Notification

×

Iklan

Iklan

29 Tahun Kuflet Berkarya, 61 Tahun Sulaiman Juned Mengabdi untuk Seni

13 Mei 2026 | 00:02 WIB Last Updated 2026-05-13T00:37:07Z



Oleh: Ansar Salihin

Pasbana - Tanggal 12 Mei menjadi hari penting bagi Komunitas Seni Kuflet dan Sulaiman Juned. Pada tanggal 12 Mei 2026, Komunitas Seni Kuflet genap berusia 29 tahun, sementara salah satu pendiri sekaligus ruh pergerakannya, Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., memasuki usia 61 tahun. Dua perjalanan yang tidak bisa dipisahkan: Sulaiman Juned adalah jiwa dari Kuflet, dan Kuflet adalah rumah besar bagi gagasan, karya, dan pengabdian keseniannya.

Komunitas Seni Kuflet didirikan pada 12 Mei 1997 di Padangpanjang, Sumatera Barat. Nama “Kuflet” berasal dari bahasa Yunani yang berarti bait puisi, menggambarkan keterhubungan antara satu baris dengan baris lainnya. Filosofi itu kemudian diwujudkan menjadi semangat kebersamaan antarseniman yang memiliki tujuan sama: berkesenian dengan rasa kekeluargaan. Komunitas ini didirikan oleh sejumlah seniman dan akademisi, di antaranya Prof. Dr. Mursal Esten, Dr. Sulaiman Juned S.Sn.,M.Sn, Drs. Jufri Biran, M.Sn, Wiko Antoni, S.Sn., M.Pd, Maizul Zul, S.E dan Neti Herawati, S.S serta I.Dewa Nyoman Supenida, S.Kar., M.Sn.

Namun, perjalanan Kuflet tidak bisa dilepaskan dari sosok Sulaiman Juned. Ia lahir di Usi Dayah, Pidie, Aceh, pada 12 Mei 1965. Sejak remaja, Sulaiman telah aktif menulis sastra dan berkesenian. Saat kuliah di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, ia aktif membangun berbagai komunitas seni, seperti UKM Teater Nol Unsyiah, Sanggar Seni Cempala Karya, hingga Teater Peduli. Dunia teater dan sastra telah menjadi bagian dari hidupnya sejak muda.

Pertemuannya dengan Prof. Dr. Mursal Esten membawa jalan hidup baru. Saat Jurusan Teater ASKI Padangpanjang yang kini menjadi ISI Padangpanjang baru dibuka, Mursal Esten mengajak Sulaiman datang ke Padangpanjang. Dari sanalah lahir gagasan mendirikan komunitas seni yang kemudian dikenal sebagai Komunitas Seni Kuflet.

Bagi Sulaiman Juned, Kuflet bukan sekadar organisasi seni. Kuflet adalah rumah. Bukan hanya rumah secara fisik, tetapi juga rumah jiwa dan rumah kreativitas. Sekretariat Kuflet berada di rumahnya sendiri. Rumah itu selalu terbuka bagi siapa saja: mahasiswa, seniman, penyair, aktor, atau tamu yang sekadar ingin berdiskusi sambil minum kopi hingga larut malam.

Banyak generasi datang dan pergi di Kuflet. Mahasiswa yang merantau ke Padangpanjang belajar beberapa tahun, lalu kembali ke daerah masing-masing. Namun Sulaiman Juned tetap setia menjaga komunitas itu dari generasi ke generasi. Ia membina anggota bukan hanya sebagai guru, tetapi juga sebagai orang tua. Di saat latihan teater, ia bisa menjadi pelatih yang tegas. Saat diskusi sastra, ia menjadi dosen dan pembimbing. Namun ketika kegiatan selesai, ia kembali menjadi sosok ayah yang mendengar cerita dan kegelisahan anak-anak didiknya.

