Jakarta, pasbana— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, seiring meningkatnya ketidakpastian global, fluktuasi pasar keuangan internasional, serta sikap wait and see investor domestik.
Kondisi ini kerap memicu kepanikan di pasar, terutama ketika indeks bergerak turun tajam dalam waktu singkat.
Dalam fase penurunan seperti ini, dinamika supply dan demand menjadi faktor kunci yang menentukan arah pergerakan pasar. Tekanan jual (supply) umumnya muncul lebih cepat dan agresif dibandingkan minat beli (demand). Namun, supply bukanlah satu entitas tunggal.
Ia terdiri dari aksi jual karena kepanikan investor ritel, penjualan terpaksa akibat margin call, hingga aksi distribusi terukur dari investor institusi yang melakukan penyesuaian portofolio.
Analis pasar modal menilai bahwa titik support tidak bisa dibaca sekadar sebagai garis teknikal semata. Support yang kuat terbentuk ketika tekanan jual mulai kehilangan tenaga dan pasar gagal mendorong harga lebih rendah meski waktu terus berjalan. “Support sejati muncul saat supply terpaksa telah selesai, bukan ketika harga terlihat murah,” ujar seorang analis teknikal dari sekuritas nasional.
Pada fase koreksi tajam, demand cenderung bersifat selektif dan tidak agresif. Minat beli awal biasanya bertujuan menahan kerusakan struktur pasar, bukan langsung mendorong kenaikan harga.
Ciri-cirinya terlihat dari perlambatan penurunan harga meski volume transaksi masih berlangsung.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya juga mengimbau investor untuk tetap rasional dan memperhatikan fundamental serta manajemen risiko. Dalam konteks ini, membaca momentum, durasi pergerakan, dan reaksi pasar dinilai lebih relevan dibanding mengejar pantulan cepat yang berpotensi menyesatkan.
Pemahaman yang utuh terhadap supply, demand, dan struktur support menjadi kunci agar investor tidak salah langkah di tengah volatilitas pasar.(*)




