Oleh: Ichsan Saputra, M.Sn (*)
Pasbana - Sastrawan, jurnalis, budayawan, dan sutradara teater serta akademisi seni Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., pada 12 Mei 2026 nanti tepat berusia 61 tahun, yang sekaligus juga 29 tahun usia Komunitas Seni Kuflet menghidupkan gairah seni dan budaya di Kota Padang Panjang.
Merayakan milad ke-29 tahun perjalanan Kuflet yang didirikan pada 12 Mei 1997 oleh Prof. Dr. Mursal Esten, Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., Maizul, S.E., Netti Herawati, S.S., Wiko Antoni, S.Sn., M.Pd., I. Dewa Supenida, S.Kar., M.Sn., Drs. Jufri, M.Sn., nanti akan digelar peluncurun buku antologi puisi bertajuk "Padangpanjang 999" karya Sulaiman Juned. Buku tersebut akan dibedah oleh tiga orang narasumber yakni, Prof. Dr. Asril, S.Skar., M.Hum (kritikus seni dan akademisi), Adri Sandra (Sastrawan Indonesia asal Payakumbuh), dan Muhammad Subhan (Penulis, Pegiat Literasi, Founder Sekolah Menulis elipsis).
Komunitas Seni Kuflet pada 12 Mei 2026 nanti telah berusia 29 tahun. Komunitas ini telah menggelar berbagai kegiatan seni, mulai dari pertunjukan teater hingga diskusi sastra yang melibatkan seniman lokal maupun nasional serta internasional. Kuflet bukan sekadar komunitas, tapi rumah bagi para pecinta seni. Kuflet telah melalui perjalanan panjang, mengadakan puluhan pertunjukan teater, workshop sastra, dan pameran seni rupa. Ini semua dilakukan untuk terus menjaga semangat berkesenian di Padang Panjang.
Komunitas ini juga terbuka bagi pelajar SMA dan mahasiswa yang ingin belajar dan mengembangkan bakat seni mereka. Bagi para pemula, Kuflet menawarkan ruang untuk bereksplorasi, mulai dari menulis puisi, bermain teater, hingga belajar membuat film. Kuflet komunitas seni yang terus berkiprah dan percaya, seni adalah medium yang tepat untuk mengekspresikan diri serta mengasah kreativitas. Oleh karena itu, kami selalu membuka pintu lebar-lebar bagi generasi muda.
Selain kegiatan internal, Kuflet juga aktif berkolaborasi dengan instansi pemerintah dan komunitas seni lainnya di Sumatera Barat dan luar daerah. Hal ini membuat Kuflet tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga di tingkat nasional serta internasional.
Kuflet yang bermarkas di Jalan Dr. A. Rivai No. 146, RT XI Kampung Jambak, Kelurahan Guguk Malintang, Kecamatan Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, juga tetap ingin menjadikan Kota Padang Panjang "Rumah" bagi seniman dunia dengan pelaksanaan Temu Penyair Asia Tenggara di Padang Panjang yang digagas Komunitas Seni Kuflet.
Redaktur Budaya Koran Tempo yang juga sastrawan Mustafa Ismail menulis pada prolog buku tersebut, "Puisi-puisi dalam Padangpanjang 999 lahir dari kehidupan yang dijalani sepenuh-penuhnya. Tidak ada jarak antara Bang Soel sebagai manusia, sebagai seniman, dan sebagai pengajar. Apa yang ia tulis adalah apa yang ia alami dan renungkan. Karena itu, membaca buku ini seperti mengikuti perjalanan batin seorang penyair yang hidup berdampingan dengan hujan, kabut, gunung, bencana, cinta, dan kehilangan—hari demi hari, tahun demi tahun," tulisnya.
Mustafa menambahkan, "Padangpanjang, dalam puisi-puisi Bang Soel, bukan sekadar kota kecil di kaki gunung. Ia adalah ruang belajar. Ruang ujian. Ruang pengendapan. Alam di sekitarnya, Marapi yang kadang murka, hujan yang tak pernah benar-benar jauh, kabut yang sering turun tanpa aba-aba, menjadi bagian dari bahasa puisinya. Alam tidak hadir sebagai latar yang indah, melainkan sebagai kekuatan yang mengingatkan manusia akan batas-batas dirinya. Puisi pembuka "Padangpanjang 999" yang juga menjadi judul—adalah pintu masuk ke seluruh dunia batin buku ini.
