![]() |
Oleh: Mustafa Ismail Penulis Sastra, Pegiat Kebudayaan, dan Redaktur Seni Tempo |
Pasbana - BANG Soel, begitu kami menyapa sastrawan dan dramawan Sulaiman Juned, adalah salah satu sosok penting dalam menggerakkan dunia seni di Padangpanjang, Sumatera Barat. Ia menjadi guru, teman belajar, dan ayah bagi anak-anak muda di Padangpanjang untuk belajar menulis karya sastra hingga berteater.
Ia memang dikenal sebagai sastrawan dan dramawan aktor, penulis naskah, hingga sutradara, sekaligus dosen teater di Insitut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Bang Soel telah melakoni dua dunia seni itu sastra dan teater sejak mahasiswa di FKIP Bahasa & Sastra Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Seperti halnya di Padangpanjang menggerakkan Kuflet, di Aceh ia menggerakkan Cempala Karya. Bedanya, komunitas Kuflet berbasis di rumahnya di kawasan Kampung Jambak, Padangpanjang. Sementara Cempala Karya atau lebih akrab dikenal dengan Sanggar Ceka berbasis di kampus FKIP Unsyiah (yang kini berubah singkatan menjadi USK).
Meski berbeda tempat, kedua komunitas itu punya benang merah yang sama: dikelola dengan semangat mengobarkan api seni dan sastra di kalangan anak muda. Banyak penulis tergabung di Cempala Karya, sebagian lagi memang lahir karena berproses di sanggar itu. Hal serupa terjadi di Kuflet, ia terus membimbing dan menenami belajar anak-anak muda, sebagian besar mahasiswa yang berkuliah di ISI Padanpanjang, untuk menulis hingga berteaer.
Sementara ia pun tetap berkaya, menulis esai, cerita, dan puisi. Buku puisi ini adalah buktinya.
Puisi-puisi dalam Padangpanjang 999 lahir dari kehidupan yang dijalani sepenuh-penuhnya. Tidak ada jarak antara Bang Soel sebagai manusia, sebagai seniman, dan sebagai pengajar. Apa yang ia tulis adalah apa yang ia alami dan renungkan. Karena itu, membaca buku ini seperti mengikuti perjalanan batin seorang penyair yang hidup berdampingan dengan hujan, kabut, gunung, bencana, cinta, dan kehilangan hari demi hari, tahun demi tahun.
Padangpanjang, dalam puisi-puisi Bang Soel, bukan sekadar kota kecil di kaki gunung. Ia adalah ruang belajar. Ruang ujian. Ruang pengendapan. Alam di sekitarnya, Marapi yang kadang murka, hujan yang tak pernah benar-benar jauh, kabut yang sering turun tanpa aba-aba, menjadi bagian dari bahasa puisinya. Alam tidak hadir sebagai latar yang indah, melainkan sebagai kekuatan yang mengingatkan manusia akan batas-batas dirinya.
Puisi pembuka Padangpanjang 999 – yang juga menjadi judul --- adalah pintu masuk ke seluruh dunia batin buku ini. Di sana, Bang Soel tidak sedang memotret Padangpanjang secara fisik, melainkan merawatnya sebagai ruang kesadaran. Kita membaca bagaimana ia memandang kota itu sebagai tempat manusia bercermintentang kesombongan yang harus dilepaskan, rindu yang harus dirawat, cinta yang harus dijaga agar tidak berubah menjadi bara yang membakar kepala. Puisi ini seperti penanda bahwa puisinya tidak ingin memamerkan keindahan semata, melainkan mengajak pembaca menunduk sejenak dan mendengar dalam tenang.
Bang Soel menulis: di sini/ sedang meriwayatkan legenda/ mengirimkan matahari, gerimis dan hujan / mengintip bulan sunyi dipikiran. Menghitung/ sansai nyeri menyekap sedang rindu/ terjaring di kulit / daun.
Nada lirih, jeda yang panjang, dan pilihan kata sederhana menjadi ciri khas puisi-puisi Bang Soel. Ia tidak tergesa-gesa menjelaskan. Ia memberi ruang bagi kita untuk menikmati kata-kata tanpa diburu-buru waktu untuk memaknainya. Tiga puluh sekian puisi berjudul padangpanjang, contohnya, tetap dalam nada semacam itu. Begitu pula puisi-puisi lain dalam buku ini.
Ini berbeda jauh nadanya dengan sejumlah puisi Bang Soel ketika ia mahasiswa di Aceh yang kerap lantang. Meskipun sebagian puisi lainnya masa-masa itu juga reflektif namun nadanya sekarang jauh lebih tenang. Salah satu contoh puisi Bang Soel yang lantang itu adalah Ikrar Para Penganggur (ditulis pada 1989). Ia bersyair: Lepaskan belenggu pengangguran/ menjerat jiwa semakin parah/ melahirkan wajah-wajah kepalsuan/ pembawa wabah penyakit menular.
Belakangan, puisi-puisinya lebih merasuk sebagai pergulatan batin dan kesadaran kuat akan kehidupan, alam, lingkungan, dan “ketentuan Tuhan”, yang mengajak kita ikut merenung dan sekaligus “berzikir”. Alur puisi-puisinya berjalan pelan. Sehingga buku Padangpanjang 999 bukan soal memahami secepat mungkin, tetapi bersedia berhenti sejenak, menikmati, dan merasakan. Menjahit makna di antara kata-kata dan kegelisahan.
