Pasbana - Nilai tukar rupiah memang masih menunjukkan daya tahan dalam sepekan terakhir. Namun, di balik stabilitas tersebut, ancaman baru mulai mengintai. Penguatan indeks dolar AS (DXY) diperkirakan kembali menjadi faktor yang dapat menekan mata uang Garuda menuju area psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Data pasar spot pada Jumat (19/6/2026) menunjukkan rupiah ditutup melemah tipis 0,06 persen ke level Rp17.804 per dolar AS. Kendati demikian, secara mingguan rupiah masih menguat 0,31 persen dibandingkan posisi pekan sebelumnya di Rp17.860 per dolar AS. Tren serupa tercermin pada kurs referensi Jisdor Bank Indonesia yang menguat 0,53 persen menjadi Rp17.826 per dolar AS.
Meski sentimen positif mulai terbentuk, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai ruang penguatan rupiah masih dibayangi potensi rebound dolar AS. Secara teknikal, indeks dolar diperkirakan bergerak dari area 99,2 menuju level resistensi 101,7. Kondisi tersebut membuka peluang rupiah bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp18.000 per dolar AS pada pekan mendatang.
Menurut Ibrahim, terdapat empat faktor utama yang menopang kekuatan dolar. Pertama, ketidakpastian geopolitik global. Memanasnya kembali konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur membuat investor memburu dolar AS sebagai aset aman. Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran serta meningkatnya tensi Rusia-Ukraina ikut mendorong harga minyak dan memperkuat greenback.
Faktor kedua berasal dari arah politik Amerika Serikat yang semakin proteksionis di bawah Presiden Donald Trump. Fokus Washington kini bergeser pada perang dagang dan penerapan tarif resiprokal terhadap puluhan negara mitra, termasuk Indonesia yang dikenakan tarif ekspor 19 persen. Kebijakan semacam ini lazimnya memperkuat posisi dolar karena meningkatkan arus modal kembali ke AS.
Dari sisi moneter, pergantian kepemimpinan Federal Reserve kepada Kevin Walsh juga menjadi sorotan. Sikap yang lebih hawkish dengan peluang mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga membuat aset berbasis dolar tetap menarik bagi investor global.
Sementara itu, dari aspek permintaan dan penawaran, tren pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia sebagai bagian dari strategi lindung nilai terus berlangsung. Sepanjang kuartal I-2026, pembelian emas global telah mencapai 244 ton.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat bahwa pergerakan nilai tukar tidak hanya dipengaruhi faktor domestik. Geopolitik, kebijakan moneter, hingga perang dagang global dapat dengan cepat mengubah arah pasar. Stabilitas rupiah pada akhirnya bukan sekadar soal kurs, melainkan cerminan kemampuan ekonomi nasional menghadapi gelombang ketidakpastian dunia. (*)




