Pasbana - Harga logam mulia emas kembali mencetak sejarah di pasar spot pada Senin, 26 Januari 2026, saat harganya sempat melesat sekitar **+2,5% ke level tertinggi sepanjang masa di kisaran ±US$5.111 per ounce sebelum sedikit merosot ke sekitar US$5.080/oz pada sesi penutupan.
Lonjakan ini membuat emas menjadi sorotan utama pelaku pasar global, setelah sebelumnya sejak awal tahun harganya naik lebih dari +17% Year-to-Date (YTD).
Kenapa Emas Bisa “Melejit”?
Kenaikan harga emas bukan sekadar angka — ini refleksi suasana hati pasar yang dikuasai oleh fear trade atau pertaruhan terhadap ketidakpastian ekonomi dan politik. Emas dikenal sebagai aset safe haven, yang artinya investor akan “lari ke emas” kala instrumen lain terasa terlalu berisiko.Beberapa faktor yang memicu lonjakan ini:
- Geopolitik dan kebijakan kontroversial AS: Pernyataan Presiden Donald Trump yang menimbulkan gelombang kekhawatiran—mulai dari ancaman terhadap independensi Federal Reserve (The Fed), potensi tarif tinggi terhadap sekutu seperti Kanada, hingga ketegangan dengan Iran—membuat investor semakin was-was terhadap stabilitas ekonomi global.
-Dolar AS melemah di tengah sentimen negatif, sehingga daya tarik emas sebagai store of value semakin tinggi dibandingkan aset berbasis dolar seperti obligasi pemerintah.
-Ekspektasi kebijakan moneter: Pasar kini menunggu keputusan Trump soal calon ketua The Fed menggantikan Jerome Powell. Jika sosok yang terpilih cenderung mendukung penurunan suku bunga, itu bisa membuat imbal hasil obligasi makin rendah dan emas pun terlihat lebih menarik. (Suku bunga rendah cenderung menguntungkan emas karena biaya peluang kepemilikan emas—yang tidak memberi bunga—menjadi lebih rendah.)
Apa Kata Para Analis?
Respon pasar tak berhenti pada harga spot hari ini. Bank investasi besar seperti Goldman Sachs bahkan telah menaikkan target harga emas untuk akhir 2026 menjadi US$5.400/oz dari sebelumnya US$4.900/oz, dengan alasan permintaan kuat dari sektor swasta dan pembelian oleh bank sentral di berbagai negara.
Intinya, emas kini bukan lagi sekadar lindung nilai tradisional — kenaikannya didukung oleh perpaduan kuat antara geopolitik global, kebijakan moneter, dan perilaku diversifikasi investor modern.
Singkatnya: di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, emas kembali menjadi bintang pasar — bukan karena tren semata, tetapi karena banyak pemain pasar memilih keamanan di atas risiko.
(*)




