Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Uang Asing Mulai Pergi, Apa yang Sedang Dikhawatirkan Pasar?

07 Mei 2026 | 13:46 WIB Last Updated 2026-05-07T06:46:40Z



Pasbana - Ada satu pola yang selalu berulang saat ekonomi global mulai goyah: dana asing perlahan angkat kaki dari negara berkembang. Dan kini, Indonesia kembali masuk dalam pusaran itu.

Dalam beberapa pekan terakhir, investor asing tercatat ramai-ramai menjual saham dan obligasi domestik. Nilainya sudah mencapai triliunan rupiah sejak awal kuartal II 2026. Saham perbankan besar hingga emiten komoditas—yang selama ini menjadi “mesin utama” IHSG—ikut terkena tekanan.

Di saat bersamaan, rupiah bergerak mendekati level yang membuat pasar mulai gelisah: Rp17.300–Rp17.400 per dolar AS.

Masalahnya bukan sekadar angka kurs.
Setiap rupiah melemah, biaya impor naik. Energi menjadi lebih mahal. Beban utang dolar korporasi membengkak. Ruang subsidi pemerintah ikut menyempit. Efek dominonya bisa terasa hingga ke dapur rumah tangga.

Pasar global sendiri sedang tidak ramah. Suku bunga Amerika Serikat masih tinggi, konflik geopolitik di Timur Tengah memicu ketidakpastian energi, dolar AS menguat, sementara ekonomi China melambat dan mulai mengurangi permintaan ekspor Asia.

Investor global membaca situasi ini dengan sederhana: risiko kini terasa lebih besar daripada peluang keuntungan.

Kondisi tersebut mengingatkan pasar pada episode lama seperti taper tantrum 2013 dan gelombang capital outflow saat pandemi 2020. Bedanya, kali ini tekanan datang bersamaan dari banyak arah: inflasi global belum benar-benar jinak, perang geopolitik meningkat, dan ekonomi dunia melambat serentak.

Di tengah situasi itu, Bank Indonesia menghadapi pilihan yang tidak mudah. Menahan suku bunga tinggi bisa menjaga rupiah, tetapi berisiko memperlambat kredit, properti, dan konsumsi masyarakat. Sebaliknya, jika suku bunga diturunkan terlalu cepat, arus keluar modal asing bisa makin deras dan rupiah tertekan lebih dalam.

Pasar memahami satu hal penting: modal asing masuk karena optimisme, tetapi keluar karena ketakutan.

Dan ketika ketakutan mulai bertahan lama, yang dipertaruhkan bukan hanya nilai tukar atau indeks saham—melainkan kepercayaan terhadap daya tahan ekonomi Indonesia sendiri.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update