Oleh: Edy Suisno, S.Sn., M.Sn *)
Pasbana - Perubahan teknologi audiovisual dalam beberapa tahun terakhir berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan sebagian komunitas seni untuk mengikutinya. Kamera berkembang, kualitas gambar meningkat, perangkat penyuntingan semakin canggih, sementara livestreaming telah menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat dalam berbagai kegiatan.
Pertunjukan seni, seminar, kegiatan pendidikan, agenda pemerintahan hingga aktivitas sosial kini dapat disiarkan secara langsung kepada publik. Perubahan ini membuka peluang ekonomi baru, tetapi pada saat yang sama memperlihatkan persoalan yang cukup nyata: tidak semua komunitas seni memiliki akses yang sama terhadap teknologi, pengetahuan produksi, sistem kerja, dan pemasaran digital.
Di Sumatera Barat, persoalan tersebut memiliki dimensi yang lebih luas. Teknologi audiovisual bukan hanya berkaitan dengan industri kreatif atau kebutuhan jasa dokumentasi. Kamera, suara, editing dan media digital juga berhubungan dengan cara masyarakat menyimpan ingatan tentang dirinya.
Tradisi, seni pertunjukan, aktivitas adat, sejarah lokal, cerita masyarakat, hingga perubahan sosial membutuhkan dokumentasi agar tidak selesai bersama berakhirnya suatu peristiwa. Karena itu, penguatan kemampuan audiovisual di tingkat komunitas sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang kualitas produksi, tetapi juga tentang siapa yang memiliki kemampuan untuk merekam, mengarsipkan, dan menceritakan kehidupan masyarakat melalui media.
Dalam situasi inilah Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang dilaksanakan tim dosen dan mahasiswa Program Studi Televisi dan Film Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang bersama Komunitas Seni Legaran Sati menjadi menarik.
Legaran Sati bukan komunitas yang baru mengenal dunia audiovisual. Sejak berdiri pada 2014, komunitas ini telah bergerak dalam produksi film dokumenter, video profil, serta dokumentasi berbagai kegiatan sosial dan budaya. Mereka juga memiliki pengalaman mendampingi siswa dalam produksi karya film.
Legaran Sati memiliki enam anggota tetap dengan kemampuan di bidang penyutradaraan, tata kamera dan cahaya, tata suara, serta editing. Dua anggotanya merupakan lulusan Program Studi Televisi dan Film, sedangkan anggota lainnya tumbuh melalui pengalaman praktik yang cukup panjang.
Artinya, persoalan yang dihadapi Legaran Sati sejak awal bukan ketiadaan kemampuan sumber daya manusia. Mereka memiliki pengalaman, keterampilan, dan hubungan dengan masyarakat. Persoalannya justru terletak pada ketimpangan antara kemampuan tersebut dengan fasilitas dan sistem kerja yang tersedia. Sebelum program berjalan, komunitas ini memiliki peralatan yang sangat terbatas dan sudah tidak relevan dengan perkembangan teknologi saat ini.
Komputer editing yang tersedia tidak lagi memadai untuk mengolah data audiovisual dengan tuntutan kualitas yang semakin tinggi. Dalam pekerjaan tertentu, Legaran Sati masih harus menyewa perangkat dari pihak lain. Kondisi tersebut menaikkan biaya produksi sekaligus membatasi ruang anggota untuk melakukan latihan, eksperimen dan pengembangan layanan secara mandiri.
Di sinilah sebuah program pemberdayaan perlu dibaca lebih jauh daripada sekadar persoalan bantuan peralatan. Kamera baru tentu penting, begitu pula komputer editing atau perangkat livestreaming. Namun teknologi yang hanya berhenti sebagai inventaris tidak akan banyak mengubah keadaan.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah teknologi tersebut membuat komunitas semakin mampu bekerja, apakah pengetahuan anggotanya berkembang, apakah sistem produksinya menjadi lebih baik, dan apakah pada akhirnya masyarakat ikut memperoleh manfaat dari perubahan itu.
