Pasbana - Cinta sering digambarkan sebagai kekuatan yang mampu menembus segala batas. Namun dalam kisah legendaris Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, cinta justru karam di tengah gelombang adat, status sosial, dan dominasi laki-laki.
Novel karya Buya Hamka yang terbit pada 1938 ini bukan sekadar roman tragis antara Zainuddin dan Hayati. Di balik kisah yang menguras emosi, tersimpan kritik sosial yang masih relevan hingga hari ini: bagaimana perempuan kerap kehilangan hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Hayati mencintai Zainuddin. Namun cinta itu tidak cukup kuat untuk melawan keputusan keluarga. Dalam struktur masyarakat yang digambarkan Hamka, suara perempuan berada di bawah otoritas mamak dan kepentingan adat. Akibatnya, Hayati dipaksa menerima Aziz, pria yang dianggap lebih layak karena status dan kekayaannya.
Di titik inilah Hayati tampil sebagai korban sistem patriarki. Ia bukan penentu nasibnya, melainkan objek dari keputusan orang lain. Kebahagiaan pribadi dikorbankan demi menjaga martabat keluarga dan norma sosial yang berlaku.
Sementara itu, perjalanan Zainuddin menghadirkan lapisan cerita yang lebih kompleks. Awalnya ia adalah sosok yang tersisih karena kemiskinan dan latar belakang keluarganya. Namun setelah sukses menjadi penulis terkenal, posisi kuasanya berubah.
Ketika Hayati kembali setelah rumah tangganya dengan Aziz runtuh, Zainuddin tidak serta-merta membuka pintu maaf. Luka masa lalu membuatnya menempatkan Hayati dalam situasi yang penuh tekanan emosional. Dari sudut pandang feminisme, perubahan ini menunjukkan bagaimana seseorang yang pernah tertindas dapat mengulangi pola dominasi ketika memperoleh kekuasaan.
Yang lebih menyentuh, Hayati seolah menjadi “barang” yang berpindah dari satu laki-laki ke laki-laki lain. Saat Aziz menceraikannya dan menyerahkannya kembali kepada Zainuddin, posisi Hayati nyaris tidak memiliki ruang untuk menentukan pilihan. Harga dirinya ditentukan oleh relasinya dengan para lelaki di sekelilingnya.
Melalui tragedi Zainuddin dan Hayati, Buya Hamka sebenarnya menyampaikan kritik yang jauh melampaui kisah cinta. Novel ini memperlihatkan bagaimana aturan sosial yang kaku dapat merenggut kebebasan individu, terutama perempuan, untuk menentukan masa depannya sendiri.
Lebih dari delapan dekade setelah diterbitkan, pesan tersebut masih terasa relevan. Pertanyaannya sederhana namun penting: sudahkah perempuan benar-benar memiliki kebebasan penuh untuk memilih jalan hidupnya sendiri?
Kisah Hayati mengingatkan bahwa cinta bisa saja gagal karena keadaan, tetapi hak setiap manusia untuk menentukan nasibnya tidak seharusnya tenggelam bersama zaman. Makin tahu Indonesia.(*)




