Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Kerbau Disembelih, Sawah Bersiap Ditanami: Merawat Kebersamaan Lewat Tradisi Mambantai Kabau Nan Gadang

13 Januari 2026 | 09:56 WIB Last Updated 2026-01-13T05:20:13Z


Pasbana - Di sebuah nagari di Kabupaten Solok Selatan, denting pisau dan doa-doa pelan menjadi penanda: musim tanam akan segera dimulai. Warga nagari berkumpul, bukan sekadar untuk menyembelih seekor kerbau besar, tetapi untuk merawat satu hal yang jauh lebih penting—kebersamaan.

Tradisi itu disebut Mambantai Kabau Nan Gadang. Dalam bahasa Minangkabau, artinya menyembelih kerbau besar. Bagi masyarakat Minangkabau, ritual ini bukan seremoni biasa. Ia adalah simpul yang mengikat adat, iman, dan kehidupan agraris yang telah diwariskan lintas generasi selama ratusan tahun.

Tak heran bila tradisi ini kemudian ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak Benda Indonesia—sebuah pengakuan bahwa budaya hidup bukan hanya disimpan di museum, tetapi dijalankan dalam keseharian masyarakat.

Syukur, Doa, dan Awal Musim Tanam


Mambantai Kabau Nan Gadang lazim digelar menjelang turun ka sawah, masa ketika seluruh petani di nagari mulai menanam padi secara serentak. Momentum ini dipilih dengan penuh perhitungan adat.

Kerbau jantan berukuran besar dibeli dari hasil iuran warga. Penyembelihan dilakukan oleh ninik mamak—para pemangku adat—dengan doa-doa yang dipanjatkan agar sawah terhindar dari hama, bencana, dan gagal panen.

“Ini bukan sekadar menyembelih hewan. Ini bentuk rasa syukur dan permohonan kepada Tuhan agar alam bersahabat dengan kami,” begitu kira-kira makna yang terus hidup di tengah masyarakat.

Makan Bajamba: Semua Duduk Sama Rendah


Setelah daging dibagikan merata ke setiap suku—Melayu, Kampai, Panai, hingga Tigo Lareh—warga berkumpul dalam makan bajamba. Tanpa kursi, tanpa jarak sosial. Semua duduk bersila, menyantap masakan kerbau bersama-sama.

Di momen inilah sekat-sekat sosial luruh. Tidak ada pejabat, tidak ada petani kecil. Yang ada hanyalah warga nagari yang berbagi hidangan dan cerita. 

Tradisi ini secara nyata mengajarkan nilai gotong royong dan kesetaraan—nilai yang kini kerap terasa mahal di tengah kehidupan modern.

Adat yang Masih Bernapas


Beberapa wilayah di Solok Selatan masih konsisten menjalankan tradisi ini, seperti Nagari Koto Baru di Kecamatan Sungai Pagu, Kecamatan Pauh Duo, hingga kawasan Simancuang. 

Pemerintah daerah dan lembaga adat setempat pun aktif mendukung pelaksanaannya sebagai bagian dari penguatan identitas budaya.

Pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda juga sejalan dengan upaya pelestarian budaya oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang menekankan pentingnya pewarisan nilai budaya kepada generasi muda—bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai praktik hidup.

Lebih dari Sekadar Tradisi


Di tengah arus modernisasi dan perubahan pola hidup, Mambantai Kabau Nan Gadang berdiri sebagai pengingat: kemajuan tak harus memutus akar. Tradisi ini mengajarkan bahwa membangun masa depan bisa dimulai dari kebersamaan di masa lalu.

Ketika kerbau disembelih dan doa dipanjatkan, sawah-sawah bukan hanya bersiap ditanami padi. Harapan, solidaritas, dan identitas juga kembali ditanam—agar terus tumbuh, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Makin tahu Indonesia.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update