Dari Bantuan Teknologi ke Peningkatan Kapasitas
Program PISN bersama Komunitas Legaran Sati dirancang untuk membenahi persoalan tersebut. Penguatan tidak hanya dilakukan melalui pengadaan teknologi produksi audiovisual, tetapi juga melalui peningkatan keterampilan teknis dan manajerial anggota, pengembangan kemampuan livestreaming, penyusunan SOP produksi, penguatan branding dan pemasaran digital, pengembangan identitas komunitas, serta perluasan jejaring kerja. Dengan pendekatan ini, peralatan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari proses perubahan yang lebih luas.
Teknologi yang diperkenalkan mencakup perangkat yang relevan dengan kebutuhan produksi audiovisual saat ini, termasuk kamera mirrorless, kamera, perangkat switching untuk livestreaming, audio interface, perangkat pencahayaan studio, serta komputer editing yang lebih memadai. Rangkaian teknologi tersebut memungkinkan Komunitas Seni Legaran Sati mengembangkan produksi yang sebelumnya lebih sulit dilakukan secara mandiri, terutama sistem multicamera dan livestreaming.
Dampak paling mendasar dari tersedianya teknologi bukan sekadar gambar menjadi lebih tajam atau proses editing menjadi lebih cepat. Yang lebih penting adalah munculnya ruang belajar yang lebih luas. Ketika komunitas memiliki perangkat sendiri, anggota dapat berlatih tanpa selalu menghitung biaya sewa. Mereka dapat mencoba berbagai konfigurasi kamera, melakukan simulasi siaran langsung, menguji pencahayaan, mempelajari pengelolaan suara, serta mengulang praktik ketika terjadi kesalahan. Dari sinilah penguasaan teknologi tumbuh: bukan karena seseorang pernah mengikuti pelatihan satu kali, tetapi karena teknologi dapat digunakan berulang kali dalam pekerjaan nyata.
Pengembangan livestreaming menjadi salah satu contoh paling jelas. Kebutuhan siaran langsung sekarang hadir hampir di semua bidang, mulai dari pertunjukan seni dan budaya, kegiatan pendidikan, seminar, acara pemerintahan hingga berbagai aktivitas masyarakat. Bagi Legaran Sati, kemampuan ini membuka jenis layanan yang sebelumnya belum dapat dikembangkan secara optimal.
Namun livestreaming juga menuntut disiplin produksi yang lebih tinggi karena kamera, audio, switching, jaringan internet, monitoring dan distribusi harus berjalan hampir bersamaan. Kesalahan yang dalam produksi film dapat diperbaiki melalui editing, dalam siaran langsung harus diatasi saat itu juga.
Karena itu, program tidak berhenti pada kemampuan menghidupkan perangkat. Anggota perlu memahami hubungan antarperangkat sekaligus pembagian kerja dalam tim. Mereka juga perlu membangun kemampuan mengambil keputusan dalam situasi produksi yang berlangsung cepat. Pada titik inilah teknologi bertemu dengan persoalan manajemen.
Membangun Sistem, Bukan Sekadar Menguasai Alat
Sebelum program berlangsung, pola produksi Legaran Sati banyak berkembang dari pengalaman dan kebiasaan anggota. Cara kerja seperti ini lazim ditemukan dalam komunitas kreatif. Seseorang dapat berpindah tugas sesuai kebutuhan, keputusan sering diambil melalui komunikasi langsung, dan masalah diselesaikan berdasarkan pengalaman orang yang paling memahami situasi. Pola tersebut memberikan keluwesan, tetapi mulai menghadapi keterbatasan ketika jumlah pekerjaan bertambah, perangkat semakin banyak atau produksi melibatkan lebih banyak kru.
