Pesisir Selatan, pasbana - Langkah-langkah peziarah pagi itu berhenti di sebuah makam sederhana di Koto Baru Bayang. Udara masih lembap oleh embun ketika nama itu kembali disebut dengan hormat: Syekh Muhammad Jamil. Orang Bayang mengenalnya sebagai Pakih Jamil—ulama yang tidak hanya mengajar agama, tetapi juga menanam pengaruh yang melintasi zaman.
Makamnya kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah. Sebuah pengakuan yang datang jauh setelah lelaki itu wafat, namun jejaknya ternyata tak pernah benar-benar hilang.
Pakih Jamil lahir dari tradisi keilmuan Minangkabau yang kuat. Sanad ilmunya tersambung kepada ulama besar Syekh Buyung Mudo Puluik-Puluik melalui Angku Tantuo Kapujan. Di masa ketika surau menjadi pusat pendidikan rakyat, hubungan guru dan murid bukan sekadar transfer ilmu. Ia adalah rantai peradaban.
Tak puas belajar di kampung sendiri, Pakih Jamil melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Pancung Tebal. Di sana ia berguru kepada Syekh Muhammad Fatawi, ayah dari Syekh Bayang. Dari ruang-ruang pengajian sederhana itulah lahir jaringan ulama yang kelak membentuk wajah Islam di pesisir barat Sumatra.
Lalu datang perjalanan besar itu.
Pada 1870, Syekh Muhammad Jamil bersama adiknya, Syekh Muhammad Shamad, berangkat ke Mekkah. Perjalanan haji pada masa itu bukan perkara mudah. Berbulan-bulan di laut. Risiko penyakit. Kapal kayu yang dihantam badai. Namun bagi banyak ulama Nusantara abad ke-19, Mekkah adalah jantung ilmu dunia Islam.
Enam tahun kemudian ia pulang ke Koto Baru Koto Berapak.
Yang dibawanya bukan hanya gelar haji atau cerita perjalanan, melainkan semangat membangun masyarakat melalui pendidikan. Ia mendirikan surau di kampungnya. Kini bangunan itu memang tinggal reruntuhan di dekat mihrab Masjid Jamik Koto Baru Koto Berapak. Tetapi dahulu, surau itu hidup hampir tanpa jeda.
Murid-murid datang dari berbagai daerah: Minangkabau, Kerinci, Bengkulu, hingga Jambi. Mereka tidur beralas tikar, belajar dengan lampu minyak, dan menghafal pelajaran di tengah dingin malam. Dari surau kecil itulah lahir ulama-ulama berpengaruh, termasuk Syekh Muhammad Dalil bin Muhammad Fatawi yang kemudian dikenal luas di Padang dan mengajar di Masjid Raya Ganting.
Di Minangkabau, surau bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah pusat pendidikan, ruang diskusi, bahkan tempat pembentukan karakter sosial. Karena itu, perjuangan Pakih Jamil sejatinya bukan hanya soal dakwah agama. Ia sedang membangun identitas masyarakat melalui ilmu.
Kini makamnya berada di belakang Masjid Jamik Jihad Koto Baru Bayang. Sunyi. Teduh. Namun dari tempat itulah kita diingatkan bahwa sejarah sering lahir bukan dari istana besar, melainkan dari surau kecil dan orang-orang yang memilih mengajar dalam diam.
Lalu, di tengah dunia yang semakin gaduh hari ini, masihkah ilmu dihormati sebagaimana dahulu?
Makin tahu Indonesia. (*)




