Notification

×

Iklan

Iklan

Sambut Idulfitri 1447 H di Ranah Minang: Tradisi Makmeugang Tetap Terjaga

20 Maret 2026 | 13:53 WIB Last Updated 2026-03-20T06:53:20Z
 


Oleh: Sulaiman Juned  *)

Pasbana - Tradisi Makmeugang atau Meugang bagi masyarakat Aceh telah menjadi budaya. Meugang tetap dilaksanakan bagi masyarakat Aceh walaupun tidak menetap dinegerinya. Kami masyarakat Aceh yang berada di Ranah Minang tetap merawat budaya endatu. 

Makmeugang atau Meugang diawali pada masa kerajaan Aceh dengan memotong hewan dalam jumlah yang banyak lalu dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Hal ini dilakukan sebagai rasa syukur dan ungkapan terima kasih atas kemakmuran negeri Aceh dalam menyambut hari-hari besar (Suci) ummat Islam. "Tradisi Meugang sudah dilaksanakan  sejak ratusan tahun  yang lalu. Tradisi ini dimulai sejak masa kerajaan Aceh Sultan Iskandar Muda (1607-1636 Masehi). Masa itu Sultan Iskandar Muda memotong hewan yang banyak dan membagikannya kepada masyarakat" (WikipediA, id.m.wikipedia.org, Kamis , 19 Maret 2026,  Pukul 7:10 WIB)

Makmeugang atau Meugang merupakan tradisi yang diawali dengan pemotongan sapi, kerbau, kambing, dan ayam, serta itik (bebek). Kebiasaan ini dilakukan ketika menyambut bulan Ramadhan (dua hari sebelum ramadhan), atau menyambut hari raya Idul Fitri, juga hari raya Idul Adha. Kegiatan Makmeugang memiliki nilai relegius dengan bersedekah atau saling berbagi sesama masyarakat yang memiliki kemampuan lebih kepada masyarakat kurang mampu. Hal ini sekaligus untuk memupuk nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. "Makmeugang atau Meugang adalah tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga dan yatim piatu oleh masyarakat Aceh" (WikipediA, id.m.wikipedia.org,  )Kamis, 19 Maret 2026, pukul 7:10 WIB)

Atas dasar itulah, keluarga saya di Padangpanjang, Sumatera Barat hari ini Kamis  19 Maret 2026  melakssnakan hari  Makmeugang.  Kami memang  tidak memotong hewan, namun kami membeli daging di pasar ala.kadarnya. Lalu istri saya memasak "sie mirah"  (daging mirah), "sie puteh" (daging putih atau masak daging kurma namanya kalau di Minang), memasak rendang ayam kampung. Juga memasak Soto kesukaan saya. Kami sekeluarga walau berada di rantau tetap saja menikmatinya hari Makmeugang walau dengan sederhana untuk tetap menjaga tradisi religius, kebersaman, dan gotong royong tersebut yang telah diwariskan leluhur. Sambil merasakan desir angin yang berhembus diteras rumahku,  melaksanakan waktu berbuka  puasa ramadan  yang ke 28 hari nanti sore. Nanti senja berbuka puasa ramadan sembari menikmati soto Aceh racikan istri tercinta saya ucapkan "Selamat menyambut hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H. "Mohon maaf lahir dan bathin".  Aamin ya Rabb. 


*) Penulis adalah Sastrawan, esais, kolomnis, sutradara teater, Pendiri Sanggar Ceka Banda Aceh, Pendiri UKM Teater Nol Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh, Pendiri Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, Pendiri UKM Persma Pituluik Isi Padangpanjang, Ketua Panitia Pendirian Kampus Institut Seni dan Budaya Aceh ( ISBI ) Aceh (2012/2015),  Wakil Ketua Ikatan Olahraga Dancesport Indonesia (IODI) Kota Padang Panjang, Penerima Pin Emas Bidang Seni Budaya dan Adat Istiadat dari Pemko Padang Panjang (2020), Dosen Jurusan Seni Teater ISI Padangpanjang, Ketua Umum Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Sumatera Barat.

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update