Pertanyaan mengenai siapa yang bertanggung jawab pada kamera, siapa yang memeriksa baterai, bagaimana media penyimpanan disiapkan, bagaimana file diberi nama, di mana data utama disimpan, siapa membuat cadangan, hingga bagaimana peralatan diperiksa setelah produksi terlihat seperti persoalan kecil. Padahal profesionalitas produksi justru banyak dibangun melalui detail semacam itu. Pengalaman kreatif membutuhkan sistem agar dapat diwariskan dan digunakan bersama.
Karena itu, program PISN juga mendorong penyusunan dan penerapan SOP produksi yang mencakup pra-produksi, produksi, pascaproduksi, distribusi hingga dokumentasi dan pengarsipan. SOP tersebut bukan dimaksudkan untuk membuat komunitas kreatif kehilangan fleksibilitas, tetapi untuk memastikan pengalaman kerja tidak hanya tersimpan di kepala masing-masing anggota. Ketika pengalaman dapat diterjemahkan menjadi sistem yang dipahami bersama, sebuah komunitas mulai membangun pengetahuan organisasinya sendiri.
Dampaknya penting bagi keberlanjutan. Ketika anggota baru bergabung, mereka memiliki acuan. Ketika jumlah pekerjaan meningkat, pembagian peran lebih mudah dilakukan. Ketika produksi selesai, data tidak tercecer dan perangkat dapat dikelola dengan lebih tertib. Dengan kata lain, program perlahan menggeser basis kerja dari sekadar “orang-orang yang sudah terbiasa bekerja bersama” menuju komunitas yang memiliki kemampuan untuk mengelola produksi secara lebih profesional tanpa kehilangan karakter kolektifnya.
ISI Padangpanjang dan Makna Diktisaintek Berdampak
Pengalaman bersama Legaran Sati sekaligus membawa pembicaraan kepada persoalan yang lebih besar: apa arti perguruan tinggi yang berdampak bagi masyarakat? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong paradigma Diktisaintek Berdampak, yakni orientasi pendidikan tinggi yang tidak berhenti pada capaian internal perguruan tinggi, tetapi mendorong pengetahuan, teknologi, penelitian dan pengabdian agar memiliki manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
Bagi perguruan tinggi seni, gagasan tersebut seharusnya memiliki tafsir yang sangat luas. Dampak perguruan tinggi seni tidak hanya dapat dibaca dari jumlah lulusan, karya, pertunjukan, penelitian, atau prestasi yang dihasilkan di lingkungan kampus. Ukuran lain yang tidak kalah penting adalah sejauh mana pengetahuan tentang seni, film, televisi, desain, fotografi, tari, musik, teater dan media dapat ikut menyelesaikan persoalan yang hidup di tengah masyarakat.
Pelaksanaan program PISN bersama Legaran Sati memperlihatkan salah satu bentuk konkret dari gagasan tersebut. Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Televisi dan Film ISI Padangpanjang tidak hanya hadir sebagai pemberi materi. Program dirancang melalui pemetaan kebutuhan, pelatihan, praktik produksi, penerapan teknologi, pendampingan serta evaluasi bersama komunitas.
Materi yang diberikan mencakup literasi media, etika produksi konten budaya, teknik produksi dokumenter, pengoperasian peralatan livestreaming, sistem kerja produksi hingga manajemen pemasaran digital. Mahasiswa juga terlibat sebagai fasilitator sekaligus co-learner, sehingga proses belajar tidak berjalan satu arah.
Di sinilah posisi ISI Padangpanjang menjadi penting. Perguruan tinggi membawa pengetahuan akademik, teknologi, metodologi dan pengalaman penciptaan, sementara Legaran Sati membawa pengalaman lapangan, jaringan sosial, pemahaman terhadap karakter masyarakat dan praktik produksi yang telah tumbuh selama bertahun-tahun.
Pertemuan keduanya menghasilkan ruang belajar yang tidak dapat sepenuhnya ditemukan di dalam kelas maupun studio.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut juga memiliki nilai pendidikan yang kuat. Dunia produksi nyata sering kali jauh lebih tidak terduga daripada simulasi akademik. Kondisi lokasi berubah, jaringan internet tidak selalu stabil, perangkat harus menyesuaikan ruangan, kebutuhan pengguna dapat berubah, sementara keputusan teknis harus dibuat dengan cepat. Ketika mahasiswa terlibat dalam situasi seperti ini, mereka belajar bahwa kemampuan audiovisual bukan hanya persoalan menguasai kamera atau editing, tetapi juga memahami manusia, bekerja dalam keterbatasan, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah secara langsung.