Kedekatan Bang Soel dengan alam Padangpanjang juga menjelaskan mengapa bencana menjadi tema yang berulang. Seperti halnya Aceh, tanah lahirnya, yang akrab dengan bencana, bahkan pernah sangat parah yakni tsunami dan bencana terbaru banjir dan longsor. Namun bencana dalam puisi-puisinya tidak hadir sebagai peristiwa yang ingin mengagetkan. Ia hadir sebagai bagian dari kehidupan yang harus diterima dengan kesadaran dan kerendahan hati.
Puisi Lelaki yang Memikul Merapi di Pundaknya memperlihatkan hal itu dengan jelas. Gunung tidak hanya dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai amanah. Manusia yang hidup di sekitarnya digambarkan bukan sebagai korban semata, melainkan sebagai subjek yang harus belajar membaca tanda-tanda. Ia mulai puisinya dengan sikap bersahat: aku/ tak ingin resah. Walau/ Marapi acap mengantarkan kepundan / bersama hujan ke rumah/ rumah.// : Allah menegur dengan cinta-Nya.
Baris-baris puisi ini terasa sangat dekat dengan kehidupan Bang Soel sendiriseorang yang memilih tinggal, mengajar, dan berkarya di kota yang rawan, tetapi penuh makna. Memikul Merapi bisa dibaca sebagai metafora kesediaan untuk bertahan, untuk tidak lari, dan untuk terus mengolah pengalaman pahit menjadi kebijaksanaan. Di tangan Bang Soel, puisi tidak berteriak, tetapi berzikir.
Cinta dan kasih sayang adalah urat nadi lain yang mengalir kuat dalam buku ini. Cinta kepada orang tua, kepada istri, kepada anak, kepada komunitas, dan kepada kampung halaman tidak ditampilkan secara sentimentil. Ia hadir sebagai tanggung jawab. Puisi-puisi tentang Abi dan Mak, tentang keluarga, tentang usia yang kian menua, dibaca seperti doa yang diucapkan perlahan. Ada rasa kehilangan, tetapi tidak ada pemberontakan. Ada duka, tetapi tidak ada dendam.
Di titik ini, kita bisa melihat bagaimana puisi bagi Bang Soel adalah jalan spiritual. Ia tidak memisahkan kehidupan sehari-hari dari iman. Doa hadir dalam hujan, zikir berbaur dengan kabut, dan sujud terasa dekat dengan tanah. Tuhan tidak diletakkan jauh di langit, tetapi dirasakan di setiap peristiwabaik yang menyenangkan maupun yang melukai.
Puisi-puisi Bang Soel juga tidak menutup mata terhadap persoalan sosial. Ada kegelisahan terhadap kekuasaan, terhadap hilangnya empati, terhadap manusia yang saling melukai. Namun sekali lagi, ia tidak memilih bahasa kemarahan. Kritik disampaikan dengan nada getir, seolah penyair lebih memilih mengajak merenung daripada menghakimi. Dalam kesenyapan itu, justru terasa keberanian sikapnya.
Rentang waktu penulisan puisi-puisi dalam Padangpanjang 999 cukup panjang. Namun buku ini terasa utuh. Ada kesinambungan batin yang terjaga. Kita bisa mengikuti perjalanan Bang Soel dari satu fase ke fase laindari kegelisahan, ke penerimaan, ke pendalaman makna hidup. Buku ini seperti catatan ziarah: bukan hanya ke tempat-tempat yang membentuk dirinya, tetapi ke dalam dirinya sendiri.
Sebagai pengajar dan penggerak komunitas, Bang Soel tidak pernah memisahkan proses berkarya dengan proses membimbing. Apa yang ia ajarkan kepada anak-anak muda di Kuflet dan Cempala Karya juga ia jalani sendiri: kesetiaan pada proses, keberanian menghadapi sunyi, dan kejujuran pada pengalaman hidup. Padangpanjang 999 adalah buah dari sikap itu.
Membaca buku ini, kita tidak sedang diajak mengagumi penyair, tetapi diajak berjalan bersamanya. Menyusuri kabut, menepi sejenak di hujan, menunduk di hadapan gunung, dan sesekali mengingat orang-orang yang telah pergi. Puisi-puisi ini tidak menjanjikan jawaban, tetapi menawarkan ketenangan: bahwa hidup, sekeras apa pun, masih bisa dirawat dengan cinta dan kasih sayang.
Seperti ia mengasihi, meyayangi, dan terus membimbing serta menemani belajar seni dan sastra “anak-anaknya” di Kuflet dan Ceka, juga mahasiswanya di kampus ISI Padangpanjang, juga di kampus-kampus lain dan sekolah (SMA) tempat ia mengajar. Banyak orang tahu: Bang Soel mengajar di sejumlah kampus di Sumatera Barat, selain di ISI, serta di beberapa sekolah tingkat menengah di Padangpanjang.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, Padangpanjang 999 mengajak kita untuk sejenak melambat. Membaca ulang diri sendiri. Membaca ulang perjalanan. Membaca ulang setiap langkah. Membaca ulang sekeliling kita. Mengingat kembali apa yang penting. Barangkali di situlah kekuataan utama puisi-puisi di buku ini: menghadirkan pengalaman personal dengan nada yang menggugah kesadaran, tanpa berumit-rumit dengan bahasa. (*)
Bandung, 26 Desember 25





