![]() |
| Dinda Denura (kanan) bersama sang kakak Wulan Denura (kiri) saat hadir pada stand di Taman Batang Agam setiap hari libur. |
Payakumbuh, pasbana - Ketika fajar masih berupa garis tipis di ufuk Timur dan embun menyelimuti Kota Payakumbuh, suara mesin motor Scoopy milik Dinda Denura sudah memecah keheningan. Di saat sarjana muda lainnya mungkin masih terlelap atau sibuk memoles surat lamaran kerja, alumnus Tata Boga Universitas Negeri Padang angkatan 2022 ini sudah berada di jalanan. Ia menembus dingin demi sebuah mimpi yang dibangun dengan peluh, kerja keras, dan kekuatan doa.
Bagi Dinda, ijazah bukan sekadar kertas tanda lulus yang dipajang di dinding. Ia menganggapnya sebagai senjata untuk bertarung di dunia nyata. Lewat bendera Buter Milk, ia tidak sekadar menjual kue melainkan sedang memindahkan standar kuliner kelas atas ke jantung Kota Payakumbuh.
Namun di balik aroma wangi Brownies Burnt Cheese Cake yang kini tengah hits dan menggoda selera, ada rahasia yang menggetarkan hati. Kepada media ini, Sabtu (24/1/2026) di Payakumbuh, Dinda mengungkapkan bahwa setiap keberhasilan yang ia raih berakar dari sujud yang panjang di setiap sepertiga malam.
"Menjalankan usaha ini tidak cukup dengan skill. Di ujung sajadah, saya selalu menitipkan doa untuk Ibu yang telah tiada 15 tahun silam. Saya ingin beliau tahu di surga sana, bahwa putrinya sedang berjuang," ucap Dinda dengan suara yang sedikit bergetar namun penuh ketegaran.
Restu langit dan dukungan keluarga menjadi energi utama Dinda. Ia mengakui Buter Milk berdiri tegak karena sinergi luar biasa dari ketiga kakak kandungnya yaitu Wulan, Bayu, dan Aditya Denura. Bagi Dinda, mereka adalah napas yang membuatnya tetap optimis meski tantangan menghadang.
Dinda bukanlah tipe pengusaha yang takut tangannya kotor. Kedisiplinannya dimulai sejak usai salat Subuh. Sebelum matahari benar-benar terbit, ia sudah berjibaku dengan adonan di toko. Filosofinya sederhana yaitu "Tancap Gas". Ia enggan menunggu peluang datang mengetuk pintu. Jika pelanggan tidak datang ke gerai utamanya di Jalan Soedirman, Koto nan Gadang, maka Dinda yang akan mendatangi mereka.
Itulah mengapa setiap akhir pekan dan Car Free Day, sosoknya selalu hadir di Taman Batang Agam. Semangat pantang menyerah ini juga ia bawa ke ranah organisasi IPEMI (Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia) Kota Payakumbuh. Melalui wadah ini, ia terus mengasah jiwa kewirausahaannya sekaligus menjalin silaturahmi dengan sesama pengusaha muslimah. Selain itu, Dinda juga sangat aktif meramaikan serta mengisi berbagai stand pada bazar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai upaya untuk terus memperkenalkan produknya.
"Kami menjemput bola. Bergabung di IPEMI dan aktif di bazar-bazar adalah cara kami menjajakan kebahagiaan bagi warga sekaligus memperluas jaringan," ulasnya sembari melayani pelanggan dengan senyum ramah.
Setiap menu di Buter Milk adalah cerminan dedikasi Dinda selama di meja kuliah. Kualitasnya pun dipastikan bukan "kaleng-kaleng". Publik Payakumbuh kini dimanjakan dengan berbagai pilihan premium seperti Brownies Burnt Cheese Cake yang menjadi produk andalan, Chocolate Almond Babka, Tiramisu Cake, hingga Bento Cake yang cantik. Selain itu tersedia juga pilihan klasik seperti Fudgy Brownies, Banana Strudel krispi, dan donat kentang lembut.
Untuk area Car Free Day, Dinda juga menyediakan camilan merakyat seperti keripik kentang, serundeng, dan buah potong segar dengan harga sepuluh ribu rupiah per cup. Bagi warga Payakumbuh yang ingin mencicipi hasil perjuangan dan ketulusan rasa dari Buter Milk dapat mengunjungi gerai utama di Jalan Soedirman, Koto nan Gadang, Payakumbuh Utara atau mengunjungi pop-up stand di Taman Batang Agam setiap hari libur.
Informasi lebih lanjut juga dapat dilihat melalui akun media sosial Facebook Dinda Denura serta Instagram @buttermilk.cakery. Kisah Dinda adalah pengingat bahwa di balik kesuksesan yang terlihat manis, selalu ada doa-doa yang melangit dan usaha yang membumi. (BD)





