Pasbana - Setiap 29 Juni, Hari Keluarga Nasional mengingatkan kita bahwa keluarga bukan sekadar soal tinggal di bawah satu atap. Di era ketika pekerjaan memaksa banyak orang merantau, keluarga kini juga belajar bertahan di antara jadwal penerbangan, panggilan video, dan sinyal internet yang kadang lebih setia daripada waktu luang.
Tema Harganas 2026, "Ayah Wajib Hadir", terasa seperti pesan sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Sebab, yang paling dirindukan anak bukan selalu oleh-oleh dari kota seberang, melainkan pertanyaan kecil, "Hari ini sekolahnya bagaimana?"
Kehadiran memang tak selalu diukur dari jarak beberapa meter. Ada ayah yang setiap malam pulang ke rumah, tetapi pikirannya masih tertinggal di kantor. Sebaliknya, ada ayah yang terpisah ratusan kilometer, namun tak pernah lupa mengucapkan selamat tidur melalui layar ponsel.
Ironisnya, teknologi yang sering dituding menjauhkan manusia justru menjadi jembatan yang menghangatkan keluarga LDR.
Tentu, hubungan jarak jauh bukan perkara mudah. Salah paham lebih mudah muncul ketika ekspresi digantikan emoji. Beban pengasuhan sering kali bertumpu pada satu pihak. Kesepian pun diam-diam menyelinap jika komunikasi mulai renggang. Namun, semua itu bukan alasan untuk menyerah.
Kuncinya bukan berbicara lebih lama, melainkan hadir dengan lebih utuh. Luangkan 20 menit setiap hari untuk menelepon anak. Bacakan dongeng sebelum tidur, bantu mengerjakan PR melalui panggilan video, atau makan malam "di meja yang sama" meski dipisahkan layar.
Sesekali kirim pesan suara, video singkat, atau sekadar ucapan penyemangat sebelum anak berangkat sekolah. Hal-hal kecil itulah yang kelak menjadi kenangan besar.
Saat akhirnya cuti datang, simpan dulu telepon kantor. Anak tidak membutuhkan ayah yang sibuk menjawab notifikasi, melainkan ayah yang benar-benar mendengarkan cerita mereka.
Pada akhirnya, keluarga yang kuat bukanlah keluarga tanpa jarak, melainkan keluarga yang tidak membiarkan jarak menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebab bagi seorang anak, kehadiran ayah bukan ditentukan oleh alamat tempat bekerja, melainkan oleh ruang yang ia isi di dalam hati. (*)




