Pasbana - Ketika banyak pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga acuan, Bank Indonesia justru mengambil langkah berbeda. BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%, sembari meluncurkan paket insentif yang dirancang untuk memperkuat daya tarik aset keuangan domestik tanpa membebani aktivitas ekonomi.
Strategi tersebut mencerminkan perubahan pendekatan bank sentral. Alih-alih mengandalkan instrumen suku bunga yang berisiko menekan kredit dan investasi, BI memilih memanfaatkan kebijakan yang lebih terarah guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mempertahankan aliran modal asing.
Keputusan yang diumumkan pada Rabu (22/7) itu juga mempertahankan lending facility di level 6,5% dan deposit facility sebesar 4,75%. Dengan demikian, rangkaian kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin selama Mei hingga Juni 2026 resmi berhenti untuk sementara.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa perluasan insentif dinilai lebih efektif dibandingkan menaikkan suku bunga dalam menarik arus modal dan menopang rupiah. Salah satu kebijakan utama adalah peningkatan insentif swap jual lindung nilai dari 10% menjadi 12,5%, disertai perluasan insentif DNDF jual lindung nilai sebesar 15%.
Secara sederhana, investor asing yang membeli Surat Berharga Negara (SBN) maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menghadapi risiko perubahan kurs saat mengonversi kembali investasinya ke mata uang asal. Melalui fasilitas lindung nilai (hedging), risiko tersebut dapat ditekan.
Insentif yang diberikan BI membuat biaya lindung nilai menjadi lebih murah sehingga imbal hasil bersih investasi meningkat. Dampaknya, instrumen keuangan Indonesia menjadi lebih kompetitif tanpa harus menaikkan suku bunga yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Bank Indonesia juga memperluas insentif transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra melalui tambahan premi swap beli lindung nilai sebesar 10% dan pengurangan premi DNDF jual lindung nilai sebesar 10%. Langkah ini bertujuan mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi lintas negara, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Respons pasar terlihat cukup positif. Rupiah ditutup menguat ke level Rp17.880 per dolar AS setelah sempat melemah hingga Rp17.947 pada perdagangan intraday. Meski demikian, ketahanan rupiah masih akan diuji, terutama di tengah lonjakan harga minyak dunia yang kembali mendekati US$95 per barel. Ke depan, efektivitas paket insentif BI akan menjadi penentu apakah stabilitas nilai tukar dapat terjaga tanpa tambahan kenaikan suku bunga. (*)




