Notification

×

Iklan

Iklan

Lebaran di Kota Tua Padang: Menyusuri Jejak Sejarah di Tepi Batang Arau

26 Maret 2026 | 10:45 WIB Last Updated 2026-03-26T06:36:36Z
 Image

Padang, Pasbana - Libur Idul Fitri 1447 Hijriah tak hanya menjadi momen silaturahmi keluarga, tetapi juga waktu favorit masyarakat untuk berwisata. 

Salah satu lokasi yang ramai dikunjungi tahun ini adalah kawasan Kota Tua Padang, destinasi bersejarah yang membentang di sepanjang Batang Arau, Kecamatan Padang Barat.

Kawasan yang dahulu dikenal sebagai “Padang Lama” ini menghadirkan pengalaman wisata berbeda: berjalan di antara bangunan-bangunan tua peninggalan abad ke-17 hingga awal abad ke-20.

Image

 Arsitektur bergaya Belanda dan Tionghoa masih berdiri kokoh, menjadi saksi masa ketika Padang berkembang sebagai kota pelabuhan penting di pesisir barat Sumatera.

Kini, wajah lama itu bertransformasi. Gudang perdagangan dan kantor kolonial disulap menjadi kafe, ruang kreatif, hingga pusat kuliner modern tanpa menghilangkan identitas sejarahnya. 

Perpaduan klasik dan kekinian inilah yang menjadikan Kota Tua Padang semakin populer, terutama di kalangan generasi muda pemburu foto estetik.

Di tepi sungai, perahu-perahu nelayan yang bersandar menciptakan lanskap khas kota pelabuhan. Sementara itu, megahnya Jembatan Siti Nurbaya menjadi latar favorit wisatawan. Saat matahari mulai tenggelam, cahaya senja memantul di permukaan Batang Arau, menghadirkan suasana romantis yang sulit ditemukan di tempat lain.




Tiara, wisatawan asal Sijunjung, mengaku sengaja datang saat libur Lebaran untuk menikmati atmosfer kawasan tersebut.
“Lingkungannya nyaman, bersih, dan aman. Rasanya seperti jalan-jalan di kota sejarah, tapi tetap santai. Wajib datang ke sini,” ujarnya.

Menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, tren wisata berbasis heritage atau sejarah memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Wisatawan kini tidak hanya mencari tempat rekreasi, tetapi juga pengalaman budaya dan cerita masa lalu.

Kota Tua Padang menjawab kebutuhan itu. Ia bukan sekadar lokasi wisata, melainkan ruang hidup yang menghubungkan sejarah perdagangan Nusantara, budaya Minangkabau, dan geliat ekonomi kreatif masa kini.

Di tengah riuhnya libur Lebaran, kawasan ini mengingatkan satu hal: kadang perjalanan terbaik bukan menuju tempat baru, melainkan kembali menyusuri jejak lama yang tetap hidup hingga hari ini. Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update