Notification

×

Iklan

Iklan

Mencari Saham yang Tetap Kuat Saat IHSG Masuk Downtrend

Kamis, 13 Agustus 2026 | 09:09 WIB
 


Pasbana - Ketika IHSG tertekan, naluri investor biasanya sederhana: menghindari pasar. Namun, bagi trader yang lebih jeli, fase bearish justru bisa menjadi “alat penyaring” untuk menemukan saham dengan kekuatan relatif lebih baik.

Ibarat kapal yang tetap stabil ketika ombak membesar, saham yang mampu mempertahankan struktur harga saat indeks melemah patut masuk radar. Bukan berarti saham tersebut pasti naik, tetapi ada perubahan tekanan beli dan jual yang bisa dibaca melalui EMA, MACD, RSI, serta pola higher low dan higher high.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri menjelaskan bahwa analisis teknikal menggunakan histori pergerakan harga untuk membantu membaca kemungkinan pergerakan harga berikutnya. Namun, pendekatan ini tetap memiliki keterbatasan karena pasar dipengaruhi banyak faktor tak terduga. 

Bagaimana menemukan saham yang relatif kuat?


1. Mulai dari EMA20 dan EMA50
Perhatikan saham yang sebelumnya berada di bawah EMA20 dan EMA50, lalu mulai merebut kembali EMA20.

Sinyalnya menjadi lebih menarik ketika:
  • EMA20 berhenti menurun dan mulai mendatar.
  • EMA20 kemudian berbalik naik.
  • EMA20 mendekati atau menembus EMA50.
  • Harga mampu melakukan retest dan memantul dari EMA20.

Pola tersebut menunjukkan struktur harga mulai bergeser dari tekanan bearish menuju bullish.

2. Periksa perubahan momentum lewat MACD
Breakout harga tanpa dukungan momentum berisiko menjadi false breakout. Karena itu, perhatikan MACD ketika histogram merah mulai memendek, berubah positif, kemudian garis MACD melakukan cross-up terhadap signal.
Sinyal semakin menarik apabila perubahan tersebut terjadi dari area negatif dan bergerak menuju garis nol. Artinya, tekanan jual mulai kehilangan tenaga.
3. Gunakan RSI sebagai konfirmasi
RSI yang sebelumnya tertahan di bawah 50 lalu berhasil menembus 50 dapat menjadi petunjuk bahwa momentum mulai berpihak kepada pembeli.
Namun, jangan menganggap angka 50 sebagai “angka sakti”. Yang lebih penting adalah arah dan struktur momentum.
Saat IHSG bearish, cari relative strength
Kondisi pasar Indonesia pada 2026 menunjukkan betapa pentingnya seleksi saham. OJK mencatat IHSG turun 14,42% secara bulanan dan 18,49% secara year-to-date hingga akhir Maret 2026. Pada Mei 2026, IHSG kembali tercatat melemah 11,92% secara bulanan dan 29,14% secara year-to-date. (OJK)
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan trader sebaiknya bukan sekadar “saham mana yang masih hijau?”, melainkan:
“Saham mana yang tetap membangun struktur bullish ketika IHSG masih bearish?”
Checklist sederhananya:
EMA20 membaik → MACD menguat → RSI tembus 50 → breakout → retest → higher low → higher high.
Saham yang mampu mempertahankan EMA20 ketika indeks melemah menunjukkan relative strength yang patut diperhatikan.
Namun, jangan terpaku pada breakout pertama. Jika harga kembali turun tetapi EMA20 tetap menjadi penahan, RSI bertahan di atas 50 dan MACD tidak kembali melemah, struktur bullish masih relatif sehat.
Sebaliknya, kehilangan EMA20, RSI kembali di bawah 50, dan MACD memburuk merupakan tanda bahwa momentum belum cukup kuat.
Intinya, saham kuat tidak selalu terlihat dari kenaikan harga paling besar. Kadang kekuatannya justru terlihat ketika pasar sedang jatuh tetapi saham tersebut menolak ikut jatuh.
Gunakan analisis teknikal sebagai alat bantu, bukan jaminan keuntungan. OJK juga mengingatkan investor untuk memahami profil risiko, produk, manfaat, biaya, dan risikonya sebelum berinvestasi. 
Jadi, saat IHSG sedang “melawan gravitasi”, jangan buru-buru mencari saham yang paling ramai. Cari saham yang struktur internalnya sudah lebih kuat daripada indeks. Di sanalah peluang biasanya mulai menarik untuk dipelajari lebih lanjut.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update