Notification

×

Iklan

Iklan

Gulai Bantai, Sajian Hangat yang Menyatukan Rasa Syukur di Hari Raya Kurban

27 Mei 2026 | 17:38 WIB Last Updated 2026-05-27T10:38:52Z


Pasbana - Aroma cabai merah yang ditumis bersama daun kunyit perlahan memenuhi halaman surau. Di sudut lain, suara parang dan gelak tawa bapak-bapak masih terdengar usai proses penyembelihan hewan kurban. 

Sementara itu, perempuan-perempuan Minangkabau sibuk mengaduk kuali besar berisi kuah merah menyala. Di sanalah Gulai Bantai lahir—hidangan sederhana yang justru menjadi primadona setiap Hari Raya Iduladha di Sumatra Barat.

Bagi masyarakat Minang, Iduladha bukan sekadar tentang membagi daging kurban.

Ada tradisi panjang yang hidup dari generasi ke generasi: memasak bersama dan makan bersama. Kata “bantai” sendiri berasal dari bahasa Minang yang berarti menyembelih atau memotong ternak. Karena itu, Gulai Bantai selalu hadir di momen ketika sapi dan kerbau kurban diproses di masjid atau surau.



Menariknya, gulai ini bukan dibuat dari daging pilihan seperti rendang. Justru bagian tetelan, sandung lamur, sengkel, hingga jeroan menjadi bahan utamanya.

Potongan-potongan itulah yang menghasilkan kaldu alami paling gurih ketika dimasak dalam kondisi masih hangek—daging segar yang belum sempat masuk pendingin.

Berbeda dari gulai khas Padang yang identik dengan santan pekat, Gulai Bantai tampil lebih ringan. Kuahnya merah-oranye, pedas, gurih, sekaligus segar karena menggunakan asam kandis. Sensasi ini membuatnya cocok disantap setelah seharian berkutat dengan aktivitas kurban.

Di sejumlah daerah seperti Pariaman, hidangan ini bahkan dikenal sebagai Gulai Baga. Meski nama berbeda, semangatnya tetap sama: makanan rakyat yang lahir dari gotong royong.




Rahasia kelezatannya ada pada rempah yang melimpah. Daun ruku-ruku, serai, bunga lawang, kapulaga, cengkeh, hingga pala berpadu dalam satu kuali besar. Bumbu ditumis sampai harum, lalu daging dimasukkan tanpa air agar sarinya keluar perlahan. Setelah itu, air panas dituang sedikit demi sedikit hingga kuah mengental dan berminyak.

Tak heran jika Gulai Bantai selalu dirindukan saat Lebaran Kurban tiba. Ia bukan hanya makanan, tetapi simbol kebersamaan orang Minang: tentang berbagi tenaga, rasa syukur, dan kehangatan di tengah aroma rempah yang mengepul dari dapur kampung.

Jika tahun ini Anda mendapat bagian tetelan kurban, mungkin inilah saat yang tepat mencoba memasak Gulai Bantai sendiri di rumah—dan merasakan bagaimana satu kuali sederhana bisa menghadirkan suasana Iduladha yang begitu akrab dan penuh cerita. Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update