Pasbana - Pasar modal sering kali menjadi medan tempur yang membingungkan bagi investor ritel, terutama saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat.. Menghadapi kondisi pasar yang penuh gejolak, Koko Cuan Lagi, seorang investor dan trader profesional, membagikan filosofi "Tameng & Serang" sebagai panduan navigasi agar portofolio tetap sehat dan tidak "boncos".
Mengenal Filosofi Tameng & Serang
Kunci kesuksesan di bursa saham bukanlah sekadar menebak arah harga, melainkan tahu kapan harus bertahan dan kapan harus agresif."Tameng" digunakan saat kondisi pasar sedang buruk untuk menyelamatkan modal, sementara "Serang" diterapkan saat pasar sedang bagus untuk mengoptimalkan keuntungan.
Koko menekankan bahwa disiplin dalam menerapkan kedua strategi ini adalah hal yang menyelamatkan investor dalam jangka panjang..
Dua Kesalahan Fatal: FOMO dan Enggan Cut Loss
Banyak investor, terutama generasi muda yang terpapar media sosial, sering terjebak dalam fenomena FOMO (Fear of Missing Out).. FOMO saat ini dinilai lebih agresif karena pengaruh konten media sosial yang sering kali hanya menonjolkan keuntungan tanpa memperhitungkan risiko.Selain FOMO, kesalahan terbesar lainnya adalah ketidakberanian untuk mengambil keputusan cut loss.. Jika modal sudah tergerus terlalu dalam, misalnya hingga minus 50%, maka dibutuhkan kenaikan 100% hanya untuk sekadar kembali ke titik impas (BEP).
Melakukan cut loss lebih awal jauh lebih mudah untuk dipulihkan dibandingkan membiarkan kerugian membengkak hingga "nyangkut" lama.
Strategi Trading: Teknik ‘Beli Sore Jual Pagi’ (BSJP)
Bagi mereka yang aktif di perdagangan harian, Koko memperkenalkan teknik Beli Sore Jual Pagi (BSJP).Strategi ini dilakukan dengan membeli saham pada pukul 15.50 (saat pre-closing) untuk menghindari volatilitas harian yang ekstrem.. Saham tersebut kemudian dijual pada pagi hari berikutnya saat pre-opening atau awal sesi perdagangan jika target profit 1-3% sudah tercapai.
Namun, teknik ini memiliki aturan ketat:
- Hindari posisi jika IHSG sedang memerah lebih dari 1%..
- Jangan menahan posisi saat menjelang libur panjang (long weekend)..
- Pilih saham yang menunjukkan kekuatan (misal: tetap hijau saat indeks merah) dan memiliki likuiditas baik..
Manajemen Modal dan Psikologi Pasar
Disiplin dalam money management adalah fondasi utama.. Koko menyarankan untuk mengurangi paparan (exposure) modal saat pasar sedang turun dan selalu menyediakan dana tunai (spare cash) untuk berjaga-jaga.. Hindari sikap overconfidence yang sering kali membuat seseorang berani menggunakan margin secara berlebihan saat pasar sedang reli.Jika emosi mulai terganggu akibat melihat portofolio yang memerah, Koko menyarankan untuk berhenti sejenak dari aktivitas trading.. "Liburan juga tidak masalah, pasar besok masih buka," ujarnya, menekankan pentingnya menjaga kejernihan pikiran dalam mengambil keputusan.
Pandangan Jangka Panjang: IHSG Masih Menarik
Meski IHSG sempat mengalami koreksi hingga 27-28% di awal tahun 2026, data historis 10 tahun terakhir menunjukkan bahwa penurunan biasanya terbatas di angka 30-35%, kecuali jika terjadi krisis global yang masif.Secara historis dari tahun 1997 hingga 2025, indeks saham cenderung naik dalam jangka panjang.. Oleh karena itu, investor disarankan untuk tidak menyerah terlalu cepat.
Kuncinya bukan pada mencari harga terbawah atau menjual di harga terpuncak, melainkan memahami siklus pasar dan memiliki rencana keluar yang jelas, baik saat untung maupun rugi.
Investasi adalah perjalanan maraton, bukan lari cepat. Dengan menguasai strategi pertahanan yang kuat melalui cut loss yang disiplin dan serangan yang terukur melalui manajemen modal, siapa pun bisa meraih sukses di pasar modal modern. (*)




