Notification

×

Iklan

Iklan

Saat Saham Turun Tajam: Jual, Tahan, atau Tambah? Panduan Rasional agar Investor Tidak Salah Langkah

11 Februari 2026 | 11:07 WIB Last Updated 2026-02-11T04:07:34Z


Pasbana - Melihat harga saham turun memang bikin perut mules. Baru beli, grafik sudah merah. Lama pegang, kok belum bangkit juga. Situasi ini hampir pasti dialami semua investor, dari pemula sampai profesional. Mari kita perdalam materi ini, agar keputusan yang diambil tidak sekadar berdasarkan rasa takut, tapi berdasar data dan logika.

Di pasar saham, insting pertama saat harga turun biasanya ingin menjual. Masalahnya, keputusan ini sering dipengaruhi emosi. Ada rasa “sayang” karena sudah capek menganalisis (dalam psikologi disebut sunk cost fallacy), ada ego yang menolak mengakui kesalahan, atau loyalitas berlebihan pada saham yang sudah lama dipegang. Padahal, pasar tidak peduli seberapa keras usaha kita. Market hanya bereaksi pada fakta.

Lalu, kapan saham layak dijual secara rasional?

Pertama, ketika tesis investasi terbukti salah.


Misalnya, proyeksi laba meleset jauh, utang membengkak, atau manajemen tidak sekompeten yang dibayangkan. Jika data terbaru menunjukkan kondisi lebih buruk dari asumsi awal, bertahan hanya demi gengsi justru memperbesar risiko.

Kedua, saat bisnis memburuk secara permanen.


Penurunan sementara akibat siklus ekonomi berbeda dengan bisnis yang kehilangan relevansi. Contohnya, perusahaan yang kalah oleh disrupsi teknologi tanpa strategi adaptasi. Jika tidak ada jalan keluar yang realistis, menjual adalah keputusan logis.

Ketiga, ketika harga sudah terlalu mahal (overvalued).


Saham yang naik terlalu tinggi hingga jauh melampaui fundamental membuat rasio risiko dan imbal hasil tidak lagi seimbang. Di titik ini, “sayang jual” sering muncul, padahal potensi turun bisa lebih besar daripada peluang naik.

Keempat, ada peluang lain yang lebih menarik.


Investor cerdas menjaga efektivitas alokasi modal. Jika ada saham dengan kualitas setara tetapi valuasi lebih murah dan prospek lebih baik, menukar portofolio bisa meningkatkan potensi hasil jangka panjang.

Kelima, kebutuhan pribadi yang mendesak.


Ini memang tidak ideal, apalagi saat harga turun. Namun, inilah alasan pentingnya menggunakan “uang dingin” dalam investasi saham.

Berinvestasi jangka panjang bukan berarti buy and forget. Laporan keuangan, kinerja bisnis, dan kondisi ekonomi perlu ditinjau rutin, minimal per kuartal. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan berbagai laporan manajer investasi, investor yang disiplin melakukan evaluasi cenderung lebih konsisten hasilnya.

Intinya, jangan menjual saham karena panik. Bertahan di pasar saham itu seperti menyetir di jalan berkabut: yang dibutuhkan bukan gas penuh atau rem mendadak, tapi kepala dingin dan pandangan jernih.

Terus perbarui tesis investasi Anda dengan data terbaru, dan jadikan literasi finansial sebagai bekal utama. Jangan lewatkan artikel-artikel investasi lainnya agar keputusan finansial Anda makin matang dan rasional.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update