Oleh: Muhammad Hafizh Khan
NIM: 2510523054
Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Manajemen, Universitas Andalas.
Pasbana - Jujur saja, di awal semester, saya mengira perkuliahan MKWU Agama hanya akan menjadi pengulangan dari apa yang sudah saya pelajari sejak bangku sekolah dasar hingga menengah. Saya membayangkan kelas yang kaku, penuh dengan hafalan dalil, doktrin, atau sekadar formalitas pemenuhan sks. Namun, setelah melewati satu semester berada di kelas Bapak Faiz Badridduja, asumsi tersebut perlahan luruh.
Bapak berhasil membawa gaya dan pembawaan yang berbeda ke dalam kelas ini. Agama tidak lagi diajarkan sekadar sebagai deretan aturan hitam-putih atau formalitas pembeljaran di kelas, melainkan sebagai kompas moral yang hidup dan relevan dengan dinamika kehidupan kami sebagai mahasiswa Unand terutama Feb.
Hal yang paling saya apresiasi dari cara mengajar Bapak adalah keberanian untuk memantik diskusi yang kontekstual dan sesuai dengan kehidupan sehari hari. Bagi saya pribadi, esensi dari pembelajaran agama di tingkat perguruan tinggi seharusnya memang bukan lagi soal cara beribadah secara mekanis, melainkan bagaimana nilai-nilai spiritual tersebut dimanifestasikan dalam kehidupan sosial.
Melalui materi-materi yang disampaikan, saya diajak untuk berpikir kritis mengenai posisi agama dalam memahami intstensi agama dalam menghadapi isu-isu modern—mulai dari etika digital, toleransi di tengah keberagaman kampus, hingga bagaimana menjaga kesehatan mental melalui pendekatan spiritual.
Kelas ini kadang menjadi ruang "jeda" yang menenangkan di tengah padatnya tugas-tugas kuliah yang ada di jurusan saya pribadi (Manajemen) . Saya merasa diingatkan kembali tentang esensi menjadi manusia yang utuh, yang tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual tetapi juga kematangan spiritual.
Namun, di sisi lain, saya juga merefleksikan bahwa terkadang pemahaman kami sebagai mahasiswa masih sangat dangkal. Seringkali kami terjebak dalam perdebatan kulit luar tanpa benar-benar meresapi substansi damai, ketenangan, dan kasih sayang yang dibawa oleh agama itu sendiri.
Kesan terdalam saya terhadap Bapak adalah sosok yang terbuka, tidak kaku, disiplin soal waktu, dan tidak menghakimi. Di zaman sekarang, sangat jarang menemukan figur pengajar agama yang mau mendengarkan keraguan atau pertanyaan-pertanyaan kritis mahasiswa tanpa langsung memberi label "kurang beriman" atau "salah". Pendekatan Bapak yang suportif dan santun membuat kelas terasa aman untuk mengeksplorasi pemikiran.
Pesan saya, tetaplah menjadi dosen yang disiplin akan waktu masuk, menyelipkan humor dan cerita-cerita humanis di sela-sela materi yang berat. Hal-hal kecil seperti itu yang justru membuat kami tetap terjaga dan antusias menyimak perkuliahan hingga menit terakhir. (*)
Saran untuk perkuliahan ke depan
Sebagai bentuk evaluasi yang jujur demi kebaikan kelas-kelas Bapak selanjutnya, ada beberapa hal yang ingin saya sarankan secara subjektif:• Porsi Diskusi Interaktif yang Lebih Banyak: Terkadang, materi yang disampaikan lewat PPT terlalu padat sehingga menyita waktu utama. Menurut saya, materi teoritis bisa dibatasi, lalu sisa waktunya dimaksimalkan untuk studi kasus atau diskusi kelompok interaktif mengenai fenomena sosial keagamaan saat ini atau kalua bisa di waktu belajar mengajar di kelas cukup bapak saja yang menjelaskan nanti di tugas akhir baru ada presentasi kelompok.
• Pemanfaatan Media Pembelajaran: Mungkin ke depannya Bapak bisa menyisipkan bedah video pendek, menganalisis artikel berita, atau bahkan podcast pendek yang relevan sebelum kelas dimulai sebagai pemantik diskusi agar suasana kelas lebih dinamis.
• Sistem Penilaian Tugas: Alangkah baiknya jika tugas-tugas mandiri lebih diarahkan pada bentuk aksi nyata atau refleksi personal (seperti tulisan ini), daripada tugas meringkas materi yang rentan memicu tindakan copy-paste di kalangan mahasiswa. Juga tambahan masukan kalua bisa pembobotan nilai asdos di kurangi dari 30% tersebut.




