Pariaman, pasbana - Dentuman gandang tasa terdengar bersahut-sahutan dari kejauhan. Aroma laut bercampur hiruk-pikuk warga yang mulai memadati sudut Kota Pariaman. Di kota kecil di pesisir barat Sumatera itu, sebuah tradisi berusia ratusan tahun kembali hidup.
Hoyak Tabuik Piaman 2026 resmi digelar pada 16 hingga 28 Juni, menghadirkan perpaduan antara ritual, sejarah, dan perayaan budaya yang selalu dinantikan.
Bagi masyarakat Pariaman, Tabuik bukan sekadar festival tahunan. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan atas gugurnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam tragedi Karbala.
Nilai sejarah dan spiritual itu diwariskan turun-temurun dan kini menjelma menjadi salah satu agenda unggulan nasional yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.
Di dua kawasan yang dipisahkan Sungai Pariaman, kelompok Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang sibuk merampungkan menara raksasa setinggi sekitar 12 meter. Setiap bagian dibuat dengan penuh ketelitian, karena seluruh prosesi memiliki makna simbolis yang mendalam.
Ritual dimulai melalui Maambiak Tanah pada 16 Juni, saat segumpal tanah dari dasar sungai diambil sebagai lambang pengambilan jasad Husein. Empat hari kemudian, prosesi Manabang Batang Pisang digelar dengan sekali tebasan pedang, melambangkan pemenggalan di medan Karbala.
Malam harinya, suasana berubah menegangkan lewat Basalisiah. Kedua kelompok bertemu dalam aksi saling dorong yang menjadi simbol pertempuran. Tradisi kemudian berlanjut dengan Maradai, Turun Panja, Maatam, hingga pawai Maarak Jari-Jari dan Maarak Sorban yang melibatkan masyarakat luas.
Puncak kemeriahan akan berlangsung pada 28 Juni. Ribuan orang diperkirakan memadati Pantai Pariaman untuk menyaksikan Tabuik Naik Pangkek, arak-arakan kolosal, hingga prosesi pelarungan Tabuik ke laut—sebuah penutup yang sarat filosofi tentang keikhlasan dan pengembalian segala sesuatu kepada Sang Pencipta.
Pemerintah Kota Pariaman menargetkan sekitar 200 ribu wisatawan hadir tahun ini. Berbagai persiapan dilakukan bersama kepolisian, TNI, dan instansi terkait guna menjamin keamanan serta kelancaran lalu lintas.
Tak hanya menjadi magnet wisata, Hoyak Tabuik juga menggerakkan ekonomi masyarakat. Bazar ekonomi kreatif, kuliner khas Minangkabau, kerajinan tangan pesisir, hingga pertunjukan gandang tasa menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha lokal.
Bagi para pelancong, Hoyak Tabuik Piaman bukan hanya tontonan. Ia adalah kesempatan menyaksikan bagaimana sejarah, keyakinan, dan identitas budaya berpadu menjadi perayaan yang hidup dari generasi ke generasi.
Jika berencana berkunjung ke Sumatera Barat pada akhir Juni, sempatkan singgah ke Pariaman. Sebab, di sana, sebuah kisah lama tentang pengorbanan masih terus diceritakan melalui irama, warna, dan semangat masyarakat pesisir yang tak pernah padam. Makin tahu Indonesia.(*)




