Notification

×

Iklan

Iklan

Pelatihan Musik Tradisional Nusantara Lahirkan Musik Kolaboratif Bertajuk "Srikandi In Harmony Multicultural"

28 Juni 2026 | 11:16 WIB Last Updated 2026-06-28T06:26:43Z


Oleh: Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn. *)

Pasbana - Pembinaan dan pelatihan seni musik tradisi nusantara dilakukan I Dewa Nyoman Supenida, S.Sn., M.Sn., dan Sriyanto, S.Sn., M.Sn., bagi anggota Sanggar Seni Budaya Srikandi di Kota Sawahlunto yang dilakukan dua tahap pada 9-11 Oktober 2025  merupakan sebuah pengabdian kepada masyarakat dua orang dosen Seni Karawitan ISI Padangpanjang. hal ini dilakukan karena kehidupan masyarakat Sawahlunto yang terdiri dari berbagai kelompok etnis, yakni MInangkabau, Jawa, Sunda, Batak dan Bugis serta beberapa etinis lainnya.

Kehidupan dalam potensi budaya yang memiliki keberagaman budaya memiliki kekayaan tradisi seni yang diwariskan oleh masing-masing etnis. Hal ini sudah barang tentu melahirkan ekspresi seni yang khas termasuklah tradisi musik yang memiliki penguatan nilai sejarah, identitas budaya dan kearifan lokal yang perlu dijaga dan dirawat. 




Karya Kolaboratif yang bertajuk “Srikandi In Harmony Multicultural” mengangkat semangat perempuan sebagai symbol kekuatan, ketangguhan, kepemimpinan, dan pemersatu keberagaman budaya. Sosok Srikandi dijadikan metafora dalam mempresentasikan peran perempuan dalam membangun harmoni di tengah masyarakat yang multicultural.   
Pelatihan musik tradisi nusantara ini akan mampu membangun ruang dialog budaya lewat aktivitas kesenian. 

Musik sesungguhnya menjadi media yang sangat efektif dalam mempertemukan berbagai identitas budaya. Atas dasar itu, I Dewa Nyoman Supenida dengan Sriyanto melatih keterampilan musikal agar dapat saling menghargai, toleransi dan rasa memiliki terhadap keberagaman budaya.




Pelatihan musik tradisi ini nusantara sebagai upaya strategis  dalam menjaga keberlangsungan terhadap perkembangan warisan budaya untuk memperkokoh semangat persatuan dalam keberagaman yang tercermin dalam kehidupan bermasyarakat di Kota Sawahlunto.

Pelatihan musik tradisi nusantara dapat juga meningkatkan kompetensi musikal peserta  sehingga akan memperkuat toleransi dan apresiasi terhadap keberagam budaya dalam masyarakat multietnis di Kota Sawahlunto. 




Pelatihan ini memakai pendekatan partisipatif dan demontratif serta praktik langsung (learning by doing). Seperti yang diucapkan I Dewa Nyoman Supenida, yakni “Metode pelatihan ini dipilih karena pembelajaran musik tradisi tidah hanya menuntut pemahaman konsep, tetapi juga penguasaan keterampilan musical melalui pengalaman praktik secara langsung.

Selain itu, perdekatan partisipatif memungkinkan peserta dari berbegai latar belakang  budaya untuk saling berinteraksi, berkolaborasi dan belajar bersama dalam suasana yang inklusif” (Wawancara pada hari Selasa, 2 Juni 2026, Pukul 10:00 WIB di Kota Padang Panjang).

Sedangkan Sriyanto mengatakan, “Metode pelatihan meliputi ceramah, diskusi, praktik langsung, latihan kelompok, tutor sebaya, kolaborasi kreatif, evaluasi dan refleksi. Pelaksanaan pelatihan sudah barang tentu berorientasi pada pengalaman belajar peserta dengan menempatkan praktik musik sebagai kegiatan utama. 




