Pasbana - Ada satu hal yang pasti ketika wacana Work From Home (WFH) kembali mencuat: sebagian orang langsung tersenyum, sebagian lain justru mengernyit. Bagi pekerja, ini kabar lama yang terasa seperti reuni—tanpa macet, tanpa setrika baju kantor, dan kopi bisa diracik sendiri. Tapi bagi pelaku usaha, terutama yang hidup dari denyut mobilitas harian, ini lebih mirip alarm yang berbunyi terlalu dini.
Rencana pemerintah untuk kembali mendorong kebijakan WFH, baik di sektor publik maupun swasta, bukan sekadar soal fleksibilitas kerja. Di balik itu, ada kekhawatiran yang tak bisa dianggap sepele: melemahnya konsumsi rumah tangga. Dan kita tahu, dalam struktur ekonomi Indonesia, konsumsi bukan sekadar pelengkap—ia adalah mesin utama.
Ketika orang bekerja dari rumah, ritme ekonomi ikut berubah. Pengeluaran kecil yang selama ini dianggap remeh—ngopi di kafe dekat kantor, makan siang di warung langganan, hingga ongkos transportasi—perlahan menghilang dari peredaran. Efeknya mungkin tak terasa dalam sehari dua hari, tapi jika berlangsung lama, dampaknya bisa menjalar ke mana-mana.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melihat potensi ini dengan cukup serius. Bagi dunia usaha, WFH bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga soal perputaran uang. Ketika aktivitas luar rumah berkurang, maka sektor informal hingga ritel modern bisa ikut tersendat. Ekonomi yang biasanya berdenyut di jalanan, kini seperti dipaksa duduk diam di ruang tamu.
Di sisi lain, tentu tak adil jika WFH hanya dilihat dari kacamata pesimis. Pandemi telah membuktikan bahwa banyak sektor mampu beradaptasi. Produktivitas tidak selalu identik dengan kehadiran fisik. Bahkan, beberapa perusahaan justru menemukan efisiensi baru. Namun, pertanyaannya: apakah efisiensi itu sebanding dengan efek domino terhadap konsumsi?
Di titik ini, kebijakan publik diuji. Pemerintah perlu menimbang bukan hanya aspek kesehatan atau efisiensi kerja, tetapi juga dampak psikologis dan ekonomi yang lebih luas. Sebab ekonomi bukan sekadar angka di laporan triwulan—ia adalah aktivitas nyata yang hidup dari interaksi manusia.
WFH mungkin nyaman, tapi ekonomi butuh lebih dari sekadar kenyamanan. Ia butuh gerak, transaksi, dan interaksi. Jika tidak, kita berisiko menciptakan situasi yang tampak stabil di permukaan, tapi perlahan kehilangan energi di dalam.
Jadi, sebelum memutuskan untuk “kembali ke rumah”, ada baiknya kita bertanya: apakah kita siap dengan konsekuensinya?
(*)




