun jauh lebih berbahaya jika kita terlalu cepat merasa cukup.
Circle of competence bukan fosil.
Ia harus hidup, bergerak, dan berkembang—seiring perubahan zaman dan pasar.
Kalau tidak, kita bukan sedang berhati-hati.
Kita sedang tertinggal.
(*)




