Notification

×

Iklan

Iklan

Strategi Presisi Cari Cuan Saat Market Crash, dari Timing hingga Sektor Rebound

31 Januari 2026 | 21:32 WIB Last Updated 2026-01-31T14:32:03Z


Pasbana - Ketika pasar saham ambruk, reaksi investor biasanya terbagi dua: panik dan kabur, atau nekat menyerok tanpa rencana. Padahal, rahasia cuan saat market crash bukan soal nyali semata, melainkan presisi—tahu kapan “pisau berhenti jatuh” dan tahu sektor mana yang mesinnya menyala lebih dulu.

Mari kita bedah strategi praktis dan terukur untuk memanfaatkan fase koreksi tajam pasar saham. Cocok bagi investor ritel yang ingin tetap rasional, disiplin, dan punya panduan jelas saat volatilitas memuncak.

Market Crash Itu Seperti Apa?


Market crash ibarat hujan badai di jalan tol. Semua mobil melambat, sebagian menepi. Tapi pengemudi berpengalaman tahu: badai pasti berlalu, dan setelah itu jalanan kembali lengang untuk melaju.

Secara historis, koreksi tajam IHSG—baik akibat faktor global seperti kebijakan suku bunga The Fed, geopolitik, atau perlambatan ekonomi—selalu diikuti fase pemulihan. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, setelah koreksi besar, saham berkapitalisasi besar dan sektor defensif hampir selalu memimpin rebound.

Namun pertanyaannya: kapan waktu yang tepat untuk mulai masuk?

Kapan Waktunya Membeli? 


Jangan menebak titik terendah pakai perasaan. Gunakan tiga indikator objektif berikut:

1. Volume Klimaks: Tanda Puncak Ketakutan
Perhatikan lonjakan volume jual yang tidak biasa. Ini biasanya menandakan fase “panic selling”, ketika investor lemah (weak hands) sudah melepas sahamnya.

Dalam banyak kasus, volume yang meledak justru muncul mendekati titik bawah.

2. Foreign Flow Mulai Stabil
Pantau pergerakan dana asing. Jika net sell asing mulai menipis, lalu muncul net buy di saham blue chip seperti perbankan besar, itu sinyal awal bahwa “uang besar” mulai kembali.

3. Pola Higher Low
Hindari membeli saat grafik masih lurus ke bawah. Tunggu momen ketika harga memantul dan membentuk higher low—ibarat tangga pertama ke atas. Ini tanda tekanan jual mulai melemah.

Seni Menentukan Timing Buy yang Presisi


1. V-Shape atau Sideways Accumulation?
Tidak semua pantulan harga menandakan pembalikan tren. Waspadai dead cat bounce—pantulan palsu tanpa dukungan volume.

Pembalikan yang sehat biasanya berbentuk:
V-Shape agresif dengan volume besar, atau
Sideways accumulation, saat harga berhenti turun dan bergerak datar sebelum naik.

Jika harga naik tanpa volume, besar kemungkinan koreksi belum selesai.

2. Psikologi Market: “Darah di Jalanan”

Pepatah lama di pasar saham berbunyi: buy when there’s blood in the streets. Artinya, waktu terbaik membeli adalah saat mayoritas sudah menyerah.

Pantau sentimen di media sosial dan forum saham. Ketika mayoritas investor mengeluh, melakukan cut loss massal, dan mulai “benci” pada saham tertentu, sering kali titik bawah sudah dekat.

3. Indikator Praktis: RSI dan Moving Average
RSI di bawah 25 menandakan kondisi oversold ekstrem. Ini area mulai cicil.
Tambah posisi saat harga menembus dan bertahan di atas MA5 atau MA20. Moving Average ini menandakan tren jangka pendek mulai berbalik.

4. Mengikuti Jejak Smart Money
Perhatikan order book dan running trade. Sinyal bandar mulai “pasang badan” terlihat dari:
Antrean bid tebal di harga bawah,
Papan bid tidak mudah jebol,
Muncul transaksi besar yang menyapu sisi jual (offer).

Sektor yang Biasanya Rebound Lebih Dulu


Berdasarkan pola historis pasar saham Indonesia, urutannya relatif konsisten:

Perbankan Big Caps
Menjadi pintu masuk dana asing dan mesin utama penggerak IHSG.

Sektor Konsumer Defensif
Pilihan aman bagi institusi untuk parkir dana saat ekonomi belum stabil.

Sektor Komoditas
Jika harga komoditas global bertahan tinggi, rebound teknikalnya sering paling tajam.

Action Plan – Strategi Cicil 3-3-4


Agar tidak takut nyangkut, gunakan money management disiplin:
30% saat RSI oversold muncul,
30% saat harga membentuk higher low,
40% saat harga sudah uptrend di atas MA.

Dengan strategi ini, jika harga sempat turun lagi setelah pembelian awal, Anda masih punya “peluru” untuk melakukan average down secara terukur, bukan emosional.

Rebound Itu Soal Strategi, Bukan Adu Nyali


Market crash memang menakutkan, tapi juga membuka peluang besar. Investor yang bertahan dan disiplin biasanya bukan yang paling berani, melainkan yang paling siap dengan data dan strategi.

Gunakan indikator, pahami psikologi pasar, ikuti jejak smart money, dan masuklah secara bertahap. Untuk memperdalam pemahaman, pembaca bisa melanjutkan ke artikel terkait tentang membaca aliran dana asing, memahami siklus pasar saham, dan dasar money management investasi.

Terus belajar dan tingkatkan literasi finansial—karena di pasar modal, pengetahuan adalah aset paling berharga.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update