Hal ini tentu diharapkan peserta amampu memahami, mempraktikkan, dan mengembangkan musik tradsional nuasantara dalam menumbuhkan sikap apresiatif terhadap keberagam budaya yang hidup dalam masyarakat multietnis di Kota Sawahlunto” (Wawancara pada hari Selasa, 2 Juni 2026, pukul 11:00 WIB di Kota Padang Panjang) . 

Pelatihan musik tradisi nusantara yang dilakukan I Dewa Nyoman Supenida dengan Sriyanto kepada masyarakat Kota Sawahlunto secara bertahap, pertama dengan pengenalan konsep, penguasaan teknik dasar, pembelajaran repertoar hingga penyusunan dan penyajian karya kolaboratif sebagai berikut. 

Pengenalan konsep musikal, instrumen dan teknik dasar dalam memainkan instrumen musik nusantara seperti gamelan Jawa dan Bali, Talempong Minangkabau, Kolintang Sulawesi, Gondang Batak sampai dengan menguasai teknik dasar dalam memproduksi bunyi. Kedua merancang sebuah karya musik kolaboratif bertemakan keberagaman masyarakat multi-kultural di kota Sawahlunto. 

Pelatih membimbing peserta dalam merancang karya musik kolaboratif menjadi potensi artistik yang diterjemahkan menjadi karya musik mempersatukan kelompok etnis agar  memiliki toleransi dan harmoni dalam kehidupan sosial masyarakat sehingga mampu menyusun konsep musikal. 

Ketiga menyeleksi jenis instrumen yang digunakan dalam mewujudkan sebuah karya musik kolaboratif. Tentu dalam hal ini mengembangkan kemampuan peserta dalam memilih dan menentukan instrumen yang digunakan untuk proses penciptaan karya musik kolaboratif. 




Media bunyi yang digunakan untuk mewujudkannya antara lain instrumen dari gamelan Jawa (Saron, Bonang, Ketuk, Kempul-Gong, Kendang Ciblon. Instrumen dari gamelan Bali (Suling, Cenceng, Kopyak, Vokal Kecak). Instrumen dari musik Minangkabau (Talempomg, Bansi, Vokal/dendang). Instrumen dari musik Batak Toba (Gondang, Taganing, Vokal). Instrumen dari Sulawesi (Kolintang) dan Instrumen dari China (Dizi). Proses latihan musik kolaboratif ini nusantara bertajuk “Srikandi In Harmony Multicultural”.

Keempat Peserta sudah barang tentu pula, mampu menampilkan karya music kolaboratif nusantara secara utuh, komunikatif sebagai representasi nilai keberagaman yang tumbuh di tengah masyarakat Kota Sawahlunto sehingga menciptakan harmoni budaya pada masyarakat yang multicultural tersebut.

Luar biasa, I Dewa Nyoman Supenida dengan Sriyanto telah mampu menghasilkan sebuah karya musik yang monumental melalui pelatihan yang dialakukan secara masif dan terukur.

Kemudian menghasilkan karya desain musik kolaboratif nusantara “Srikandi In Harmony Multicultural” yang tidak hanya memiliki kualitas aritistik tetapi juga mengandung nilai-nilai edukatif tentang keberagaman dan pentingnya hidup berdampingan dalam masyarakat multikultural. (*)


*) Penulis adalah Sastrawan, esais, Kolomnis, Sutradara Teater, Pendiri Sanggar Cempala Karya Banda Aceh (1986), Pendiri UKM-Teater NOL Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh (1990), Pendiri Komunitas Seni Kuflet Kota Padang Panjang (1997), Pendiri UKM-PersMa Pituluik ISI Padangpanjang (1997), Sekretaris/Ketua Panitia Pendirian Kampus  Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Aceh (2012/2015), Dosen Jurusan Seni Teater dan Pascasarjana ISI Padangpanjang, Ketua Umum Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Sumatera Barat. 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update