Notification

×

Iklan

Iklan

Rupiah Jadi Prioritas, BI Siap Biarkan Yield Obligasi Naik untuk Memancing Dana Asing

10 Juni 2026 | 21:29 WIB Last Updated 2026-06-10T14:29:15Z


Pasbana - Di tengah tekanan pasar global yang belum sepenuhnya mereda, Bank Indonesia (BI) tampaknya mengirim pesan tegas kepada investor internasional: Indonesia siap menawarkan imbal hasil yang lebih menarik demi menjaga stabilitas rupiah.

Sinyal tersebut muncul setelah Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengisyaratkan kemungkinan kenaikan yield obligasi pemerintah serta peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Pesan itu disampaikan dalam diskusi virtual dengan investor dari Eropa dan Amerika Serikat pada Selasa (9/6), hanya beberapa jam setelah BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.

Kenaikan terbaru tersebut melanjutkan langkah agresif BI yang telah menaikkan BI Rate total 75 basis poin dalam kurun tiga pekan terakhir. Tujuannya jelas: memperkuat daya tarik aset keuangan domestik sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian arus modal global.

Menurut sumber Bloomberg yang mengikuti pemaparan tersebut, Perry memberi sinyal bahwa regulator akan membiarkan yield obligasi bergerak lebih tinggi. Dalam logika pasar, yield yang lebih besar berpotensi menarik investor asing untuk menempatkan dananya di instrumen surat utang Indonesia. Namun, strategi ini memiliki konsekuensi berupa meningkatnya biaya pinjaman pemerintah karena penerbitan obligasi menjadi lebih mahal.

Tidak hanya itu, BI juga disebut akan menahan diri dari pembelian obligasi pemerintah bertenor 10 tahun atau lebih, membuka kembali fasilitas repo guna menyerap likuiditas perbankan, serta memangkas biaya lindung nilai (hedging) bagi investor asing. Kombinasi kebijakan tersebut menunjukkan fokus utama bank sentral saat ini adalah memperkuat daya tarik pasar keuangan domestik.

Menariknya, sejumlah peserta menyebut keterlibatan langsung Perry dalam sesi paparan yang berlangsung panjang merupakan sesuatu yang jarang terjadi. Hal itu dinilai sebagai upaya memberikan keyakinan lebih kuat kepada investor global mengenai arah kebijakan Indonesia.

Pasar kini menunggu langkah berikutnya. Konsensus Bloomberg memperkirakan BI masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin lagi pada Rapat Dewan Gubernur 18 Juni 2026.

Bagi Indonesia, pertaruhannya bukan sekadar soal suku bunga. Yang sedang diperebutkan adalah kepercayaan investor global—sebuah faktor yang kerap menjadi penentu stabilitas mata uang dan ketahanan ekonomi di tengah gejolak dunia yang semakin dinamis. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update