Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Batu, Budaya, dan Kehidupan Warga Sijunjung Diuji Dunia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:54 WIB


SIJUNJUNG, pasbana — Di Silokek, batu bukan sekadar batu. Di balik tebing karst, gua, sungai bawah tanah, hingga bongkahan granit, tersimpan cerita panjang tentang bumi sekaligus kehidupan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya.
Cerita itulah yang kini kembali diuji di panggung internasional.

Dua evaluator UNESCO Global Geopark (UGGp) menelusuri sejumlah geosite unggulan Geopark Ranah Minang Silokek, Kabupaten Sijunjung, Selasa (18/8/2026). Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir turut mendampingi kunjungan yang menjadi bagian dari proses evaluasi menuju pengakuan UNESCO Global Geopark.

Penilaian tidak semata-mata melihat keunikan batuan. UNESCO juga menilai bagaimana warisan geologi dikelola bersama konservasi, pendidikan, pariwisata berkelanjutan, budaya, serta pemberdayaan masyarakat. Dalam proses evaluasi, dua evaluator memang ditugaskan melakukan pemeriksaan lapangan secara langsung. 

Di Formasi Kuantan Karst, evaluator melihat batuan gamping yang berusia sekitar 350 juta tahun. Perjalanan berlanjut ke Ngalau Basurek, dengan stalaktit, stalagmit, dan sungai bawah tanah. Ada pula Granit Tipe A Sila yang diperkirakan terbentuk sekitar 176 juta tahun lalu pada era Jura.

Kekayaan itu bukan hanya menjadi bahan penelitian. Bentang alam tersebut berdampingan dengan sawah, perkebunan, permukiman, dan aktivitas ekonomi warga.

Di Desa Wisata Silokek, kekayaan alam bertemu tradisi. Makan bajamba, talempong kayu, produk UMKM, hingga peran Kelompok Sadar Wisata menunjukkan bahwa geopark bukan ruang yang terpisah dari masyarakat.
Kajian ilmiah yang terbit pada 2025 juga menempatkan Ranah Minang Silokek sebagai kawasan dengan keragaman geologi tinggi. Penelitian terhadap 14 geosite menunjukkan sejumlah lokasi memiliki nilai penting untuk pendidikan dan geowisata. 

Jejak sejarah pun ikut berbicara melalui Lokomotif Uap Silukah, sementara pendidikan geopark diperkenalkan sejak sekolah melalui Geopark Corner.
Bagi Benny, pengakuan dunia bukan tujuan akhir.

“Yang lebih penting, status tersebut harus menjadi energi bagi kita untuk terus menjaga alam, melestarikan budaya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”
UNESCO sendiri melakukan evaluasi geopark secara berkala. Untuk kawasan yang telah berstatus UGGp, revalidasi berlangsung setiap empat tahun.

Sementara bagi kawasan yang sedang menuju pengakuan, evaluasi lapangan menjadi bagian penting untuk menilai kesiapan pengelolaan dan keberlanjutannya.

Karena itu, ujian Silokek sesungguhnya bukan hanya tentang mendapatkan nama di peta dunia. Lebih jauh, ini tentang memastikan warisan jutaan tahun itu tetap hidup—dan memberi manfaat bagi masyarakat yang menjaganya.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update