Notification

×

Iklan

Iklan

Harga Komoditas Turun, Saatnya Cicil Emas, Tembaga, dan Aluminium?

27 Juni 2026 | 11:21 WIB Last Updated 2026-06-27T04:21:23Z



Pasbana - Bayangkan Anda sedang melihat obral besar di pusat perbelanjaan. Banyak orang justru menghindar karena mengira kualitas barangnya menurun. Padahal, bisa saja barang yang didiskon itu tetap memiliki nilai tinggi dalam jangka panjang. Situasi serupa kini terjadi di pasar komoditas global.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas, tembaga, dan aluminium terkoreksi cukup tajam. Koreksi tersebut dipicu perubahan ekspektasi pasar terhadap inflasi global dan arah kebijakan suku bunga bank sentral. 

Namun bagi investor jangka panjang, pelemahan ini belum tentu menjadi sinyal bahaya. Sebaliknya, kondisi tersebut justru dapat membuka peluang akumulasi secara bertahap.

Mengapa Harga Komoditas Terkoreksi?

Beberapa faktor utama yang memengaruhi pasar saat ini antara lain:

Ekspektasi inflasi berubah. Kekhawatiran kenaikan inflasi akibat lonjakan harga minyak mulai mereda setelah ketegangan di Timur Tengah mereda dan harga minyak kembali stabil di kisaran US$69–70 per barel.

Prospek suku bunga. Jika inflasi terus menurun, peluang bank sentral mengadopsi kebijakan moneter yang lebih longgar (dovish) semakin terbuka, yang umumnya mendukung harga aset komoditas.

• Sentimen jangka pendek. Tekanan harga lebih banyak dipengaruhi psikologi pasar dibanding perubahan fundamental.

Tiga Komoditas yang Masih Menarik

Emas tetap memiliki fondasi kuat. Tingginya utang global, ketidakpastian geopolitik, serta pembelian emas oleh berbagai bank sentral menjadi penopang permintaan jangka panjang.

Tembaga diproyeksikan menikmati pertumbuhan permintaan berkat tren elektrifikasi dunia. Kendaraan listrik, pembangunan jaringan listrik, pusat data, hingga perkembangan kecerdasan buatan membutuhkan konsumsi tembaga yang terus meningkat, sementara pasokan baru masih terbatas.

Aluminium juga memiliki prospek positif. Selain mulai menggantikan tembaga pada sejumlah aplikasi industri karena lebih ekonomis, pasokan aluminium berpotensi lebih ketat akibat pembatasan produksi bahan baku bauksit di beberapa negara.

Strategi Investor

Tidak ada yang mampu memastikan kapan harga akan mencapai titik terendah. Karena itu, strategi dollar cost averaging (DCA) atau membeli secara bertahap menjadi pendekatan yang lebih bijak dibanding mencoba menebak dasar harga.

Investor juga dapat mencermati emiten Indonesia yang memiliki eksposur terhadap komoditas tersebut, seperti sektor pertambangan emas, tembaga, maupun aluminium. Namun, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.

Pada akhirnya, pasar sering kali terlalu fokus pada sentimen jangka pendek hingga mengabaikan cerita besar di balik suatu aset. Bagi investor yang berorientasi jangka panjang, koreksi harga justru dapat menjadi momentum untuk membangun portofolio secara disiplin. 

Tingkatkan literasi keuangan, pahami fundamental investasi, dan jangan biarkan volatilitas sesaat mengaburkan potensi pertumbuhan di masa depan. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update