Pasbana - Ketika pasar saham anjlok, mayoritas investor ritel panik. Grafik memerah, grup diskusi riuh, dan tombol sell terasa semakin menggoda. Namun di balik kepanikan itu, ada satu manuver yang kerap dilakukan investor besar—bahkan market maker—yang jarang dibahas secara terbuka: menjual (short) saham yang sebenarnya mereka miliki, lalu membelinya kembali di harga lebih murah.
Strategi ini terdengar kontradiktif. Kenapa menjual saham sendiri dalam kondisi rugi? Justru di sinilah letak permainannya.
Mari kita pahami logika, hitungan sederhana, serta risiko besar di balik strategi yang biasa dipakai big fund saat pasar mengalami crash atau tekanan makroekonomi.
Market Crash: Saat Emosi dan Strategi Beradu
Dalam sejarah pasar saham, market crash hampir selalu dipicu faktor makro:
- Kenaikan suku bunga agresif
- Krisis geopolitik
- Pelemahan ekonomi global
- Data inflasi atau pertumbuhan yang meleset jauh dari ekspektasi
Contoh terbaru, pada 2024–2025, pasar global beberapa kali terguncang oleh ketidakpastian arah suku bunga The Fed dan tensi geopolitik. IHSG pun tak luput dari tekanan, terutama saham-saham berkapitalisasi menengah dan kecil.
Di fase seperti ini, waktu pemulihan biasanya tidak singkat. Momentum positif masih lama. Inilah celah yang dibaca investor besar.
Apa yang Dilakukan Big Fund? Bukan Sekadar Panik Jual
Berbeda dengan investor ritel yang menjual karena takut, big fund justru mengelola penurunan.
Salah satu caranya adalah:
Menjual saham yang mereka pegang (short secara strategi), lalu membelinya kembali di harga yang jauh lebih rendah.
Tujuannya bukan kabur dari pasar, melainkan:
Menjaga jumlah saham tetap sama
Menghasilkan cash dari selisih harga
Menurunkan harga rata-rata kepemilikan
Contoh Hitungan Sederhana (Tanpa Jargon Rumit)
Bayangkan seperti ini.
Anda punya:
Saham IRSX
Harga rata-rata (average): 600
Jumlah: 1.000 lot
Langkah 1: Jual Saat Market Mulai Jatuh
Anda menjual di harga 540.
Secara kasat mata:
Beli: 600 × 1.000 lot = Rp60 juta
Jual: 540 × 1.000 lot = Rp54 juta
➡️ Terlihat rugi Rp6 juta
Di sinilah banyak orang berhenti berpikir.
Langkah 2: Beli Kembali di Harga Lebih Rendah
Market terus jatuh, saham bahkan sempat ARB.
Anda membeli kembali di harga 450.
Beli kembali: 450 × 1.000 lot = Rp45 juta
Hitungan ala Investor Kebanyakan
Mereka menganggap:
Jual rugi Rp6 juta
Beli lagi Rp45 juta dianggap transaksi baru
Padahal ini cara berpikir “toko”, bukan investor.
Mereka menganggap:
Jual rugi Rp6 juta
Beli lagi Rp45 juta dianggap transaksi baru
Padahal ini cara berpikir “toko”, bukan investor.
Hitungan ala Big Fund
Logikanya begini:
Uang hasil jual: Rp54 juta
Uang untuk beli kembali: Rp45 juta
➡️ Selisih: Rp9 juta (cash masuk)
Dan yang paling penting:
Saham Anda tetap 1.000 lot.
Inilah kenapa disebut “di-short dulu”.
Analogi Sederhana: Seperti Tukar Uang di Waktu Tepat
Bayangkan Anda punya 100 dolar.
Anda tukar saat kurs Rp15.400 → dapat Rp1,54 juta.
Beberapa hari kemudian rupiah menguat, kurs jadi Rp14.500.
Anda beli lagi 100 dolar → hanya butuh Rp1,45 juta.
Hasilnya?
Dolar tetap 100
Selisih Rp90 ribu jadi keuntungan
Prinsipnya sama, hanya saja di pasar saham risikonya jauh lebih besar.
Kenapa Strategi Ini Tidak Untuk Semua Orang?
⚠️ Peringatan keras:
Strategi ini hanya untuk investor yang benar-benar paham market.
Risikonya nyata:
Saham bisa tiba-tiba diborong big fund lain
Harga melonjak sebelum Anda sempat beli kembali
Saham “hilang” dan Anda terpaksa membeli lebih mahal
Itulah sebabnya strategi ini tidak cocok untuk pemula, apalagi yang:
Tidak memahami momentum makro
Tidak disiplin pada skenario
Mengandalkan emosi, bukan data
Kenapa Saat Crash Banyak Saham Terasa “Ditekan”?
Karena di satu sisi:
Investor ritel panik jual
Di sisi lain, ada dana besar yang sengaja menekan harga untuk akumulasi ulang
Inilah wajah pasar yang sesungguhnya:
Transfer saham dari tangan lemah ke tangan kuat.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa dalam periode volatilitas tinggi, nilai transaksi justru sering meningkat—indikasi adanya pergerakan dana besar, bukan sekadar kepanikan ritel.
Pelajaran Penting untuk Investor Ritel
Jika Anda belum siap dengan strategi kompleks:
- Fokus pada manajemen risiko
- Jangan memaksakan teknik ala big fund
- Pahami bahwa cash juga posisi
- Belajar membaca siklus, bukan sekadar harga
Literasi finansial bukan soal cepat untung, tapi paham apa yang sedang terjadi.
Jangan Ikut-ikutan, Tapi Terus Belajar
Strategi short dulu lalu beli lagi adalah realita di pasar saham, terutama saat market crash. Namun strategi ini bukan jurus sakti, melainkan alat berisiko tinggi yang hanya cocok di tangan yang tepat.
Bagi investor ritel, memahami cara berpikir big fund saja sudah menjadi keunggulan. Anda jadi tahu, kenapa harga jatuh, siapa yang diuntungkan, dan bagaimana bersikap lebih tenang.
(*)