Sementara bagi masyarakat dan komunitas, kedekatan dengan perguruan tinggi membuka akses kepada perkembangan teknologi dan pengetahuan yang mungkin sulit diperoleh secara mandiri. Hubungan semacam ini sebenarnya merupakan salah satu bentuk paling nyata dari Diktisaintek Berdampak: pengetahuan bergerak dari kampus, bertemu pengalaman masyarakat, lalu menghasilkan kapasitas baru yang dapat terus digunakan setelah program selesai.
Ketika Kamera Menjadi Bagian dari Pelestarian Budaya
Dampak program menjadi lebih luas ketika kemampuan produksi Legaran Sati dikaitkan dengan karakter Sumatera Barat sebagai ruang kebudayaan. Daerah ini memiliki kekayaan tradisi, seni pertunjukan, adat, sejarah lokal, kuliner, cerita masyarakat, dan berbagai praktik budaya yang terus berubah bersama waktu. Tidak semuanya terdokumentasi dengan baik. Sebagian hidup melalui ingatan orang-orang yang mengalaminya, dan ketika generasi berganti, sebagian pengetahuan tersebut berisiko ikut menghilang.
Pada titik ini, keberadaan komunitas audiovisual lokal memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar penyedia jasa video. Mereka tinggal dekat dengan masyarakat, mengenal lingkungan sosial, memahami peristiwa lokal dan memiliki akses kepada berbagai aktivitas budaya. Jika kemampuan produksinya semakin kuat, komunitas seperti Legaran Sati dapat menjadi salah satu simpul penting dalam membangun arsip audiovisual masyarakat.
Dokumentasi memang tidak dapat menggantikan pengalaman budaya secara langsung.
Menonton rekaman sebuah pertunjukan tentu berbeda dengan hadir di tengah pertunjukan itu sendiri. Namun dokumentasi memungkinkan sebuah peristiwa bertahan melampaui waktu berlangsungnya. Rekaman dapat dipelajari kembali, digunakan sebagai bahan pendidikan, menjadi sumber penelitian, diperkenalkan kepada generasi muda, atau dibagikan melalui ruang digital kepada masyarakat yang berada jauh dari lokasi.
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: representasi. Selama ini banyak komunitas lokal lebih sering menjadi objek yang direkam oleh orang lain. Kamera datang dari luar, mengambil gambar, membuat cerita, kemudian pergi. Ketika kemampuan audiovisual tumbuh di tingkat komunitas, situasinya dapat berubah. Masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk menentukan cerita apa yang penting, perspektif apa yang ingin disampaikan, serta bagaimana mereka ingin memperlihatkan kebudayaannya kepada publik.
Dengan demikian, penguatan Legaran Sati juga dapat dibaca sebagai penguatan kemampuan masyarakat untuk menceritakan dirinya sendiri.
Pengetahuan yang Tumbuh Bersama Masyarakat
Dampak sosial program juga dapat berkembang melalui proses transfer pengetahuan. Legaran Sati sebelumnya telah memiliki pengalaman mendampingi siswa dan masyarakat dalam produksi audiovisual. Ketika kemampuan anggota semakin kuat, potensi berbagi pengetahuan kepada generasi muda juga semakin besar. Seorang siswa yang pada awalnya hanya tertarik belajar kamera dapat berkembang memahami pencahayaan, suara, editing dan cara membangun cerita. Pada tahap berikutnya, kamera tersebut dapat digunakan untuk melihat lingkungan terdekatnya sendiri.
Ia dapat merekam cerita orang tua, membuat dokumentasi kesenian di kampung, merekam aktivitas masyarakat, atau menceritakan perubahan sosial yang terjadi di sekitarnya.
