Pasbana - Nilai tukar rupiah kembali diuji. Pada Senin pagi (9/3), rupiah sempat tergelincir hingga menyentuh Rp17.015 per dolar AS—level yang membuat pasar kembali menahan napas. Meski akhirnya ditutup sedikit lebih baik di Rp16.945, pelemahan ini memberi sinyal: tekanan global sedang tidak bersahabat.
Salah satu pemicunya datang dari komoditas yang sangat sensitif bagi Indonesia—minyak. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuat harga minyak dunia melonjak tajam. Minyak Brent bahkan sempat melesat hampir 29 persen dalam perdagangan intraday hingga sekitar US$119,5 per barel, sebelum akhirnya bergerak di kisaran US$102,6 per barel pada sore hari.
Angka itu bukan sekadar statistik. Bagi Indonesia, yang masih menjadi net importir minyak, lonjakan harga energi bisa merembet langsung ke kondisi fiskal negara. Sebagai perbandingan, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 hanya dipatok di level US$70 per barel. Artinya, harga saat ini sudah sekitar 46 persen lebih tinggi dari asumsi awal pemerintah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan, jika harga minyak bertahan di kisaran US$90–92 per barel tanpa penyesuaian anggaran, defisit APBN 2026 berpotensi melebar hingga 3,6 persen dari PDB—melewati batas legal 3 persen.
Pemerintah, kata Purbaya, untuk sementara akan menahan guncangan tersebut melalui APBN, terutama dengan meningkatkan alokasi subsidi BBM jika harga minyak bertahan tinggi. Namun keputusan lanjutan akan dipertimbangkan dalam satu bulan ke depan setelah melihat perkembangan pasar energi global.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pasokan BBM nasional masih aman dan belum ada rencana menaikkan harga BBM bersubsidi setidaknya hingga Idulfitri.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal domestik. Data Kementerian Keuangan menunjukkan APBN hingga akhir Februari 2026 sudah mencatat defisit Rp135,7 triliun atau 0,53 persen terhadap PDB. Lonjakan belanja negara yang tumbuh 41,9 persen secara tahunan menjadi faktor utama, meskipun penerimaan negara juga meningkat.
Kombinasi harga minyak tinggi dan ruang fiskal yang menyempit kini menjadi variabel baru bagi pasar. Tidak heran, indeks harga saham gabungan (IHSG) ikut terseret turun 3,3 persen pada hari yang sama, mengikuti pelemahan bursa Asia—meski investor asing masih mencatatkan beli bersih sekitar Rp1,1 triliun.
Pasar, sekali lagi, sedang mengingatkan: ekonomi global bisa berubah cepat, dan ketahanan fiskal akan menjadi tameng utama.(*)




