Notification

×

Iklan

Iklan

Strategi Bertahan Saat Bursa Lesu: Kapan Investor Harus Menunggu?

20 Mei 2026 | 10:00 WIB Last Updated 2026-05-20T03:00:15Z


Pasbana - Pasar saham itu seperti laut. Ada masa ombak tenang, ada pula badai besar yang membuat banyak kapal memilih menepi. Saat ini, banyak investor merasakan fase “badai” tersebut—harga saham turun, sentimen negatif mendominasi, dan rasa percaya diri pelaku pasar ikut terkikis.

Di tengah kondisi seperti ini, muncul satu pertanyaan klasik: haruskah tetap beli, atau justru menunggu?

Kenapa Banyak Investor Salah Timing?


Dalam fase pasar melemah, kesalahan paling umum adalah membeli hanya karena harga terlihat murah. Padahal, murah belum tentu aman.

Beberapa indikator penting yang biasanya diperhatikan analis pasar di Bursa Efek Indonesia antara lain:

• Rebound dengan volume besar
Kenaikan harga harus disertai transaksi tinggi. Artinya, dana besar mulai masuk kembali ke pasar.

Didukung sentimen positif nyata
Rebound tanpa katalis berita sering hanya “pantulan sementara”.

• Perubahan psikologi pasar
Dari pesimis menjadi optimistis—biasanya ditandai munculnya kembali minat beli investor institusi.

Tanpa tiga faktor ini, rebound sering berakhir sebagai bull trap.

Pasar Sedang Kekurangan Katalis

Sejumlah analis menilai tekanan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor makro: ketidakpastian ekonomi global, arah suku bunga, hingga sikap kebijakan moneter dari Bank Indonesia.

Ketika berita positif minim, strategi paling rasional bukan agresif membeli, melainkan wait and see. Dalam dunia investasi, tidak melakukan transaksi juga merupakan keputusan investasi.

Seperti sering disorot media finansial termasuk CNBC Indonesia, fase sideways atau turun tajam justru menjadi periode akumulasi informasi, bukan akumulasi saham.

Strategi Survival Investor Saat Market Lesu

Agar tetap bertahan, investor ritel bisa menerapkan langkah praktis:
  • Simpan sebagian cash sebagai “peluru” saat tren benar-benar berubah
  • Hindari membeli hanya karena harga diskon
  • Fokus pada saham fundamental kuat
  • Tunggu momentum positif yang jelas, bukan harapan

Ingat, pasar saham bukan lomba cepat, melainkan permainan bertahan lama.
Ketika berita positif besar akhirnya datang, peluang biasanya terbuka lebar. Investor yang sabar justru sering menjadi pemenang.

Mulailah membangun kebiasaan baru: belajar membaca siklus pasar, bukan sekadar mengikuti emosi. Literasi finansial adalah senjata terbaik untuk survive—dan menang—di bursa saham.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update