Dalam situasi semacam itu, literasi media tidak lagi berarti kemampuan menggunakan perangkat semata. Ia berkembang menjadi kemampuan membaca lingkungan, membangun cerita, dan menyampaikan pengalaman masyarakat melalui bahasa audiovisual.
Dampak seperti inilah yang sering kali tidak segera terlihat dalam laporan kegiatan. Ia membutuhkan waktu. Namun ketika sebuah komunitas memiliki perangkat, pengetahuan dan sistem kerja yang lebih baik, manfaatnya dapat bergerak dari satu anggota kepada anggota lain, kemudian kepada siswa, seniman, komunitas lain dan masyarakat yang menggunakan layanan mereka.
Di sinilah teknologi berubah menjadi investasi sosial. Nilai sebuah kamera bukan hanya harga pembeliannya, tetapi berapa banyak karya yang dapat lahir darinya. Nilai komputer editing bukan hanya spesifikasinya, tetapi berapa banyak dokumenter, video promosi, karya siswa, dan arsip budaya yang dapat dikerjakan. Nilai perangkat livestreaming bukan hanya kemampuan melakukan siaran, tetapi berapa banyak kegiatan masyarakat yang dapat menjangkau audiens lebih luas.
Kreativitas juga Harus Berkelanjutan secara Ekonomi
Namun komunitas kreatif tidak dapat hidup hanya dengan idealisme kebudayaan. Peralatan membutuhkan perawatan, anggota membutuhkan penghasilan, produksi membutuhkan biaya, dan teknologi terus berkembang. Karena itu, penguatan branding, pemasaran digital, portofolio serta jejaring menjadi bagian penting dalam PISN.
Legaran Sati selama ini telah memiliki berbagai karya, tetapi karya tersebut belum sepenuhnya dikelola sebagai portofolio yang mendukung keberlanjutan. Padahal dokumenter, video profil, dokumentasi kegiatan maupun livestreaming dapat menjadi bukti kemampuan yang mempertemukan komunitas dengan calon pengguna jasa. Media digital seharusnya tidak hanya menjadi tempat mengunggah aktivitas, tetapi menjadi ruang untuk memperlihatkan karakter, kualitas produksi, pengalaman kerja serta layanan yang dapat diberikan.
Jika penguatan tersebut berjalan konsisten, peluang ekonomi dapat berkembang dari lingkungan yang sangat dekat. Sekolah membutuhkan dokumentasi kegiatan, komunitas seni membutuhkan rekaman pertunjukan, pemerintah membutuhkan produksi audiovisual untuk agenda publik, UMKM membutuhkan video promosi, sementara nagari membutuhkan media untuk memperkenalkan potensi budaya dan wilayahnya. Dengan demikian, ekonomi kreatif tidak harus selalu lahir dari industri berskala besar. Ia juga dapat tumbuh dari komunitas yang memiliki kemampuan teknis, jaringan sosial dan identitas yang kuat.
Hal inilah yang membuat aspek ekonomi dan kebudayaan tidak perlu dipertentangkan. Komunitas yang memiliki keberlanjutan ekonomi justru mempunyai kemungkinan lebih besar untuk terus melakukan dokumentasi, pembelajaran, dan kegiatan kreatif. Sebaliknya, identitas yang kuat dalam dokumentasi sosial dan budaya dapat menjadi ciri yang membuat Legaran Sati berbeda di tengah persaingan jasa audiovisual.
Ukuran Sebenarnya Baru Terlihat Setelah Program Selesai
Barangkali tantangan terbesar setiap program pemberdayaan bukan bagaimana memulainya, tetapi bagaimana memastikan dampaknya tetap hidup setelah pendampingan berakhir. Peralatan dapat diberikan, pelatihan dapat selesai, dokumentasi kegiatan dapat dikumpulkan dan laporan dapat disusun. Namun keberhasilan sesungguhnya baru akan terlihat beberapa waktu kemudian: apakah perangkat terus digunakan, apakah anggota semakin mandiri, apakah SOP menjadi kebiasaan kerja, apakah livestreaming berkembang menjadi layanan baru, apakah media digital semakin aktif, apakah jejaring bertambah, dan apakah masyarakat memperoleh manfaat dari peningkatan kemampuan komunitas.