Kehangatan itu juga tidak lepas dari peran istrinya, buk Titin, yang telah menjadi ibu bagi anggota Kuflet. Rumah mereka menjadi tempat berkumpul, makan bersama, berdiskusi, dan berbagi cerita. Banyak anggota Kuflet adalah anak rantau yang jauh dari keluarga. Karena itu, Sulaiman Juned dan keluarganya menjadi pengganti orang tua bagi mereka di Padangpanjang.

Pendekatan humanis dan kekeluargaan itulah yang membuat Kuflet terus hidup hingga hampir tiga dekade. Dari rumah kecil itu lahir banyak seniman, penyair, aktor, sutradara, wartawan, guru seni, dan akademisi yang kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Pada awal berdirinya, Kuflet hanya bergerak di bidang teater. Namun seiring waktu, komunitas ini berkembang menjadi ruang kreatif lintas bidang: sastra, jurnalistik, musik, tari, seni rupa, hingga penerbitan buku. Kuflet juga aktif mengadakan seminar, workshop, festival, pelatihan, penerbitan buku dan pementasan seni yang melibatkan masyarakat luas.

Dalam bidang sastra, Kuflet melahirkan banyak penulis muda melalui diskusi dan pelatihan menulis puisi, cerpen, dan naskah lakon. Di bidang teater, Kuflet dikenal dengan pertunjukan yang mengangkat akar budaya lokal menjadi karya modern. Sulaiman Juned tetap setia membawa warna Aceh dalam karya-karyanya, meskipun berkarya di ranah Minang. Kerinduan terhadap kampung halaman diterjemahkan melalui teater, puisi pertunjukan, didong modern, dan dramatisasi puisi yang dipentaskan di berbagai kota di Indonesia bahkan hingga luar negeri.




Selama hampir 29 tahun, Kuflet telah menggelar puluhan pertunjukan teater dan kolaborasi seni. Selain aktif berkesenian, Kuflet juga bergerak dalam dunia literasi melalui Kuflet Publishing. Penerbitan ini telah melahirkan berbagai buku puisi, cerpen, novel, esai, dan naskah lakon. Kekuatan Kuflet juga terletak pada sistem pembelajarannya. Banyak yang menyebut pendidikan di Kuflet setara dengan perguruan tinggi seni karena dibimbing langsung oleh seniman sekaligus akademisi. Para pendirinya merupakan dosen dan tokoh seni yang memiliki pengalaman luas dalam dunia akademik dan pertunjukan. Tidak heran jika alumni Kuflet banyak yang kemudian menjadi dosen, guru seni, penulis, dan seniman profesional.

Sulaiman Juned juga dikenal sebagai sosok yang selalu membuka jalan bagi generasi muda. Dalam berbagai seminar, workshop, festival, maupun event nasional, ia sering melibatkan anggota Kuflet sebagai panitia, pendamping, bahkan memberi kesempatan tampil dan belajar langsung di lapangan. Perlahan-lahan ia melepas murid-muridnya untuk mandiri menjadi pemateri, sutradara, penulis, maupun juri lomba seni.

Dari Kuflet lahir banyak nama yang kini aktif berkarya di berbagai daerah. Mereka adalah bukti bahwa komunitas kecil di kota dingin Padangpanjang mampu melahirkan gagasan besar dan manusia-manusia kreatif yang terus bergerak di dunia seni dan budaya.

Kini, di usia ke-61 tahun, Sulaiman Juned tetap menjadi sosok sederhana yang setia menjaga nyala kreativitas itu. Ia tidak hanya membangun pertunjukan, tetapi juga membangun manusia. Sedangkan di usia ke-29 tahun, Komunitas Seni Kuflet tetap berdiri sebagai ruang belajar, ruang berkarya, sekaligus rumah bagi para pencinta seni.

Kuflet telah membuktikan bahwa seni bukan hanya tentang pertunjukan, melainkan tentang merawat manusia, membangun kebersamaan, dan menjaga kebudayaan agar tetap hidup dari generasi ke generasi. Dari Padangpanjang, Kuflet terus bergerak untuk Indonesia, bahkan dunia.

*) Penulis adalah Penyair, Penulis dan Alumni Komunitas Seni Kuflet serta Guru Seni Budaya

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update