Pasbana - Jengkol atau di Sumbar dikenal dengan nama Jariang, mungkin lebih sering hadir di meja makan sebagai lauk yang sederhana. Namun, di tangan Ilham, pangan khas yang aromanya begitu kuat itu justru membuka pintu menuju pasar internasional.
Ceritanya bermula dari sebuah perjalanan ke Jepang pada 2017, ketika ia membawa jengkol segar sebagai oleh-oleh untuk kerabat.
Tak disangka, jengkol yang dibawanya memancing minat diaspora Indonesia di Jepang. Dari situlah muncul sebuah pertanyaan sederhana: jika permintaannya ada, mengapa jengkol Sumatera Barat tidak dikirim secara resmi ke sana?
Pertanyaan itu kemudian berubah menjadi perjalanan panjang. Ilham mulai mencari informasi mengenai persyaratan ekspor, mengikuti seminar, diskusi, hingga pelatihan yang digelar pemerintah. Ia ingin memahami bukan sekadar bagaimana menjual jengkol, tetapi bagaimana memastikan komoditas itu memenuhi standar negara tujuan.
Pada 27 Januari 2021, upaya tersebut diwujudkan melalui pendirian CV Amanah Murasakih. Ilham kemudian berkoordinasi dengan Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat untuk memahami ketentuan kesehatan tumbuhan, kualitas produk, pemeriksaan, hingga dokumen ekspor.
“Setiap proses ekspor harus ada aturan, tidak bisa sembarangan,” ujar Ilham dalam Webseries Go Ekspor Barantin #6, Rabu (19/8/2026).
Perjalanan itu memperlihatkan satu hal penting: komoditas lokal tidak otomatis menjadi komoditas global. Ada standar yang harus dipenuhi, termasuk pemeriksaan kesehatan tumbuhan dan penerbitan Phytosanitary Certificate.
Data Balai Karantina mencatat, ekspor jengkol Sumatera Barat pada 2024 mencapai 4.045,92 kilogram dari 25 sertifikat dengan nilai Rp323,67 juta. Pada 2025, volumenya 3.534 kilogram dengan nilai Rp282,72 juta dari sembilan sertifikat. Hingga Agustus 2026, tercatat 767 kilogram melalui empat sertifikat senilai Rp61,63 juta.
Angka itu memang belum besar. Namun, ia menunjukkan bahwa jengkol tidak harus berhenti sebagai komoditas konsumsi lokal.
Kepala Balai Karantina Sumbar RM Ende Dezeanto menilai pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa produk pertanian rakyat memiliki peluang menembus pasar dunia selama persyaratan negara tujuan dipenuhi.
Bagi pelaku UMKM yang ingin mengikuti jejak Ilham, langkah pertama bukan mencari pembeli ke luar negeri, melainkan memahami standar pasar tujuan. Layanan Klinik Ekspor Karantina dapat menjadi pintu masuk untuk berkonsultasi mengenai kualitas, keamanan, dokumen, pemeriksaan hingga sertifikasi.
Sebab, jalan menuju pasar global terkadang memang dimulai dari sesuatu yang sederhana: sebuah oleh-oleh, sebuah pertanyaan, lalu keberanian untuk mencoba. Jengkol Sumatera Barat telah menunjukkan bahwa aroma khas dari dapur lokal pun bisa membawa nama daerah hingga ke mancanegara.
Kini tantangannya adalah menjaga kualitas, memperkuat pasokan, dan menjadikan peluang ekspor ini sebagai ekosistem usaha yang berkelanjutan. Makin tahu Indonesia. (*)