Di sana, Bang Soel tidak sedang memotret Padangpanjang secara fisik, melainkan merawatnya sebagai ruang kesadaran. Kita membaca bagaimana ia memandang kota itu sebagai tempat manusia bercermin—tentang kesombongan yang harus dilepaskan, rindu yang harus dirawat, cinta yang harus dijaga agar tidak berubah menjadi bara yang membakar kepala. Puisi ini seperti penanda bahwa puisinya tidak ingin memamerkan keindahan semata, melainkan mengajak pembaca menunduk sejenak dan mendengar dalam tenang," ujarnya.
Sementara penulis dan Founder Sekolah Menulis elipsis Muhammad Subhan menuliskan epilog dalam buku itu, "Membaca puisi-puisi Sulaiman Juned sejak tahun 1990-an. Waktu itu namanya kerap muncul di koran-koran Aceh, Medan, dan Jakarta. Ia bukan sekadar penyair; ia adalah suara yang berjalan di antara panggung teater, kolom kolom opini, hingga halaman-halaman cerpen di media massa tempat kata-kata disemai," paparnya.
Subhan menambahkan, "Pertemuan kami terjadi setelah saya meninggalkan Aceh dan bermukim di Sumatra Barat. Ketika saya memimpin biro sebuah koran tertua di Padang untuk wilayah tugas Bukittinggi (2006—2007), ia kerap mengirim tulisan untuk kolom “Detak Jam Gadang” yang saya asuh. Tulisan tulisannya tak pernah datar. Selalu ada getar emosi, ada gugatan, ada jejak seorang seniman yang tak ingin hanya menjadi penonton sejarah. Kedekatan kami semakin erat ketika saya bermukim di Padang Panjang dan ia meminta saya menjadi salah satu pembina Kuflet, komunitas seni yang ia dirikan dan rawat lebih dari seperempat abad. Di sana kami berdiskusi, menerbitkan buku, mementaskan teater, membina kelas sastra di sekolah-sekolah, bahkan melakukan perjalanan literasi hingga ke sejumlah kota di Aceh dan lainnya. Dalam rentang waktu itulah saya melihat bagaimana Sulaiman Juned bekerja. Ia bukan hanya menulis puisi, tetapi membangun ekosistem kebudayaan. Kini, melalui buku kumpulan puisi terbarunya bertajuk Padangpanjang 999 (2026), ia seperti meneguhkan satu hal, Padangpanjang kota bukan sekadar latar; kota adalah tubuh. Kota adalah perasaan. Kota adalah ingatan kolektif yang terus berdenyut. Padang Panjang dalam buku ini bukan sekadar kota administratif. Ia adalah ruang spiritual, ruang luka, ruang cinta. Kota yang akrab dengan hujan, gerimis, kabut, angin, bukit, dan gunung," tulisnya.
Selamat menanti Tujuh Puluh Lima puisi Sulaiman Juned dalam buku "Padangpanjang 999" yang diterbitkan Egypt Van Andalas dengan membaca Padangpanjang lalu menulisnya. Selamat dan sukses kepada Sulaiman Juned dalam menanti 61 tahun usianya dan 29 Kuflet. Semoga terus hidup dan memberi kehidupan bagi perjalanan kebudayaan di Kota Padang Panjang. (*)
) Penulis adalah alumni Prodi Fotografi, FSRD (S1), dan alumni Prodi Penciptaan dan Pengkajian Seni Minat Penciptaan Fotografi Pascasarjana (S2) ISI Padangpanjang, bergiat di UKM Pers ISI Padangpanjang semasa kuliah, aktif menulis puisi dan puisi-puisinya terkumpul di beberapa buku bersama penyair Indonesia dan nusantara, aktif menjadi aktor teater, karya foto sering dipublikasikan di media lokal dan nasional, sering pula menjadi juara dalam lomba foto yang diadakan di tingkat nasional ()







