Tanah Datar, pasbana - Di punggung perbukitan Nagari Saruaso, Kabupaten Tanah Datar, berdiri batu-batu tegak yang tampak sederhana. Sunyi, diam, nyaris tanpa suara. Namun justru dari keheningan itulah, sejarah panjang Minangkabau seolah berbicara.
Masyarakat setempat menyebutnya Batu Mejan. Dalam kajian arkeologi, ia dikenal sebagai menhir—peninggalan tradisi megalitik yang menandai peradaban tua Nusantara.
Salah satu kawasan terpentingnya berada di Padang Talago, Jorong Talago Gunung, yang secara resmi telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui SK Nomor PM.05/PW.007/MKP/2010.
Namun kisah sesungguhnya belum berhenti di sana.
Padang Talago, “Eropa”-nya Tanah Datar
Terletak di ketinggian sekitar 565 meter di atas permukaan laut, kawasan Talago Gunung menawarkan lanskap yang kerap membuat pengunjung tertegun. Hamparan savana hijau membentang luas, dengan latar perbukitan yang bersih dan lapang. Tak berlebihan jika sebagian wisatawan menjulukinya sebagai “Eropanya Tanah Datar”.
Di tengah bentang alam itulah, berdiri 186 nisan batu kuno. Sebagian besar polos, tanpa tulisan, tanpa ukiran, hanya satu yang berhiaskan pahatan. Bentuknya beragam—pipih, tonggak persegi, silinder—namun dominan menyerupai hulu keris. Sebagian besar mengarah ke selatan, pada bagian kepala.
Keunikan lain, setiap kubur hanya ditandai satu nisan. Ini berbeda dari tradisi makam Islam kuno di wilayah lain di Sumatera Barat. Para peneliti menduga, situs ini merupakan jembatan budaya: kesinambungan antara tradisi megalitik prasejarah dan praktik penguburan Islam awal di Minangkabau.
Saruaso, Pusat Sejarah yang Terlupa
Nagari Saruaso bukan nama asing dalam sejarah. Di tempat inilah, menurut berbagai sumber, pernah berdiri Kerajaan Melayapura sebelum berkembang menjadi Kerajaan Minangkabau dan kemudian Kesultanan Pagaruyung.
Dalam buku Kesultanan Pagaruyung (2017), disebutkan bahwa Kerajaan Melayapura dan kompleks Rumah Gadang Dara Jingga dibangun sekitar tahun 1347, pada masa kejayaan Adityawarman. Ia membawa pengaruh besar dari Kerajaan Swarnabhumi—penerus tradisi Sriwijaya di Sumatera setelah keruntuhannya akibat serangan Raja Cola pada abad ke-12.
Tak jauh dari kawasan itu, ditemukan Prasasti Saruaso, sebuah batu bersurat beraksara Melayu dan Nagari (Tamil), yang kini tersimpan dan diregistrasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat. Prasasti ini menjadi bukti kuat kebesaran politik dan budaya masa Adityawarman.
Kubang Landai, Ladang Menhir yang Terabaikan
Sekitar Padang Talago, tepatnya di kawasan Kubang Landai, cerita menjadi semakin menarik. Di sinilah masyarakat menemukan sebaran menhir yang luar biasa banyak—bertumpuk di perbukitan, seakan “bertutur” tentang sesuatu yang lebih tua dari yang kita bayangkan.
Sebagian menhir menjulang hingga tiga meter, dengan bentuk yang unik, bahkan oleh warga disebut “seksi” karena menyerupai simbol kesuburan. Ada yang menghadap ke gunung, ada pula yang berdiri berkelompok di wilayah ulayat kaum tertentu, seperti suku Melayu dan Mandailing.
Menhir-menhir ini belum seluruhnya diregistrasi sebagai Cagar Budaya. Padahal, menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, kawasan ini sangat memenuhi syarat sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB).
Kubang Landai dan Peta Sejarah Minangkabau
Jika Kubang Landai ditarik sebagai satu titik di peta Sumatera Barat, tampak jelas ia berada di simpul jalur budaya lama Minangkabau. Ke utara terhubung dengan Limo Kaum dan 50 Koto.
Ke barat laut menjangkau Sungayang, Rao-Rao, hingga Pasaman. Ke selatan bersambung dengan Pariangan dan Padang Panjang. Ke timur dan tenggara mengarah ke Sijunjung dan Riau daratan.
Para tokoh adat menduga, kawasan ini dahulu bernama Koto Lalang atau Sibinuang—tempat penting dalam struktur adat dan asal-usul suku Minangkabau. Dugaan tentang “ikek ampek” atau empat payung suku masih memerlukan penelitian lebih lanjut, namun membuka pintu kajian baru yang sangat menjanjikan.
Membaca Batu, Menjaga Masa Depan
Menhir-menhir Saruaso bukan sekadar batu tua. Ia adalah arsip sunyi peradaban. Jika dibiarkan, ia bisa hilang ditelan waktu. Jika dirawat dan diteliti, ia dapat menjadi sumber pengetahuan, identitas, dan kesejahteraan.
Saruaso mengajarkan satu hal penting: sejarah tidak selalu berteriak. Kadang, ia hanya berdiri diam—menunggu kita mau mendengar. Makin tahu Indonesia.
(*).