Di sinilah narasi Diktisaintek Berdampak memperoleh arti yang lebih konkret. Dampak tidak seharusnya hanya menjadi istilah baru dalam dokumen kebijakan. Dampak harus dapat dikenali melalui perubahan. Ia dapat berupa seseorang yang kini mampu mengoperasikan teknologi secara mandiri, komunitas yang tidak lagi terlalu bergantung pada penyewaan alat, proses kerja yang lebih tertib, peluang ekonomi baru, siswa yang memperoleh ruang belajar, atau kegiatan budaya yang kini memiliki dokumentasi lebih baik.
Bagi ISI Padangpanjang, pengalaman bersama Legaran Sati juga memperlihatkan peluang yang jauh lebih besar. Perguruan tinggi ini tumbuh di tengah kawasan yang memiliki ekosistem seni dan budaya sangat kaya. Di sekelilingnya terdapat sanggar, komunitas kreatif, seniman tradisi, pelaku media, perajin, sekolah, nagari dan berbagai kelompok masyarakat dengan pengetahuan yang telah hidup jauh sebelum kampus hadir. Mereka tidak selalu membutuhkan perguruan tinggi untuk mengajari mereka dari awal. Sering kali yang dibutuhkan justru adalah mitra yang dapat membantu memperkuat apa yang sudah ada melalui pengetahuan, teknologi dan jejaring.
Jika pola hubungan semacam ini terus dikembangkan, ISI Padangpanjang dapat memainkan peran yang semakin penting sebagai simpul antara pengetahuan akademik dan kehidupan kebudayaan masyarakat. Kampus menjadi ruang pengembangan metode dan teknologi, sementara masyarakat menjadi ruang tempat pengetahuan tersebut diuji, dikoreksi dan memperoleh fungsi sosial. Pengalaman dari masyarakat kemudian kembali ke ruang akademik sebagai pengetahuan baru yang dapat memperkaya pendidikan, penelitian dan penciptaan seni.
PISN bersama Legaran Sati tentu bukan jawaban untuk seluruh persoalan industri kreatif dan pelestarian budaya di Sumatera Barat. Namun program ini memberi contoh bahwa perubahan dapat dimulai dari hubungan yang konkret: sebuah perguruan tinggi, sebuah komunitas, teknologi yang tepat, pengetahuan yang dibagikan, serta kesediaan untuk belajar bersama.
Pada akhirnya, teknologi tidak menjadi penting hanya karena ia baru atau canggih. Ia menjadi penting ketika membuat manusia mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan.
Bagi Legaran Sati, hal itu berarti bekerja lebih mandiri, memperluas layanan, memperkuat identitas, membuka peluang ekonomi, dan semakin mampu mendokumentasikan kehidupan masyarakat. Bagi ISI Padangpanjang, pengalaman ini memperlihatkan bahwa kekuatan perguruan tinggi seni bukan hanya terletak pada apa yang diciptakan di dalam kampus, melainkan juga pada perubahan yang tumbuh ketika pengetahuan tersebut bergerak keluar dan bekerja bersama masyarakat.
Mungkin di situlah arti paling sederhana sekaligus paling penting dari Diktisaintek Berdampak: ketika masyarakat dapat merasakan bahwa kampus bukan sebuah ruang yang jauh dari kehidupan mereka, tetapi mitra yang hadir, bekerja bersama, dan ikut memperkuat kemampuan mereka untuk menghadapi perubahan zaman.
(*)
*) Edy Suisno, S.Sn., M.Sn. adalah Dosen Televisi dan Film, FSRD, ISI Padangpanjang, Sutradara dan penulis lakon/Skenario.








