Pasbana - Pasar saham sempat bergejolak, harga banyak emiten terkoreksi, dan hanya investor yang sudah siap—baik secara dana maupun mental—yang bisa melihatnya sebagai peluang, bukan ancaman.
Bagi mereka yang memegang kas sejak akhir tahun lalu, koreksi ini terasa seperti diskon musiman.
Tapi bagi investor yang masuk tanpa pemahaman, apalagi sekadar ikut kata orang, penurunan harga justru bisa berubah menjadi mimpi buruk: tangan gatal, pikiran kalut, dan tidur tak nyenyak.
Dari sini muncul pertanyaan klasik tapi penting:
Bolehkah sebenarnya “mencontek” dalam berinvestasi saham?
Artikel ini akan membahasnya secara jujur dan praktis—tanpa jargon ribet—agar investor ritel bisa belajar dengan lebih tenang dan rasional.
Mencontek Gaya Investasi: Mencari Build yang Paling Cocok
Bayangkan investasi saham seperti bermain gim Dark Souls.
Di awal permainan, kita harus memilih gaya bertarung: strength, dexterity, atau magic build. Tidak ada yang mutlak paling benar. Semua punya kelebihan dan kekurangan, tergantung situasi dan cara bermain.
Pasar modal pun demikian.
Ada value investing (berbasis PER dan PBV), value + growth, momentum trading, scalping, hingga berbagai pendekatan “new era investing”. Semua sah, semua bisa menghasilkan, dan semua bisa gagal jika tidak cocok dengan karakter pemainnya.
Di sinilah “mencontek” sering dimulai. Investor pemula biasanya meniru gaya mentor, influencer, atau investor senior. Dan itu tidak salah.
Yang menjadi masalah adalah jika proses meniru itu berhenti di sana—tanpa pemahaman.
Seiring waktu, investor yang serius akan menemukan style sendiri:
bukan yang paling hebat di atas kertas, tapi yang paling nyaman dijalani dalam kondisi pasar naik maupun turun.
Kuncinya bukan keluar dari comfort zone, tapi memperluasnya.
Mencontek Stock Pick: Saham Sama, Alasan Bisa Berbeda
Di pasar seperti IHSG, yang jumlah saham likuidnya relatif terbatas, wajar jika nama-nama saham yang dibahas itu-itu saja. Ambil contoh saham seperti ADES, BTPS, TSPC, ULTJ, atau WINS—nama-nama yang sering muncul di diskusi komunitas dan analisis investor.
Namun satu hal yang sering luput disadari:
memegang saham yang sama tidak berarti memiliki alasan yang sama.
Contoh konkret adalah ADES.
Ada investor yang membelinya saat harga masih di bawah Rp2.000 karena bertaruh pada turnaround. Ada pula yang tetap menambah di kisaran Rp15.000 karena melihat perubahan cerita bisnis—dari perusahaan yang diragukan, menjadi fast grower dengan valuasi relatif murah (PEG sekitar 0,6x).
Artinya, waktu masuk dan sudut pandang analisis sangat menentukan.
Di dunia saham, klaim “yang pertama membahas” sering kali tidak relevan. Prospektus IPO, laporan riset sekuritas, hingga diskusi komunitas—semuanya sudah ada sejak lama. Yang membedakan hanyalah siapa yang mampu mengemas analisisnya dengan baik dan tepat waktu.
Dan kabar baiknya:
Anda tidak harus jadi yang paling awal untuk bisa untung.
Mencontek Money Management: Di Sini Justru yang Paling Krusial
Investor legendaris Mohnish Pabrai pernah berkata tanpa ragu:
“Saya peniru yang tidak tahu malu. Hampir semua ide saya hasil meniru.”
Faktanya, strategi copy–adapt–improve juga dilakukan banyak negara, termasuk China, sebelum akhirnya menjadi inovator global.
Namun dalam investasi, ada satu hal yang tidak bisa disalin mentah-mentah:
profil risiko dan kondisi keuangan.
Ada investor yang menaruh 100% asetnya di saham.
Ada yang hanya 10%.
Bagi yang hanya 10%, all in di saham berisiko tinggi mungkin masih masuk akal. Tapi bagi yang seluruh asetnya ada di pasar saham, bahkan all in di saham “bagus” sekalipun bisa menjadi keputusan berbahaya.
Inilah sebabnya:
Saham boleh sama
Analisis boleh mirip
Tapi conviction, timing beli-jual, dan porsi dana hampir pasti berbeda
Membeli atau menjual saham hanya karena orang lain melakukannya adalah resep klasik menuju penyesalan.
Tujuan Analisis Bukan Sekadar Untung, Tapi Mengurangi Penyesalan
Semakin dalam kita memahami cerita sebuah emiten—model bisnis, pertumbuhan, dan risikonya—semakin kecil rasa sesal saat harga bergerak tidak sesuai harapan.Menariknya, analisis mendalam sering kali lebih efektif mengurangi stres ketimbang meningkatkan return.
Karena investor yang paham apa yang ia beli:
Tidak panik saat harga turun
Tidak euforia berlebihan saat harga naik
Lebih rasional dalam mengambil keputusan
Mencontek Boleh, Asal Tahu yang Ditiru
Mencontek dalam investasi bukan dosa, selama:- Ada proses belajar
- Ada pemahaman
- Ada penyesuaian dengan kondisi pribadi
Jangan ragu berbagi analisis, meski sahamnya sudah dibahas banyak orang. Justru dari proses berbagi itulah kita tahu sejauh mana pemahaman kita—dan sering kali mendapat insight baru yang terlewat.
Terus Belajar, Jangan Berhenti Bertanya
Literasi finansial adalah perjalanan panjang.
Pasar akan selalu berubah, tapi investor yang mau belajar akan selalu punya peluang.
Pasar akan selalu berubah, tapi investor yang mau belajar akan selalu punya peluang.
Untuk pendalaman topik lain seputar saham, investasi jangka panjang, dan dinamika pasar modal, jangan lewatkan artikel-artikel lanjutan kami. Teruslah membaca, berdiskusi, dan mengasah nalar finansial—karena di pasar modal, pengetahuan adalah aset paling berharga.
(*)




