
DHARMASRAYA, pasbana — Masa depan perekonomian Dharmasraya dinilai semakin bertumpu pada sektor pertanian. Tak lagi sekadar mengejar peningkatan produksi, daerah ini mulai mengarahkan pembangunan menuju ekosistem pertanian yang lebih modern, efisien, dan mampu memberikan nilai tambah bagi petani.
Fondasi tersebut dibangun dari sejarah panjang kawasan transmigrasi yang didukung jaringan Irigasi Batang Hari. Potensi itu terus diperkuat melalui sinergi pemerintah daerah dengan Kementerian Pertanian agar berbagai kebutuhan petani dan penyuluh dapat dipenuhi secara bertahap.
Hingga Juni 2026, Pemerintah Pusat telah menggelontorkan bantuan lebih dari Rp20 miliar melalui Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya. Dukungan tersebut mencakup alat dan mesin pertanian (alsintan), pembangunan irigasi, jalan usaha tani, dam, hingga bantuan benih untuk meningkatkan produktivitas lahan dan hasil panen gabah.
Namun, dalam perspektif ekonomi pertanian, kenaikan produksi hanya menjadi separuh dari pekerjaan rumah. Faktor yang menentukan kesejahteraan petani adalah kepastian pasar serta harga jual yang layak. Karena itu, pembangunan gudang Bulog di Dharmasraya yang dijadwalkan dimulai tahun ini menjadi langkah strategis.
Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan memperpendek rantai distribusi sekaligus menjamin penyerapan gabah petani dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) minimal Rp6.500 per kilogram.
Transformasi juga diarahkan pada hilirisasi. Pemerintah mendorong pembangunan Rice Milling Unit (RMU) modern serta pengurusan Indikasi Geografis agar beras Dharmasraya memiliki identitas, kualitas premium, dan daya saing lebih tinggi di pasar.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai jual tanpa menggeser peran penggilingan padi konvensional yang selama ini menjadi bagian penting dalam ekosistem pertanian daerah.
Secara ekonomi, strategi tersebut menunjukkan pergeseran dari orientasi kuantitas produksi menuju peningkatan nilai tambah. Ketika produktivitas, infrastruktur, kepastian pasar, dan kualitas produk berjalan beriringan, pertanian bukan hanya menjadi sektor penyedia pangan, tetapi juga motor pertumbuhan ekonomi daerah.
Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh program berjalan tepat sasaran sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para petani sebagai tulang punggung ketahanan pangan Dharmasraya.(*)



