Notification

×

Iklan

Iklan

Pangek Pisang Solok Selatan: Manis-Gurih dari Dapur Adat Minangkabau

12 Februari 2026 | 12:26 WIB Last Updated 2026-02-12T05:26:49Z


Solok Selatan, pasbana - Di balik hamparan perbukitan hijau Solok Selatan, Sumatera Barat, tersimpan satu sajian sederhana yang rasanya tak pernah benar-benar sederhana. 

Namanya pangek pisang. Bagi masyarakat setempat, ia bukan sekadar makanan manis berbahan pisang dan santan, melainkan penanda adat, simbol penghormatan, dan jejak rasa dari dapur tradisi Minangkabau.

Sekilas tampilannya memang bersahaja: potongan pisang terendam kuah santan kuning keemasan. Namun, begitu disuap, rasa manis alami pisang berpadu dengan gurihnya santan kental, aroma pandan, dan sentuhan kunyit yang lembut. Hangat, legit, dan menenangkan—rasa yang membuat orang kampung selalu ingin pulang.

Dari Dapur Kampung ke Meja Adat


Dalam bahasa Minangkabau, pangek berarti makanan yang dimasak perlahan dengan santan hingga kuahnya menyusut dan bumbu benar-benar meresap. Berbeda dari pangek pada umumnya yang identik dengan gulai bercita rasa pedas dan berwarna merah, pangek pisang Solok Selatan justru tampil manis dan gurih.

Bahan-bahannya pun berasal dari alam sekitar: pisang kepok atau pisang batu yang matang, santan kelapa segar, kunyit, sedikit garam, gula, dan daun pandan. Semua dimasak dengan api kecil—tidak boleh tergesa-gesa. 




Proses mangek inilah yang menjadi kunci, karena di sanalah rasa terbentuk perlahan.
“Dulu pangek pisang tidak dimasak setiap hari. Ia hanya keluar saat acara besar,” tutur sejumlah tokoh adat setempat. 

Hidangan ini biasa hadir pada batagak panghulu, pernikahan, atau sebagai hantaran menantu kepada mertua—sebuah simbol kesungguhan, kesantunan, dan rasa hormat dalam budaya Minangkabau.

Teman Setia Ketan dan Bulan Ramadhan


Tradisi itu kini mulai bergeser. Pangek pisang tidak lagi eksklusif milik acara adat. Dalam beberapa tahun terakhir, sajian ini kerap muncul sebagai takjil favorit saat bulan Ramadhan

Disajikan bersama ketan putih atau ketan hitam, pangek pisang menjadi menu berbuka yang mengenyangkan sekaligus membangkitkan nostalgia.




Tak heran jika setiap Ramadhan, pangek pisang selalu diburu di pasar-pasar tradisional Solok Selatan. Aroma santan dan pandan yang mengepul dari panci besar seolah memanggil siapa saja yang melintas.

Media nasional dan daerah pun mulai menaruh perhatian, media menyebut pangek pisang sebagai hidangan khas Solok Selatan yang unik dan legendaris.

Lebih dari Sekadar Kuliner


Bagi wisatawan, pangek pisang adalah pengalaman rasa yang berbeda. Ia tidak pedas seperti rendang, tidak renyah seperti keripik balado. Tapi justru di situlah keistimewaannya. Pangek pisang menawarkan wajah lain Minangkabau: lembut, manis, dan penuh kehangatan.

Lebih dari itu, pangek pisang adalah pengingat bahwa kuliner tradisional tidak selalu lahir dari bahan mahal atau teknik rumit. Ia tumbuh dari kearifan lokal, dari dapur-dapur kampung yang setia menjaga tradisi.

Di Solok Selatan, pangek pisang bukan hanya soal rasa. Ia adalah cerita tentang adat yang dijaga, tentang alam yang memberi, dan tentang warisan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya—perlahan, seperti proses mangek itu sendiri. Makin tahu Indonesia.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update