Notification

×

Iklan

Iklan

"Lado Kutu" Dharmasraya Dipaparkan di Forum Nasional Kemenkes

28 Juli 2026 | 09:54 WIB Last Updated 2026-07-28T02:54:29Z
 


JAKARTA, pasbana– Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, menjadi satu-satunya kepala daerah dari luar Pulau Jawa yang tampil sebagai pembicara dalam sesi Leaders Talk Leimena Conference 2026 di Auditorium BRIN, Jakarta, Senin (27/7). Pada forum yang digelar Kementerian Kesehatan RI itu, Annisa memaparkan strategi penguatan pelayanan kesehatan primer yang diterapkan di Dharmasraya.

Berbagi panggung dengan Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, serta perwakilan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Annisa menegaskan bahwa setiap daerah memiliki tantangan berbeda sehingga kebijakan kesehatan tidak bisa diseragamkan.

Menurutnya, tantangan utama di Dharmasraya meliputi keterbatasan tenaga kesehatan, minimnya dokter spesialis, luasnya wilayah pelayanan, hingga rendahnya literasi kesehatan masyarakat. Karena itu, pemerintah daerah memilih mendekatkan layanan melalui penguatan Puskesmas Pembantu (Pustu).

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah LADO KUTU (Layanan Dokter ke Pustu), yakni program menghadirkan dokter secara berkala ke Pustu agar masyarakat lebih mudah memperoleh pemeriksaan kesehatan dan deteksi dini penyakit.

Annisa juga menekankan pentingnya peran bidan, perawat, dan kader kesehatan sebagai ujung tombak Integrasi Layanan Primer (ILP). Mereka aktif melakukan edukasi, skrining, dan pendampingan langsung ke rumah-rumah warga untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan.

Dalam upaya menekan angka stunting, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mengintegrasikan bantuan makanan bergizi bagi ibu hamil dengan pemeriksaan rutin di Posyandu. Kebijakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemantauan kesehatan ibu dan anak sekaligus mempercepat deteksi dini risiko stunting.

Selain itu, Annisa mendorong pemerintah pusat mempercepat integrasi sistem informasi kesehatan agar pencatatan layanan lebih efisien dan tidak membebani tenaga kesehatan, terutama di daerah yang masih memiliki keterbatasan akses internet.

Menutup paparannya, Annisa berharap daerah dengan sumber daya terbatas mendapat dukungan lebih besar dari pemerintah pusat agar transformasi layanan kesehatan primer dapat berlangsung merata di seluruh Indonesia dan masyarakat memperoleh akses layanan kesehatan yang setara.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update