Notification

×

Iklan

Iklan

Danantara Mulai “Gas Pol” Investasi: Dari Sampah Jadi Energi, Ayam, Hingga Kampung Haji

26 Januari 2026 | 11:48 WIB Last Updated 2026-01-26T04:48:35Z


Jakarta, pasbana - Tahun 2026 tampaknya bakal menjadi titik mulai “kerja nyata” Danantara. Setelah lama disiapkan di balik layar, sovereign wealth fund Indonesia ini akhirnya turun ke lapangan dengan dana jumbo. 

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa lembaganya telah memasuki fase penyaluran investasi dengan nilai mencapai sekitar US$12 miliar atau Rp202 triliun.
Uangnya ke mana saja? Jawabannya: ke sektor-sektor yang dekat dengan hajat hidup orang banyak—dan juga masa depan ekonomi.

Salah satu proyek yang paling “membumi” adalah waste-to-energy. Danantara akan mengumumkan pemenang lelang tahap pertama pada pertengahan Februari 2026, lalu dilanjutkan groundbreaking akhir Maret. Empat kota menjadi pembuka: Bogor, Bekasi, Denpasar, dan Yogyakarta.

Setiap fasilitas diperkirakan menelan biaya Rp2,5–3 triliun. Sampah, yang selama ini dianggap masalah, didorong naik kelas menjadi sumber energi.

Di sektor industri, Danantara menyiapkan dukungan pendanaan sekitar US$6 miliar (Rp101 triliun) untuk membentuk BUMN baru di bidang tekstil. Tujuannya jelas: memberi napas bagi industri padat karya yang tertekan tarif global dan persaingan ketat. 

Sementara di sektor pangan, dana US$1,2 miliar (Rp20 triliun) akan digelontorkan untuk membangun 12 pabrik peternakan ayam terintegrasi. Targetnya bukan sekadar produksi, tapi juga meredam fluktuasi harga day old chick (DOC) yang kerap bikin harga ayam dan telur melonjak.

Langkah unik lainnya adalah Program Kampung Haji. Danantara telah mengakuisisi hotel Novotel berkapasitas 1.461 kamar serta lahan 4,4 hektare di Thakher City, Mekkah. Kawasan ini akan dikembangkan menjadi hotel, ritel, dan fasilitas pendukung bagi jemaah haji dan umrah Indonesia. Total nilai investasi—dari pembelian aset hingga pembangunan lanjutan—diperkirakan menembus puluhan triliun rupiah.

Tak ketinggalan, proyek hilirisasi senilai sekitar US$6 miliar juga disiapkan, mulai dari smelter aluminium, bioavtur, bioetanol, hingga pengolahan kelapa terintegrasi. Semua diarahkan untuk menaikkan nilai tambah sumber daya dalam negeri.

Di sisi tata kelola, Danantara juga menggeber restrukturisasi BUMN, memangkas jumlah entitas dari sekitar 1.000 menjadi 200 perusahaan. Fokusnya bergeser: bukan lagi sekadar menyelamatkan BUMN, melainkan menciptakan nilai.

Optimisme pun menguat. Bank Dunia telah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 ke sekitar 5 persen. Pemerintah percaya, masuknya Danantara sebagai mitra investasi akan membuat investor—asing maupun domestik—lebih percaya diri. Singkatnya, Danantara tak hanya membawa uang, tapi juga sinyal: mesin investasi negara mulai dinyalakan.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update